Butuh Perhatian Serius Pemerintah

Gempa berkekuatan 6,8 SR menguncang Kota Ambon, Kabupaten SBB dan Kabupaten Malteng yang tidak saja merusak sarana dan prasarana perumahan, kantor tetapi juga gedung-gedung sekolah.

Hal ini juga yang dirasakan para siswa di SD Negeri 1 Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Malteng. Sebanyak 118 siswa trauma dengan guncangan gempa yang sangat kuat itu dan susulan gempa yang sudah mencapai 1000 lebih, membuat  gedung sekolah SD Negeri 1 Oma retak sehingga tak layak digunakan.

Pasca gempa para siswa sempat diliburkan, namun saat ini aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 1 Oma harus berlangsung di alam terbuka di tengah hutan, tempat pengungsian mereka.

Kita tentu saja prihatin, dengan aktivitas pendidikan yang demikian. Hal itu karena, untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar, para guru dan siswa memilih salah satu tanah lapang yang masih kosong di tengah hutan.

Dengan menggunakan pelepah daun kelapa dan daun pisang, ratusan anak-anak sekolah itu duduk tenang mengikuti proses belajar mengajar. Sementara Pemkab Malteng hanya diam-diam saja belum melakukan tanggap darurat.

Pemkab Malteng seharusnya tidak boleh tinggal diam, secepatnya mengambil tindakan dengan membangun sekolah darurat, agar ratusan anak SDN 1 Oma tidak belajar di alam terbuka yang tentu saja itu akan menganggu konsentrasi dan  perhatian mereka.

Pemerintah punya tanggung jawab besar mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga seharusnya melakukan tanggap darurat membangun sekolah darurat bagi para pengungsi khususnya di SDN 1 Oma.

Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malteng, Askam Tuasikal yang mendukung pelak¬sa¬naan aktivitas belajar mengajar SDN 1 Oma di tengah hutan bukan merupakan salah satu solusi yang tepat.

Kendati gempa susulan masih terus terjadi, tetapi belajar di alam terbuka juga akan menganggu kondisi kesehatan siswa. Sehingga seharusnya Pemkab Malteng bersama dengan Dinas Pendidikan dan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Malteng duduk bersama membangun sekolah darurat, serta mengusulkan anggaran ke Pemerintah Pusat agar sekolah-sekolah yang rusak yang tidak layak digunakan bisa secepatnya ditangani dengan anggaran tanggap darurat.

Kita tentu saja prihatin dengan kondisi alam yang terjadi, dan bangunan-bangunan sekolah yang rusak, tetapi pelayanan pendidikan yang terbaik bagi generasi masa depan bangsa dan negara ini harus juga jadi prioritas utama.

Kita mendukung sepenuhnya upaya pemerintah untuk menangani masalah gempa, tetapi kita juga berharap, Pemkab Malteng bekerja sama dengan Pemprov maupun pempus untuk membantu membangun sarana dan prasarana sekolah yang mengalami kerusakan, sehingga anak-anak di Maluku khususnya di tempat-tempat pengungsian tidak terlambat dalam proses pendidikan.

Kita juga berharap, pasca gempa ini Pemerintah bertindak cepat menangani masalah pengungsi maupun infrastruktur yang mengalami kerusakan, sehingga aktivitas belajar mengajar maupun aktivitas-aktivitas lainnya bisa berjalan dengan baik, termasuk memulihkan kondisi trauma yang dialami anak-anak korban gempa sehingga rasa takut tidak menganggu proses pertumbuhan mereka.

Semoga dengan perhatian serius Pempus, Pemprov maupun Pemkab serta seluruh stakeholder yang ada, sekolah-sekolah yang rusak bisa dibangun secepatnya. Karena pelayanan pendidikan harus diutamakan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *