BNI Janji Ganti Uang Nasabah

Aksi Faradiba Didukung Orang Kuat

AMBON, Siwalimanews – Faradiba Yusuf tak men­jalankan aksi keja­ha­tannya sendiri. Diduga ia didu­kung oleh orang kuat, sehingga bisa mem­bobol uang nasabah BNI Ambon sebesar Rp 124 miliar.

Ada sejumlah indikasi yang menunjukkan Faradiba dibeking orang kuat di BNI untuk menguras uang nasabah, yaitu ia bisa mengantongi password untuk menyasar reke­ning para nasabah prioritas yang memiliki tabungan besar, bernilai miliaran rupiah. Padahal yang memiliki otoritas untuk memegang password adalah  Kepala Cabang Utama BNI Ambon.  Lalu mengapa Faradiba yang adalah pe­mimpin pemasaran bisa me­nganto­nginya?

Selain itu, setiap enam bulan dilaku­kan audit internal keuangan oleh BNI Pusat. Ironisnya, tim auditor sama sekali tidak menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh Faradiba.  Padahal aksi pembobolan uang nasabah didu­ga telah dilakukan oleh Fara­diba sejak tahun 2017.

“Uang nasabah yang dibobol itu ratusan miliar, bukan uang sedikit. Jadi kami tak yakin dia main sendiri, pasti ada yang membantu,” kata sum­ber di BNI Ambon, kepada Siwalima, Jumat (18/10).

Kepala Cabang Utama BNI Ambon Ferry Siahainenia yang dikon­firmasi mengakui, audit internal keuangan BNI Ambon dilakukan setiap 6 bulan oleh BNI pusat. Namun dirinya tak mau berkomentar lebih jauh, dengan alasan masih baru menjabat kepala cabang utama.

“Untuk BNI biasanya 6 bulan sekali dilakukan audit, dan timnya pun langsung dari BNI pusat. Saya kan baru, dan bah­kan belum sampai 6 bulan,” kata Siahainenia.

Adanya orang dalam BNI yang membeking Faradiba menjalankan aksi kejahatannya juga ditegaskan oleh  pimpinan BNI Kantor Wilayah Makassar, Faizal A Setiawan.

“Ada ada yang mem-back up. Tapi siapa, kami serahkan ke polisi untuk mengusut,” tandas  Faizal,  kepada wartawan, Kamis (17/10) di Ambon.

Faizal meminta Polda Maluku serius mengusut kasus pembobolan uang nasabah ini hingga tuntas. “Kamis minta polisi serius mengusut kasus ini, agar cepat selesai tuntas,” ujarnya.

Faizal menambahkan, selain ke Polda Maluku, pihaknya juga melapor kasus ini ke Pusat Pelaporan dan Anilisis Transaksi (PPATK). “Ada indikasi transaksi mencuriga­kan, sehingga dilaporkan ke PP­ATK,” ujarnya.

Faizal juga menambahkan, BNI Ambon dibawah pengawasan area BNI Makassar, sehingga pihaknya juga bertanggung jawab untuk mengawal penanganan kasus ini hingga tuntas.

Modus Faradiba

Seperti diberitakan, Faradiba Yu­suf melakukan aksinya sejak tahun 2017. Saat itu, Faradiba masih men­jabat Kepala Cabang Pembantu BNI AY Patty yang saat ini sudah ber­pindah ke Waihaong.

Dugaan kejahatan yang dilakukan Farida hingga ia menjabat pemimpin pemasaran BNI Ambon. Saat itu, Dione Liemon masih menjabat Kepala Cabang Utama BNI Ambon.

Sasarannya, nasabah yang ta­bungannya gede, bernilai miliaran rupiah.  Para nasabah tersebut ber­status prioritas atau istimewa di BNI.

Lalu bagaimana modus yang dilakukan Faradiba untuk meng­garap dana mereka?. Di mata para nasabah Faradiba sangat dipercaya. Mereka tak lagi berurusan di bank. Semua diurusi oleh  Faradiba, baik untuk menabung atau mencairkan dana mereka.  Kepercayaan itu yang dimanfaatkan oleh Faradiba.

“Nasabah hanya tinggal di rumah, kalau mau nabung tinggal kontak Faradiba, dia yang datang. Uang dititip ke Faradiba, slip setoran ditan­datangani oleh nasabah, ini kan karena nasabah percaya,” kata sum­ber di BNI.

Para nasabah tetap percaya karena bukti print buku dan slip setoran dikembalikan oleh Faradiba kepada nasabah, dan tercatat jelas nilai uang yang disetor.

Faradiba memang menyetor uang nasabah ke bank. Tetapi saat hen­dak mau tutup kas, ia menarik kem­bali uang tersebut. Itu berarti Fara­diba memiliki password untuk bisa masuk ke rekening nasabah.

Ororitas pemegang password ada­lah Kepala Kantor Cabang Umum BNI Ambon. Jika Faradiba bisa mendapatkan password maka jelas ada keterlibatan kepala cabang da­lam kasus ini.

“Ini kan jadi pertanyaan mengapa Faradiba bisa tahu password. Itu berarti ada dugaan keterlibatan orang lain,” ujar sumber tersebut.

Begitupun dengan tabungan lain­nya seperti deposito. Faradiba juga dipercayakan oleh nasabah untuk mendepositokan uang mereka dan juga melakukan pencairan. Ternyata uang mereka juga ditilep.  “Jadi modusnya sama,” ujar sumber itu.

Bantah Pengacara

Pernyataan tim pengacara bahwa Faradiba tidak membobol uang na­sabah Rp 124 miliar. Namun yang benar adalah terjadi pembengkakan pembayaran bunga deposito, diban­tah oleh pimpinan BNI Kantor Wila­yah Makassar, Faizal A Setiawan.

“Sistemnya tidak seperti itu. Se­mua harus tercatat dan terdaftar di bank. Perbuatan terduga anprose­dur,” tandas Faizal.

Ketua tim pengacara Faradiba, Fileo Pistos Noija dalam rilisnya yang diterima Siwalima, Jumat (18/10), menegaskan, Faradiba tak mela­rikan diri. Ia memastikan, kliennya akan menghadap penyidik Ditres­krimsus pada Senin, 21 Oktober 2019 dan siap menghadapi proses hukum. Padahal sebelumnya, Noija menga­ta­kan, Faradiba akan menghadap penyidik pada Jumat (18/10).

Agendakan Pemeriksaan

Penyidik Ditreskrimsus Polda Ma­luku akan segera mengagendakan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak terkait pembobolan uang na­sabah BNI  yang dilakukan oleh Faradiba Yusuf.

“Sudah ditelaah penyidik untuk agendakan pemeriksaan. Tentunya semua yang diduga terlibat ini satu per satu dipanggil. Paling lambat ini segera dilakukan pekan depan,” kata sumber di Polda Maluku, kepada Siwalima, Jumat (18/10).

Kabid Humas Polda Maluku Kom­bes M Roem yang dikonfirmasi mengatakan, siapa saja yang akan dipanggil nanti diagendakan oleh penyidik.

“Siapa yang dipanggil dan dipe­riksa kapan, saya tidak bisa pastikan, tetapi pastinya dalam waktu dekat ini sudah jalan, karena kasus ini harus secepatnya tuntas sesuai atensi pa kapolda,” tandasnya.

Sebelumnya sejumlah pihak sudah diperiksa saat kasus ini masih di tangan Ditreskrimum. Salah satunya Dani Nirahua, suami Faradiba.

Infomasi yang diperoleh Siwa­lima, Kamis (17/10), Dani diperiksa karena diduga rekeningnya menam­pung uang hasil kejahatan yang dilakukan istrinya.

“Dani ikut diperiksa, karena ia orang paling dekat dengan Faradiba, yang tidak lain istrinya,”  kata sum­ber di Polda Maluku.

Selain rekening penampung, kata sumber itu, ada dugaan sejumlah aset yang dinikmati berasal dari uang Faradiba.  “Ini yang didalami, seperti mobil dan lainnya,” ujarnya.

Informasi lain menyebutkan, saat gelar perkara kasus ini di Masohi bersama Kapolda Maluku, beberapa waktu lalu Dani juga turut ikut.

“Ada juga hadir, dan pihak BNI sudah menyampaikan kepada pa Dani agar menyarankan untuk ibu Faradiba segera menyerahkan diri, sehingga kasus ini dapat diselesai­kan secepat­nya,” ujar sumber di BNI.

Dani yang berprofesi sebagai pe­ngacara,  saat dihubungi, tidak mau berkomentar. “Maaf, beta seng bisa komentar,” ujarnya.

Dani yang dihubungi kembali pada Jumat (18/10) malam, beberapa kali namun tak mengangkat telepon genggamnya.

Janji Ganti Rugi

Pihak BNI Ambon berjanji untuk mengganti uang nasabah ra­tusan miliar yang dibobol Faradiba Yusuf.

“Kan kita sementara fokus di pro­ses hukumnya dulu. Kalau ganti rugi, itu tetap ada tapi melewati pro­sedurnya ada sendiri, dan kami akan mengambil langkah itu,” kata Kepala Cabang Utama BNI Ambon, Ferry Siahainenia kepada Siwalima me­lalui telepon selulernya, Jumat (18/10).

Ditanya soal instruksi OJK agar uang nasabah diganti, Siahainenia memastikan akan dilakukan. “Itu positif sekali, dan kami akan tindak­lanjutinya,” ujarnya.

BNI Tanggung Jawab

Akademisi Ekonomi Unpatti, Hartina Husein mengatakan, pihak BNI harus bertanggungjawab terha­dap uang nasabah yang dibobol oleh Faradiba Yusuf.

Ia menilai, Faradiba berhasil me­nguras uang nasabah membuktikan sistem pengamanan terhadap uang nasabah sangat lemah.

“Pihak bank harus bisa mengganti rugi uang nasabah, karena ini me­nyangkut dengan kepercayaan nasabah terhadap bank itu sendiri. Jika tak lakukan maka otomatis, nasabah akan lari. Dan saya kira dari bank harus melakukan pengamanan uang-uang nasabah,” kata Husein kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Jumat (18/10).

Sebelumnya Dekan Fakultas Eko­nomi Unpatti, Erly Leiwakabessy, juga menegaskan hal yang sama.

Bank berplat merah ini harus ber­tanggung jawab untuk meng­ganti uang nasabah ratusan miliar yang dibobol Faradiba Yusuf.

“Itu harus, kan masyarakat me­nyimpan uang mereka di bank. Ketika kasus ini maka pihak bank harus ganti rugi,” tandas Leiwaka­bessy, kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (17/10).

Terbongkarnya kasus pembobo­lan uang nasabah oleh Faradiba Yusuf, kata Leiwakabessy, mengu­rangi kepercayaan masyarakat terhadap BNI.

Aset Faradiba

Aset mewah milik Faradiba Yusuf diantaranya, tiga unit rumah kon­trakan dan kos-kosan berlantai II dengan 12 kamar, terletak di Lorong KBMT, Perumahan BTN RT 004/RW 09, Perampatan Kebun Cengkeh Ambon.

Kemudian 4 unit rumah mewah di Citraland, 3 unit rumah di prapatan Kebun Cengkih, 1 unit rumah di BTN Manusela, 1 unit salon di Jalan Dipo­negoro, 1 unit rumah kopi di kawas­an pelabuhan, 1 restoran Kampoeng Raja, 1 rental tenda di Ponegoro,  2 unit toko pakaian di MCM, 1 bidang tanah di Laha, 1 unit Toyota Al­phard, 1 unit Pajero Sport, 1 unit Fortuner, 1 unit Honda CRV Prestige, dan 1unit Honda HRV.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku masih menginventarisir aset Faradiba tersebut, yang diduga dari hasil tindak pidana pembobolan yang dilakukannya.

“Penyelidikan masih jalan, kita terus dalami,” kata sumber di Polda Maluku. (S-40/S-27/S-32)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *