Gelora Remaja dan Demam Rokok Elektrik

Tak cuma dewasa muda, demam rokok elektrik atau vape juga menimpa remaja.  Aghi-bukan nama sebenarnya-tampak puas mengepulkan asap di depan wajahnya. Mulutnya sedikit manyun, menyerupai bentuk O.

Aghi masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Tapi, sehari-harinya dia sudah akrab dengan rokok elektrik.

“Kalau lagi jam sekolah, sih, enggak nge-vape,” katanya saat bertemu dengan CNNIndonesia.com di salah satu kedai di bilangan Jakarta Selatan, Jumat (4/10).

Aghi datang bersama sang kakak, Alika (30), seorang mantan perokok berat yang telah beralih ke rokok elektrik sejak satu tahun lalu. Alika lah yang mulanya menginspirasi Aghi untuk mengenal vape.

Sejak Juli lalu, Aghi resmi menjadi seorang vaper dengan perangkat rokok elektrik yang hampir selalu di tangan.

Izin yang diberikan pada sang adik bukan diputuskan tanpa alasan. Alika merasa sang adik akan lebih aman dengan vape ketimbang rokok konvensional.  “Dia sempat kedapatan merokok. Daripada rokok, ya, lebih baik kasih vape aja,” kata Alika.

Tak cuma dari Alika, Aghi juga telah mengantongi izin dari sang ibu untuk memiliki vape. Izin itu dikantongi dengan syarat adanya kontrol dari Alika yang kebetulan sama-sama menggunakan rokok elektrik.

“Jadi, dia [Aghi] kalau mau beli cairan atau apa pun, ya bareng saya,” kata Tasa.

Aghi hanya satu dari sekian banyak remaja di Indonesia yang tergiur candu rokok elektrik.

Berdasarkan data yang tercatat, prevalensi perokok elektrik pada penduduk berusia 10-18 tahun mengalami kenaikan pesat. Dari 1,2 persen pada 2016 (Sirkesnas 2016) menjadi 10,9 persen pada 2018 (Riskesdas 2018).

Di satu sisi, vape di kalangan remaja bisa terbilang wajar. Masa remaja adalah masa perkembangan dan mencari jati diri.

“Dia [remaja] mencari sana-sini. Ini masa yang sangat krusial,” ujar psikolog klinis Gracia Ivonika pada CNNIndo­nesia.com, Jumat (4/10).

Salah satu yang memenga­ruhinya adalah lingkungan pertemanan. Lingkungan ini lah yang menuntut remaja untuk mencari identitas diri. Salah satunya dengan mengikuti tren yang tengah digilai seperti vape.

“Mereka mencari penilaian dari lingkungan sosialnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Ivon ini. Ingin dianggap keren, ingin melakukan apa yang dilakukan temannya, dan sederet hal lainnya menjadi nilai yang dikejar para remaja.

Izin yang diberikan orang tua terhadap anak, seperti izin memiliki vape untuk Lodaya, juga menjadi hal yang bisa dimaklumi. Pada masa ini, remaja memang tak bisa dikekang.

“Mungkin banyak orang tua yang berpikir, daripada anaknya sembunyi-sembunyi nge-vape, ya mending dikasih izin aja sekalian biar mereka tahu dan bisa mengontrol,” jelas Ivon yang merupakan psikolog di Personal Growth ini.

Hampir senada, pengamat sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rachmawati mengatakan bahwa jati diri yang belum lengkap membuat remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Wajar rasanya jika banyak remaja yang tergiur pada tren rokok elektrik yang tengah naik daun.

“Belum lagi iklan rokok yang masih marak beredar,” kata Devie saat dihubungi CNNIndone­sia.com, Sabtu (5/10). Iklan rokok, lanjut dia, menciptakan ilusi tentang sosok keren, gagah, dan digilai banyak orang.

Devie membandingkannya dengan kebijakan pelarangan iklan produk rokok yang diterapkan di Amerika Serikat.

“Kenapa [iklan rokok dilarang]? Karena sosok keren, gaul yang ditampilkan dalam iklan adalah sosok seorang perokok,” kata Devie. Hal itu secara tidak langsung akan memengaruhi pola pikir remaja di masa-masa labilnya.

Iklan rokok yang terus ditampilkan, lanjut Devie, juga akan berujung pada pembiasaan. Artinya, seorang remaja akan menganggap bahwa merokok adalah hal lumrah di tengah masyarakat. “Ya, dia juga merokok, kenapa gue enggak,” kata Devie menganalogikan pola pikir yang terbentuk di kalangan remaja.

Mengubah Fungsi Otak Remaja

Penggunaan vape pada usia anak dan remaja dapat berakibat fatal karena merusak fungsi otak.

Dokter spesialis anak Catharine Mayung Sambo menjelaskan vape pada anak-anak dan remaja dapat merusak fungsi otak.

“Perkembangan otak terutama bagian depan yang berperan dalam kebijakan, perilaku, dan kecerdasan terus berkembang sampai usia 25 tahun. Bagian ini sangat rentan terhadap nikotin,” ujar dokter spesialis anak, Catherine Mayung Sambo, beberapa waktu lalu.

Dalam waktu tujuh detik saja, nikotin yang diisap melalui vape dapat dengan cepat menuju otak dan mengubahnya dengan singkat.

Akibatnya, fungsi otak untuk mengatur perilaku dan kecerdasan akan berkurang. Anak dan remaja akan sulit menentukan pilihan, membuat keputusan, menimbang baik dan buruk. Anak juga rentan terhadap perilaku yang menyimpang. Kecerdasan dan pola pikir anak juga berkurang drastis.

Perubahan yang sudah terjadi pada otak ini tidak dapat diperbaiki dengan cara apapun.

“Pengaruh vape terhadap otak lebih buruk pada anak-anak dan remaja daripada orang yang berusia di atas 26 tahun. Perubahan itu bersifat menetap, selamanya,” tutur Catharine. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *