AMBON, Siwalimanes Pemprov Maluku akan mela­kukan reklamasi pantai untuk membangun pelabuhan ekspor yang dipu­satkan di Desa Tulehu dan Waai, Keca­matan Sala­hutu, Kabu­paten Mal­teng.

Menurut Gubernur Maluku, Murad Ismail, luas lokasi yang akan dibangun pelabuhan ekspor men­ca­pai 155 hektar, sehi­ngga akan dilakukan rekla­masi pantai dan tidak ada pembebasan lahan di darat.

“Reklamasi pantai sekitar 155 hektar, dan akan dibagi 100 hektar untuk pabrik, pengalengan ikan, Coldstorage, 50 hektar untuk dermaga dan 5 hektar jadi per­kantoran,” jelas gubernur kepada wartawan, usai rapat DPD PDI Perjuangan Maluku untuk pene­tapan pimpinan DPRD  di Provinsi Maluku yang berlangsung di Pasifik Hotel, Sabtu (7/9)

Gubernur mengakui, selama ini Ma­luku belum memiliki pelabuhan ekspor langsung, dimana ekspor masih menggunakan Pelabuhan Yos Sudarso.

“Kalau ada pelabuhan ekspor langsung maka, waktu pengiriman ikan misalnya kesejumlah negara di kawasan asia akan lebih cepat ketimbang saat ini. Dan kalau fasilitas sudah ada, maka lima tahun kedepan waktunya untuk ekspor hanya 11 hari,” tuturnya.

Baca Juga: Pangdam: Media Penting Tumbuhkan Budaya Menulis

Gubernur mencontohkan, ketika ekspor ke China saja itu membutuhkan waktu 24 hari, dengan rentan waktu yang lama juga akan berpengaruh kepada kualitas ekspor.

“Semakin lama berarti mutunya sudah turun. Mungkin awalnya 1 kg biasanya  dijual dengan 100 dolar, ketika tiba di pasar bisa turun menjadi  1 atau-10 dolar karena waktu pengiriman yang lama,” jelas gubernur.

Gubernur mengakui,  untuk ekspor saat ini barang yang dibawa dari Pelabuhan Yos Sudarso Ambon harus melewati pelabuhan Makassar dan Surabaya, kemudian melewati sejumlah tempat lain baru sampai negara tujuan ekspor.

“Saya pastikan kalau dermaga sudah jadi di Tulehu ekspor ke ke Jepang cuma butuh waktu 14,” tegas gubernur.

Pelabuhan ini sendiri akan dibangun oleh PT Pelindo dan Pemprov Maluku tidak mengeluarkan uang dalam pembangunan ini.

“Mereka yang bangun dan biaya pembangunan dari PT Pelindo 4, tugas kita adalah memberikan izin reklamasi pantai, namun ketika sudah berjalan Pemprov memiliki pendapatan asli daerah dari beroperasinya pelabuhan ini,” ujarnya.

Gubernur memberikan apresiasi bagi PT Pelindo yang membantu Pemprov untuk membangun pelabuhan di Maluku.

“Jadi selain membangun pelabuhan ekspor, PT Pelindo  juga akan membangun pelabuhan perikanan di Aru, Kota Tual,  KKT, kabupaten KKT dan Pulau Buru agar ikan yang diangkut dari sana akan terkumpul di pelabuhan ekspor Tulehu,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya PT Pelindo sepakat dengan Pemprov Maluku melakukan penandatanganan MoU untuk membangun lima pelabuhan di Provinsi Maluku. Penandatanganan ini sendiri dilakukan di ruang kerja Gubernur Maluku, Murad Ismail  Jumat (6/9).

Mewakili Pemprov Maluku Gubernur Maluku, sedangkan PT Pelindo hadir Direktur Utama Farid Padang. Usai penandatanganan MoU, Farid kepada wartawan menjelaskan, bersama dengan Pemprov Maluku pihaknya sepakat membangun pelabuhan di Maluku.

Sedangkan untuk pelabuhan ekspor langsung akan di bangun di Tulehu untuk mendukung ekport langsung dari Maluku. Pelindo bangun pelabuhan ekspor langsung, semua sistem ekspor disiapankan  juga langsung di pelabuhan Tulehu.

Menurutnya, paling penting adalah pembangunan pelabuhan di Blok Masela, karena itu nantinya  sebagai sarana pendukung guna pengelolaan lapangan abadi Masela. Selama lima tahun Pelindo akan melakukan roadshow dengan mencari investor guna mewujud­kan pembangunan yang sudah direcaanakan itu. (S-39)