Bukan Pengungsi Pulang ke Rumah!

Passo Tahola dan Waiheru Belum Disentuh

AMBON, Siwalimanews – Menteri Sosial (Mensos), Agung G Kar­ta­-sasmita menghimbau kepada masyarakat yang bukan pengungsi pulang ke rumah.

Himbauan ini tidak hanya dituju­kan kepada pengungsi di Kota Ambon, tetapi juga di Kabupaten Mal­teng dan SBB. Mensos kaget ketika ada sebagian warga Kota Am­bon yang rumahnya utuh tidak terkena dampak gempa masih bertahan di tempat-tem­pat pengungsian. Me­nurut Mensos, kondisi su­dah mulai membaik, lebih nyaman masyarakat yang bukan pengungsi itu kembali ke rumah masing-masing.

“Sangat manusiawi bagi kita mem­punyai rasa ketakutan untuk pulang kerumah dan memilih lokasi peng­ungsian karena trauma, tetapi saat ini kondisi sudah semakin membaik jadi masyarakat harus kembali ke rumah masing-masing untuk mela­kukan aktivitas. Lebih nyaman kita di rumah daripada di tempat peng­ungsian,” jelasnya kepada warta­wan di sela-sela kunjungan ke tem­pat pengungsi lapangan bola Hatu­kau Galunggung Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Dikatakan, berdasarkan pengama­tan dan pandangan ahli, kemung­kinan terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar sangat kecil. Mensos mengaku, berkunjung ke Ambon atas perintah Presiden, Joko Widodo untuk memberikan perha­tian atau bantuan kepada masyara­kat yang terkena langsung dampak gempa tektonik.

“Saya datang untuk melihat pela­yanan dari pempus dan pemda kepa­da pengungsi dan saya lihat semua berjalan baik, kami datang dari Ja­karta atas perintah bapak Presiden, Joko Widodo untuk memberikan per­hatian atau bantuan kepada warga yang terdampak,” katanya.

Di Ambon, Mensos didampingi Walikota Ambon, Richard Louhena­pessy dan Dirjen Linjamsos Kemen­sos, Harry Hikmat berkunjung ke lokas pengungsian di lapangan bola Hatukau Galunggung Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Pada kesempatan itu Mensos menyerahkan bantuan berupa bantuan sosial duka kepada ahli waris yang keluarganya meninggal duni senilai Rp 15 juta per orang dan bantuan logistik baik  makanan, tenda gulung, pakaian dan lain-lain yang totalnya mencapai Rp 1,3 milyar.

Bantuan lainnya akan diberikan juga kepada pelaku ekonomi yang warung atau toko yang betul-betul rusak akibat gempa sebesar Rp 5 juta. Bantuan itu tidak hanya untuk Kota Ambon tetapi pelaku ekonomi yang tersebar di Kabupaten Mal­teng dan SBB.

Menurut Mensos bantuan terse­but untuk membangkitkan kembali ke­giatan ekonomi masyarakat di daerah terkena dampak bencana. “Bantuan ini agar kegiatan ekonomi di daerah terdampak bisa segera pulih, itu bantuan per toko dan wa­rung akan dibantu Rp. 5 juta,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, pemerintah daerah harus konsentrasi terhadap traumatik yang dialami masyarakat, olehnya bantuan pelayanan konse­ling juga harus ada. Apalagi, dam­pak gempa sangat dirasakan ter­uta­ma anak-anak, sehingga mereka ha­rus diberikan pendekatan pendidi­kan phsikologi.

Usai mengunjungi pengungsi, Mensos bersama rombongan me­nuju Rumah Sakit Umum (RUSD) Haulussy untuk melihat pelayanan dan korban yang mengalami luka-luka akibat gempa.

Pengungsi Ambon 27 Ribu Jiwa

Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, jumlah pengungsi sebanyak 4001 KK atau 27.805 jiwa, yang tersebar di lima kecamatan.

Kecamatan Nusaniwe sebanyak 49 KK atau 280 jiwa, Kecamatan Siri­mau 84 KK atau 2088 jiwa, Keca­matan Baguala 3.349 KK atau 12.811 jiwa, Kecamatan Teluk Ambon 12 KK untuk jumlah jiwanya masih diverifikasi, dan Kecamatan Leitimur Selatan 507 KK atau 3044 jiwa.

Untuk data kerusakan rumah dan fasilitas lainnya, terparah terdapat di Kecamtan Baguala dan Teluk Ambon, sebab dua lokasi ini dekat dengan pusat gempa.  “Dua keca­matan itu yang dampak kerusakan lebih banyak. Dan data ini masih data sementara bisa saja mengalami perubahan,”akui Kepala BPBD Kota Ambon, Demmy Paays kepada war­ta­wan di Balai Kota Ambon, Senin (30/9).

Passo-Waiheru Butuh Bantuan

Ternyata sampai sekarang warga Kota Ambon yang terkena dampak gempa seperti rumah retak bahkan rusak parah sampai sekarang belum disentuh pemerintah. Di Passo Ta­hola kawasan Transit dan Waiheru, warga yang hidup di pengungsian merana.

Leonardo Kailuhu korban terkena dampak gempa yang adalah warga Passo mengakui sejak hari pertama hingga sekarang belum ada bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Ambon. Bahkan tenda yang mereka bangun hanya tenda  darurat saja.

“Pemkot maupun BPBD belum memberikan bantuan apa-apa, padahal dalam satu tenda itu ada 15 KK sampai 20 KK, dan kami sangat membutuhkan perhatian pemerintah. Apalagi yang mengungsi ini yang betul-betul rumah mengalami keruskaan,”kata Kailuhu kepada Siwalima di lokasi pengungsian, Senin (30/9).

Hal yang sama juga diungkapkan Wa Ija, warga Waiheru yang rumah­nya retak sampai sekarang belum dijamah pemerintah. “Pemerintah sepertinya lebih memilih membantu warga yang bukan pengungsi. Kami ini pengungsi yang betul-betul ru­mah retak sampai sekarang belum terima bantuan. Tenda saja kami yang bangun sendiri pakai terpal. Ya, kami harap pemerintah mau mende­ngar jeritan kami,” keluh Wa Ija. (S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *