Menuntut Keseriusan Kejati Maluku

Homepage Forum Menuntut Keseriusan Kejati Maluku

  • This topic is empty.
Melihat 1 tulisan (dari total 1)
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #9358 Reply
    Siwalimanews
    Keymaster

    Sudah dua tahun lebih tiga terpidana kasus korupsi di Bank Maluku Malut masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), dan belum juga berhasil ditangkap oleh Kejati Maluku.  Mereka adalah Direktur Utama CV Harves Heintje Abraham Toisuta, mantan Kepala Devisi Renstra dan Korsec Bank Maluku Petro Tentua, dan Direktur PT Nusa Ina Pratama, Yusuf Rumatoras.

    Yusuf Rumatoras merupakan terpidana kasus kredit macet Bank Maluku tahun 2006 senilai Rp 4 miliar. Ia dihukum 5 tahun penjara oleh Mahkamah Agung, dan hingga kini menghirup udara bebas. Sementara tiga terpidana lainnya mendekam di penjara. Mereka adalah Eric Matitaputty dan Markus Fangohoy, dua analis kredit dan treasury Bank Maluku Malut dan mantan Kepala Cabang Utama Bank Maluku Matheus Adrianus Matitaputty alias Buce.

    Eric Matitaputty diganjar hukuman penjara 7 tahun, denda Rp 500 juta, subsider 8 bulan penjara, Markus Fangohoy diganjar 8 tahun penjara, denda Rp 500 juta, subsider 8 bulan penjara, dan Buce Matitaputty dijatuhi hukuman pidana penjara selama 8 tahun, denda Rp 500 juta subsider 8 bulan penjara.

    Sedangkan Heintje Abraham Toisuta dan Petro Tentua, adalah terpidana korupsi dan TPPU pembelian lahan dan bangunan bagi pembukaan Kantor Cabang Bank Maluku dan Maluku Utara di Surabaya tahun 2014, yang merugikan negara Rp 7,6 miliar. Heintje dihukum 12 tahun penjara, membayar denda Rp 800 juta subsider tujuh bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 7,2 miliar subsider 4 tahun penjara. Sedangkan Petro dihukum 6 tahun penjara, dan membayar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

    Sementara mantan Direktur Bank Maluku, Idris Rolobessy dihukum 10 tahun penjara, membayar denda Rp 500 juta subsider tujuh bulan kurungan dan uang pengganti senilai Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan. Idris sudah dieksekusi ke Lapas Klas IIA Ambon sejak awal Agustus tahun 2017.

    Korps Adhyaksa tak serius untuk memburu para koruptor yang masuk DPO. Terkesan dibiarkan bebas. Kalau saja Kejati Maluku serius pasti para koruptor tersebut sudah diringkus.

    Korps Adhyaksa mempertontonkan ketidakadilan dalam penegakan hukum. Tidak memperlakukan semua orang sama di mata hukum. Jika hingga kini ketiga terpidana korupsi Bank Maluku belum ditangkap, maka perlu dipertanyakan keseriusan kejaksaan. Apakah benar, ketiga terpidana masuk dalam Media Center Kejagung seperti yang digembar gemborkan?

    Kejati Maluku harus jujur, dan serius untuk memburu para koruptor. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sesuai hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan. Jangan mempraktekkan standar ganda dalam penegakan hukum.

    Alasan Kejati Maluku bahwa ketiga terpidana masih dilacak adalah alasan basi, yang selalu dikemukakan. Tak ada progress. Tak ada hal yang baru. Sampai kapan pelacakan terus dilakukan?

    Kejati Maluku harus adil dalam penegakan hukum. Jangan orang lain mendekam di penjara, sementara ada yang dibiarkan bebas berkeliaran tanpa disentuh.

    Kepala Kejati Maluku, Yudi Handono harus memberikan aksentuasi kepada masalah ini. Jangan dibiarkan, dan hanya menutup mata. Langkah konkrit yang lebih proaktif harus dilakukan untuk meringkus para buronan kasus korupsi. Tunjukan melalui tindakan kalau Kejati Maluku benar-benar serius, bukan sebatas kata-kata. (*)

Melihat 1 tulisan (dari total 1)
Balasan Untuk: Menuntut Keseriusan Kejati Maluku
Informasi Anda: