AMBON, Siwalimanews – Angin kencang dan gelombang tinggi sejak Senin (6/12) malam hingga Selasa (7/12) pagi me­nghantam puluhan  rumah warga di tepi pantai Batu Merah, Ke­camatan Sirimau, Kota Ambon.

Pantauan Siwalima di lapa­ngan, tercatat 10 rumah hancur dan 10 rumah warga lainnya hanyut terbawah derasnya arus ge­lombang laut itu.

Azha salah satu warga yang rumahnya hancur dihantam ombak kepada Siwalima di lokasi keja­dian mengungkapkan, saat keja­dian ombak besar menghantam rumahnya saat itu ia sementara beristirahat.

“Waktu ombak hantam, beta kaget dan beta langsung bagara evakuasi barang-barang saja, sedangkan barang-barang salon semua hanyut terbawa ombak,” ucap Asha dengan dialeg Ambon.

Korban lainnya HJ Maryam juga mengaku sedih, sebab ia tak sempat mengevakuasi barang-barang miliknya.

Baca Juga: Bantu UMKM di Malteng, PLN Hadirkan KruPIKK

“Beta pung  etalase 4 , televisi, Lemari pendingin hilang samua dibawah ombak, sebab  saat beta lihat ombak kuat, beta seng berani ambel apa-apa lai,” ucapnya.

Menurutnya, walaupun barang-barangnya tak dapat diselamatkan, bahkan kerugiannya mencapai belasan juta rupiah, namun yang terpenting dirinya  dan suami selamat dari  bencana ini.

Sementara itu korban  lainnya Dewi mengaku, saat ini mereka sangat mengharapkan bantuan dari Pemkot Ambon untuk memberikan bantuan minimal sebuah terpal.

“Kita sangat berharap Pemot Ambon dan Pemdes Batu Merah dapat membantu kita di saat kondisi yang kita rasakan seperti sekarang ini,” harapnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga dikawasan itu masih melakukan evakuasi barang-barang milik mereka ke tempat yang lebih aman.

Bukan Tanggung Jawab Pemkot

Di Tempat berbeda, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Demmy Paays mengungkapkan, Pemerintah Kota Ambon tidak bertanggng jawab dengan kondisi bencana gelombang laut yang menimpah lapak di warga Batu Merah.

Pasalnya, lapak tempat berjualan warga itu diperluas sampai ke laut oleh para pedagang sebagai rumah tinggal  dan diijinkan oleh Pemerintah Negeri Batu Merah.

“Nah, itu sebenarnya pemerintah kota tidak pernah mengijnkan seperti itu. Yang ijinkan itu kan dari Desa Batu Merah. Jadi kalau dari sisi tanggung jawab itu ada di Desa Batu Merah,” ungkap Paays kepada wartawan di halaman parkiran Balai Kota Ambon, Selasa  (7/12).

Dikatakan, pajak dan retribusi dimasukkan ke kas negeri sehingga apabila kejadian seperti ini terjadi, bukan menjadi tanggung jawabnya. Pemerintah.

“Bagaimana pemerintah kota mau tanggung jawab itu?. Pemerintah Kota tidak pernah menerima pajak dan retribusi dari situ. Itu stor ke kas desa itu. Itu desa yang tanggung jawab,” tegasnya.

BMKG Ingatan Waspada

Sementara itu, Suaif Iriyanto Prokester Stasiun Meteorologi Maritim menghimbau masyarakat untuk waspada mengungkapkan gelombang tinggi air laut saat ini karena adanya peralihan musim timur ke musim barat jadi hembusan angin cukup tinggi.

“Untuk sekarang ini di Maluku sedang terjadi peralihan musim timur ke musim barat, jadi hembusan angin cukup tinggi,” tandasnya kepada Siwalima melalui telepon seluler Selasa (7/12).

Suaif menjelaskan, untuk pasang tertinggi maksimum di Ambon dari tanggal 2 hingga 9 Desember.

“Jadi Pasang tertinggi air naik dan diikuti  oleh angin yang cukup kencang mengakibatkan terjadi Tinggi gelombang,”ucapnya.

Dikatakan, ,untuk wilayah Ambon masuk kategori sedang 1,25-2.50.

Jadi tingginya 1,25-2.50 karena gelombang sudah tinggi dan diikuti angin kencang pasangnya akan makin tinggi. Olehnya itu, BMKG menghimbau masyarakat untuk tetap  waspada jangan sampai terjadinya banjir rob. (S-51/S-52)