BI Beberkan Tiga Kelompok Penyebab Inflasi Maluku 

AMBON, Siwalimanews –  Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku membeberkan tiga kelompok penyebab terjadinya inflasi di Maluku yang terjadi pada bulan Oktober 2019 lalu.

Tiga kelompok tersebut yaitu, kelompok makanan jadi, kelompok sandang dan kelompok pendidikan.

Kepala Kantor Perwakilan BI Pro­vinsi Maluku, Noviarsano Manullang mengatakan, inflasi bulanan Provinsi Maluku pada Oktober meningkat, namun secara tahun berjalan masih berada dalam sasaran inflasi.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Maluku pada Oktober 2019 tercatat mengalami inflasi 0,25% secara bulanan (month to month/mtm), dan secara tahun berjalan sebesar 3,20% (year to date/ytd), masih berada pada sasaran target Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku sebesar 3,5%±1% (yoy).

Namun demikian, inflasi Oktober 2019 lebih tinggi dari September 2019 yang tercatat sebesar 0,01% (mtm). Inflasi Maluku perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah ka­rena secara tahunan mencapai 5,29% (year on year/yoy) pada Oktober.

“Tiga kelompok komoditas yang menjadi penyebab inflasi Maluku pada Oktober adalah kelompok makanan jadi 2,03% (mtm), kelompok sandang 0,21% (mtm), kelompok pendidikan 0,17% (mtm),” jelas Manullang kepada wartawan diruang rapat Kantor BI Maluku, Selasa (5/11).

Dijelaskan,  pada kelompok makanan jadi, inflasi utamanya disebabkan oleh gado-gado, mie dan capcay. Hal tersebut disebabkan oleh naiknya harga komoditas sayuran di Kota Ambon.

Selanjutnya, inflasi pada kelompok sandang disebabkan oleh subkelom­pok sandang anak-anak. Tingginya permintaan dalam rangka pemberian bantuan pasca gempa di Kota Ambon menjadi salah satu penyebab naiknya harga pakaian.

“Inflasi kelompok sandang dise­babkan oleh naiknya harga emas per­hiasan sejalan dengan naiknya harga emas dunia. Sebagian besar pakaian di Maluku masih didatangkan dari luar Maluku. Inflasi kelompok pendidikan disebabkan oleh naiknya biaya kur­sus komputer, harga kertas HVS serta buku pelajaran,”ujarnya.

Di sisi lain, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,11% (mtm) pada Oktober 2019 yang utamanya disebabkan oleh turunnya harga tiket angkutan udara. Harga tiket angkutan udara maskapai Lion Air rute Ambon-Jakarta, Ambon-Makassar dan Ambon-Langgur mengalami penurunan, sedangkan untuk rute Ambon-Saumlaki harganya cenderung meningkat.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku telah melakukan rapat koordinasi dalam rangka memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok di Maluku, terutama pasca terjadinya gempa di Pulau Ambon dan Pulau Seram. Stok bahan pokok seperti beras, telur ayam ras, tepung dan minyak goreng di Kota Ambon tetap terjaga. Namun demikian, stok sayuran dan cabai masih terbatas karena mayoritas masih harus didatangkan dari luar Maluku. Menyikapi hal tersebut, TPID Provin­si Maluku telah mencanangkan program penanaman cabai di lingkungan kantor.

Program ini rencananya akan dilom­bakan antar Instansi dan Dinas terkait yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas cabai di pasar.

Inflasi Provinsi Maluku pada diper­kirakan akan berada pada tingkat yang rendah dan stabil serta berada pada sa­saran inflasi sebesar 3,5%±1% (yoy).

“BI senantiasa berkoordinasi dan bersinergi dengan Pemprov Maluku dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Maluku, TPID Maluku, TPID Kota/Kabupaten se-Maluku, Satgas Pangan dan pihak terkait lainnya untuk mengendalikan harga. Adapun pengendalian inflasi di Maluku dilakukan melalui strategi kebijakan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelan­caran distribusi dan komunikasi efek­tif,”katanya. (S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *