DPRD Minta Dinkes Intens Sosialisasi

HIV/AIDS Meningkat

AMBON, Siwalimanews – Meningkatnya penyebaran kasus HIV/AIDS di  Maluku menjadi perhatian serius DPRD, lembaga legislatif ini meminta, Dinas Keseha­tan (Dinkes) Provinsi Maluku untuk intens melakukan sosialisasi.

Menurut Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury, untuk menekan penyebaran HIV/AIDS, Dinkes diminta membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang tersebut untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Selain itu, untuk mendapatkan data yang lebih konkrit penyebaran HIV/AIDS tersebut, maka peranan lembaga-lembaga swadaya masyarakat  tersebut sangatlah penting.

“Untuk mengurangi angka kasus HIV/AIDS di Maluku, saya kira Dinkes harus melakukan kerja sama dengan LSM, karena dengan begitu sosialisasi kepada para penderita dan mendeteksi mereka sangatlah mudah,” jelas Wattimury kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Minggu (29/9).

Menurutnya, berdasarkan data yang dilihat selama ini yang selalu aktif melakukan pendampingan hingga sosialisasi kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), ha­nya­lah mereka dari LSM, sehingga peran LSM juga sangat dibutuhkan.

Dikatakan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam melakukan sosialisasi tersebut, tetapi juga membutuhkan peranan dari LSM-LSM tersebut.

“Pemerintah tak bisa berjalan sendiri, harus bisa menggandeng LSM untuk sama-sama melakukan sosialisasi. Karena setahu saya, selama ini para LSM yang selalu gencar melakukan pendampingan kepada mereka,”ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, data statistik Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menyebutkan, angka kumulatif kasus HIV dan AIDS di Maluku dari tahun 1994 sampai dengan Desember 2018 berjumlah 5521 orang. HIV berjumlah 4340 orang dan AIDS 1.181 orang.

Hal ini diungkapkan Kadis Kesehatan Provinsi Maluku, Meykal Pontoh kepada Siwalima, di sela-sela focus group discussion penyusu­nan neraca produksi tabel input output Provinsi Maluku, di Swisbell Hotel, Rabu (25/9).

Pontoh menjelaskan, HIV dan AIDS pertama kali ditemukan di Kota Tual pada tahun 1994. Di tahun 2006 sudah epidemi terkonsentrasi, dan tahun 2009 kasus HIV-AIDS menyebar ke semua kabupaten dan kota. Kemudian tahun 2011 sudah masuk lingkungan keluarga, ibu rumah tangga dan anak.

Data hingga Desember 2018, jumlah 5521 kasus HIV dan AIDS terbanyak ada di Kota Ambon dengan 3.602 kasus atau 65,2%. Paling sedikit di Kabupaten Buru Selatan dengan 22 kasus atau (0,003%).

“Ini bagus karena dinas mampu mendeteksi kasus yang sampai dengan akhir Desember 2018 berjumlah 5521 kasus yang tersebar di 11 kabupaten dan kota,” kata Pontoh.

Dikatakan, apabila jumlah kasus yang ditemukan tiap tahun ini sangat sedikit maka patut diselusuri lagi, karena kasus HIV-AIDS berbeda dengan kasus lainnya.

“Apabila sering ditemukan kasus maka memudahkan dinas untuk melakukan penanganannya, dan apabila temuan kasusnya sedikit, itu belum tentu tidak ada, tetapi justru perlu diwaspadai karena data mencatat jumlah penderita laki-laki ternbayak sebesar 61 persen dan wanita sebanyak 39 persen per tahun 2018,” jelas Pontoh.

Penderita HIV dan AIDS di Maluku terbanyak pada usia 15-39 tahun (77 persen).  Cara penularan melalui hubungan seks (85 persen) dan homosex (9 persen).

“Segala upaya terus dilakukan oleh dinas untuk mendeteksi kasus ini dari waktu ke waktu, olehnya diharapkan masyarakat dapat berperilaku baik dan mencintai pasangannya serta tidak melakukan perbuatan menyimpang,” ujarnya.

Pontoh merincihkan, sesuai dengan peta epidemis HIV-AIDS Maluku tahun 1994 sampai dengan 2018, yakni untuk Kabupaten Buru sebanyak 67 kasus (1%), Kabupaten Buru Selatan 22 kasus (0,003%), Kota Ambon 3.602 kasus (65,2%), Kabupaten SBB 52 kasus (1%), Kabupaten Maluku Tengah 227 kasus (4%), Kabupaten SBT 38 kasus (1%), Kabupaten Kepulauan Aru 500 kasus (9%), Kabupaten Maluku Tenggara 655 kasus (12%), Kota Tual 153 kasus (3%), KKT 124 kasus (2%) dan Kabupaten MBD sebanyak 81 kasus (2%).

“Data pembanding kita untuk tahun 2017, penderita HIV sebanyak 688 kasus, namun tahun 2018 jumlah itu menurun menjadi 480 kasus. Sementara tahun 2017 jumlah penderita AIDS yang ditemukan sebanyak 88 kasus. Jumlah itu menurun di tahun 2018 hanya 68 kasus,” urainya.

Untuk data tahun 2019, Pontoh mengaku, tim sementara menyu­sun, sehingga belum bisa dipu­blikasikan. “Jadi kita masih susun, nanti saja,” ujarnya. (S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *