Dinilai Miskin Prestasi, Kajati Bela Diri

AMBON, Siwalimanews – Kepala Kejati Maluku, Triyono Haryo­no membela diri atas penilaian berbagai kalangan yang menyebutnya miskin pres­tasi dalam penanganan dan penuntasan kasus korupsi.

Setahun lebih bertugas hingga akan me­masuki pensiun pada 5 Oktober  mendatang, dua kasus korupsi bernilai jumbo tak bisa dituntaskan. Belum lagi kasus-kasus baru lainnya yang masih di tahap penyelidikan dan penyidikan.

Dua kasus korupsi lama yang tertahan di Kejati Maluku adalah repo saham Bank Maluku Malut tahun 2014 sebesar Rp 300 miliar dan proyek terminal transit Passo tahun 2008-2009

Triyono Haryono yang dikonfir­masi Siwalima usai Rapat Koordi­nasi Pengawalan dan Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan (P4) Kementerian PUPR dan Jaksa Agung yang berlangsung di Natsepa Hotel, Suli, Senin (23/9) tak bisa memberi­kan kepastian, apakah kedua kasus itu bisa dituntaskan sebelum ia pensiun atau tidak.

Ia hanya mengatakan, sejumlah kasus dugaaan korupsi yang dita­ngani, baik yang masih penyelidikan maupun yang sudah penyidikan sudah ada titik terangnya.

“Intinya selama saya masih ber­tugas di sini, kasus-kasus dugaan korupsi yang masih penyelidikan maupun penyidikan pasti akan titik terangnya,” ujar Kajati.

Triyono enggan banyak berko­mentar. Ia berjanji akan memberikan keterangan pada 30 September men­datang.

Minim Prestasi

Seperti diberitakan, Kepala Kejati Maluku, namun Triyono Haryono dinilai minim prestasi dalam penun­tasan kasus korupsi.

Setahun lebih bertugas, nyaris tak ada kasus korupsi yang masuk ke pengadilan. Dua kasus lama yaitu, dugaan korupsi repo saham Bank Maluku Malut tahun 2014 sebesar Rp 300 miliar, dan proyek pemba­ngunan terminal transit Passo tahun 2008-2009, hingga tak bisa tuntas­kan.

Dalam kasus korupsi pembangu­nan terminal transit Passo, tiga ter­sangka telah ditetapkan oleh Kejati Maluku. Mereka adalah, John Lucky Metubun selaku konsultan peng­awas CV Intan Jaya Mandiri, Dirut PT Reminal Utama Sakti, Amir Gaos Latuconsina dan Angganoto Ura, PPTK proyek terminal transit Passo.

Sedangkan di kasus korupsi repo saham Bank Maluku Malut, dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yaitu mantan Dirut Kepatuhan Izaac B Thenu dan mantan Dirut Bank Maluku Idris Rolobessy.

Sejak dilantik 9 Maret 2018 men­jadi Kepala Kejati Maluku, Triyono Haryono berjanji akan menuntaskan kasus-kasus korupsi yang sudah berada di tahap penyelidikan mau­pun penyidikan. Namun faktanya, ia tak tidak bisa merealisasikan janji­nya. Sementara terhitung 5 Oktober 2019, Triyono Haryano sudah mema­suki masa pensiun.  Koordinator Jari­ngan Masyarakat Anti Korupsi Ma­lu­ku, Idris Keliata menilai, Kejati Ma­luku dibawah kepemimpinan Triyo­no Haryono, setengah hati dalam menuntaskan kasus dugaan korupsi.

“Mestinya selama setahun lebih menjabat pimpinan Kejati Maluku, pak Triyono mampu menuntaskan kasus-kasus dugaan korupsi, baik di tahap penyelidikan maupun penyi­dik. Kurun waktu setahun lebih itu, kami rasa cukup untuk menuntaskan kasus-kasus dimaksud,” kata Idris kepada Siwalima, Sabtu (21/9).

Wakil Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia Maluku, Mat Loilatu me­nga­takan, sejumlah kasus dugaan korupsi yang diusut sebagian besar, bu­kanlah hasil kerja Triyono Har­yono. Namun kajati sebelumnya, Jan S Maringka.

“Misalnya, kasus repo saham, transit Passo dan kasus korupsi pembangunan WFC Kota Namlea yang kini bergulir di pengadilan, itu kan kasus lama dari kajati sebelum­nya, karena itu wajar publik menilai kalau kepemimpinan kajati sekarang minim prestasi,” tandasnya.

Selain kasus lama, ada sejumlah kasus baru yang dibidik Kejati Ma­luku diantaranya, dugaan korupsi pembelian lahan untuk pembangu­nan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Namlea, Kabupaten tahun 2016, dugaan korupsi uang makan minum anggota Satpol PP Pemprov ilegal tahun 2018 sebesar Rp 500 juta, dan dugaan korupsi dana pemba­ngu­nan Pastori Waai. (S-49)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *