Cabuli Remaja, Souhoka Divonis 5 Tahun Bui

AMBON, Siwalimanews – Terdakwa Monic Souhoka dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon, Senin (13/1).

Pria 29 tahun yang bermukim di Kopertis, Jalan Tabeajou RT 002/RW 007, Desa Soya, Kecamatan Sirimau ini terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap remaja pria di bawah umur.

Perbuata terdakwa melanggar Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang pene­tapan peraturan pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Sidang pembacaan putusan dipimpin majelis hakim yang diketuai, Felix Ronny Wuisan didampingi Jenny Tulak dan Syamsudin La Hasan selaku hakim anggota. Sedangkan terdakwa di­dam­pingi penasehat hukumnya, Alfred Tutupary.

Vonis majelis hakim jauh lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU Kejari Ambon, Fitria Tuahuns yang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 6 tahun.

Majelis hakim dalam putusannya menguraikan hal-hal yang membe­ratkan dan meringankan bagi terdak­wa. Yang memberatkan perbuatan terdakwa melanggar hukum dan akibat perbuatan terdakwa menjadi malu. Sedangkan yang meringankan, terdakwa berlaku sopan dan me­ngakui perbuatannya, serta belum pernah dihukum.

JPU dalam dakwaannya menje­laskan, tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur yang dilakukan terdakwa terjadi, pada 21 Juli 2019 di depan Kantor Pelni Ambon sekitar pukul 18.00 WIT.

Awalnya korban sedang menu­nggu mobil angkot tujuan Kudamati untuk kembali ke rumahnya. Namun lama menunggu angkot Kudamati tak kunjung lewat, kemudian terdakwa yang membawa angkot Kopertis menawarkan korban untuk diantar pulang ke Kudamati.

Korban akhirnya mengikuti ter­dakwa. Di tengah perjalanan, ter­dakwa meminta nomor handphone korban. Keduanya kemudian saling bertukar nomor handphone. Setelah itu, terdakwa membawa korban ke arah SMA Kartika Ambon dan mencabulinya.

Korban sempat melawan, namun terdakwa mengancamnya dengan sebilah pisau. Akhirnya korbanpun menuruti nafsu bejat terdakwa. Tak lama kemudian, korban berhasil melarikan diri.

Sesampai di rumahnya di Kudamati, korban kemudian menceritakan perbuatan terdakwa kepada orang tuannya. Tidak terima dengan perlakukan terdakwa, orang tua korban melaporkannya ke polisi.

Terhadap putusan itu, baik JPU maupun terdakwa sama-sama menyatakan pikir-pikir. Sehingga majelis hakim memberikan waktu selama tujuh hari kepada penasehat hukum terdakwa dan JPU untuk menyatakan sikap. (S-49)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *