Belajar Jalan Terus

Walau di Pengungsian

AMBON, Siwalimanews – Kendati berada di tempat pengungsian, namun akti­vitas belajar ratusan siswa di SD Negeri 1 Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Malteng  tetap berjalan.

Aktivitas belajar mengajar ber­lang­sung di tengah hutan, dengan beralaskan pelepah daun kelapa. Gedung sekolah tersebut tidak la­yak lagi ditempati, lantaran dua ruang kelas rusak berat.

SD Negeri 1 Oma menampung sebanyak 118 siswa dari kelas 1-VI. Saat gempa melanda, sekolah tersebut retak dan tak layak ditem­pati. Sebagai solusi, para siswa diungsikan ke hutan bersama ma­syarakat setempat yang hendak menyelamatkan diri.

Sempat sekolah diliburkan sela­ma seminggu pasca gempa.

Setelah itu sekolah kem­bali ber­aktivitas seperti biasa, na­mun kali ini di tempat pengung­sian di te­ngah hutan.

Ibu Ade, salah satu warga Oma yang dimintai keterangan terkait keberadaan sekolah itu mengaku prihatin dengan kondisi sekolah. Hal itu karena untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar, para guru dan siswa memilih salah satu tanah lapang yang masih kosong di tengah hutan.

Mirisnya kata ibu Ade, dengan menggunakan pelepah daun kelapa dan daun pisang, ratusan anak-anak sekolah itu duduk tenang mengikuti proses belajar mengajar. “Mau bikin bagaimana, anak-anak mau turun ke sekolah tidak mung­kin, karena  sudah tidak layak lagi. Anak-anak sudah trauma, tidak mau turun ke sekolah. Gempa terus-terus dari tanggal 26 sampai sekarang masih ada gempa. Jadi anak-anak ketakutan dan trauma,” jelas ibu Ade kepada Siwalima di Negeri Oma Senin (7/10).

Ia menyayangkan sikap Pemkab Malteng yang sampai sekarang belum melakukan tanggap darurat terhadap kondisi sekolah yang retak di Negeri Oma. “Memang pasca gempa besar itu ada petugas dari tingkat kecamatan ke sekolah kami, tapi cuma lihat-lihat saja dan sampai sekarang belum ada tindak­lanjut,” tandas Ibu Ade.

Ia berharap, Bupati Malteng juga dapat menyikapi kondisi sekolah-sekolah di Negeri Oma yang tidak layak pasca gempa bumi melanda Kota Ambon, SBB dan Malteng.

Dinas Pendidikan Dukung

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malteng, Askam Tuasikal mendukung pelak­sa­naan aktivitas belajar mengajar SDN 1 Oma di tengah hutan.

Tuasikal beralasan kondisi pasca gempa besar melanda Kota Ambon, Malteng dan SBB, tidak memung­kinkan untuk aktivitas belajar me­ng­ajar harus dilaksanakan di gedung sekolah yang semula. Pasalnya, dita­kutkan gedung sekolah roboh lan­taran saat ini banyak terjadi gempa susulan. dengan kekuatan berva­riatif. “Memang pada umumnya mulai hari ini (kemarin-red), banyak sekolah yang beraktivitas di lokasi pengungsian,” ujar Tuasikal.

Dikatakan, aktivitas pelaksanaan belajar mengajar di lokasi peng­ungsian memang diinisiasi langsung oleh pengelola satuan pendidikan. Salah satunya SD Negeri 1 Oma. Sam­pai sekarang masyarakat di negeri tersebut, terutama anak-anak dan ibu-ibu belum bisa pulang ke ne­gerinya lantaran guncangan gem­pa susulan masih terus berlangsung.

“Semua warga termasuk perserta didik terutama SD masih memilih berada di dataran-dataran tinggi. Olehnya untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan, pe­rangkat sekolah dalam hal ini meng­inisiasi pelaksanaan aktivitas seko­lah secara darurat di lokasi peng­ung­sian,” ujar Tuasikal.

Tuasikal mengakui, sejak gempa awal pihaknya telah  melakukan as­ses­men ke lokasi terdampak gempa, kemudian oleh korwil masing-ma­sing wilayah untuk melakukan pen­dataan kondisi kerusakan fasilitas pendidikan,” beber Tuasikal.

Terpisah Kepala Kecamatan Pulau Haruku, Hafid Latuconsina yang di­kon­firmasi mengaku proses akti­vitas pendidikan yang dilakukan di SDN 1 Pulau Haruku itu dilakukan de­ng­an menggunakan tenda darurat yang diperoleh dari bantuan logistik BPBD.

“Iya benar. ada sekolah yang ber­aktifitas di lokasi pengungsian ter­utama di Negeri Oma. Hal ini dila­kukan sebab semua warga ter­utama anak-anak masih berada di lokasi pengungsian,” ungkap Latu­consina

Kepala BPBD, Bob Rahmat yang dikonfirmasi mengenai hal ini mene­gaskan pihaknya telah menyalurkan bantuan terpal dan lain sebagainya yang juga dapat dimanfaatkan untuk difungsikan sebagai sekolah daru­rat. Dia mengaku hal ini akan menjadi perhatian BPBD untuk kemudian dapat menindaklanjutinya.

“Memang belum ada tenda daru­rat yang khusus untuk sekolah da­rurat. Sejauh ini baru bantuan logis­tik termasuk terpal untuk tenda yang dapat dimanfaatkan atau difungsi­kan sebagai tempat darurat untuk aktivitas sekolah. Meski begitu BP­BD akan menjadikan informasi ini untuk penanganan selanjutnya,” pungkas Bob

Anak-anak di Waai Dihibur

Untuk menghilangkan trauma dan takut yang dialami anak-anak korban gempa di Negeri Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Malteng, se­jumlah pihak rame-rame ke tempat pengungsian Negeri Waai memberi­kan hiburan.

Seperti yang dilakukan Ditlantas Polda Maluku, dimana mereka mela­kukan kegiatan  trauma healing atau pemulihan trauma bagi anak-anak di Waai dengan cara memberikan hibu­ran kepada mereka.

Kabid Humas Polda Maluku, Kom­bes Roem Ohoirat dalam rilis­nya kepada Siwalima Senin (7/10) mengatakan, Ditlantas Polda Malu­ku memberikan kebahagiaan kepada anak-anak di tempat pengungsian Waai dengan tujuan agar anak-anak tersebut tidak merasakan trauma akibat gempa bumi bermagnitudo 6,8 SR itu.

Hal yang sama juga dilakukan Komunitas Seni Maluku Sketchwalk (MSW), dimana saat berkunjung ke Waai, komunitas ini menghibur sedi­kitnya 60 anak-anak pengungsi pasca gempa bumi 26 September 2019. Hiburan diberikan dengan cara  menggambar dan membuat sketsa bersama di lokasi pengungsian.

“Kami mengajak anak-anak ber­gembira lewat fun sketching, agar bisa mulai memulihkan trauma me­reka pasca gempa 6.8 scala richter (SR), Kamis lalu . Gempa susulan sudah mencapai angka lebih dari 1.000,” ujar Ketua Maluku Sketch­walk, Linley Pattinama).

Menurut Linley, di lokasi peng­ungsian warga Desa Waai, Keca­ma­tan Salahutu, Kabupaten Malu­ku Tengah, yang merupakan salah satu desa terkena dampak gempa bumi ini, ada 100 anak yang ikut me­­ngungsi bersama orang tua me­reka di situ.

“Dari 100 anak di pengungsian tersebut, ada 60 anak yang terlihat paling suka mengambar. Mereka terlihat senang saat diajak meng­gam­bar bersama” ungkap Linley.

Senada dengan Linley, anggota MSW yang menggagas kegiatan fun sketching ini, Rio Efruan kata­kan, kegiatan ini dibuat sebagai bagian dari proses trauma healing.

“Jadi kami ada di lokasi pengung­sian, untuk menghibur anak-anak agar mereka tidak tegang pasca gem­pa, dan mereka bisa belajar meng­gambar sebagai aktivitas untuk mengurangi trauma,” ujarnya.

Berikan Bantuan

Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Provinsi Maluku bersama dengan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku melakukan sejumlah aksi tanggap bencana.  Dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (7/10) rangkaian aksi yang dilakukan oleh OJK dan masing-masing LJK di hari pertama gempa hingga 6 Oktober 2019 berhasil mengumpulkan donasi bantuan sebanyak Rp850 juta dalam bentuk tunai maupun natura.

Penyaluran bantuan secara sporadis yang dilakukan LJK telah menjangkau wilayah-wilayah ter­dampak gempa bumi di Kota Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat bekerjasama dengan BPBD, BUMN Peduli, maupun pemerinta­han negeri dan pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, bantuan yang sama juga diberikan  Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Cabang Ambon. Bantuan berupa selimut 50, tikar 30, terpal 10, sisanya paket sembako yang terdiri dari beras, telur, gula pasir, susu, biskuit, teh, energen, daging sarden serta minyak goreng diserah­kan ke Posko Penanganan Bencana Gempa Provinsi Maluku di aula Korem 151/Binaiya, Ambon, Senin (7/10).

Bantuan ini diserahkan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Afliana Latumakulita kepada Kepala BPBD Provinsi Maluku, Farida Salampessy.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Afliana Latumakulita ke­pada wartawan mengatakan bantuan yang diberikan selain sembako, ada selimut, tikar dan terpal.

Jadi ini merupakan bagian dari program CSR BPJS Kesehatan terhadap lingkungan sekitar,” kata Latuma­kulita. (S-39/S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *