AMBON, Siwalimanews – Pengusutan kasus penculikan aktivis HMI Syahrul Wadjo memasuki babak baru. Hal ini dikarenakan dalam pemeriksaan lanjutan yang dilakukan penyidik Satreskrim Polresta Ambon, Syahrul justru mengaku bahwa dirinya tidak diculik.

Keterangan Syahrul tersebut, lantas membuat polisi binggung dan kembali mendalami pernyatanya. Pernyataan itu diungkapkan Syahrul saat dihadirkan dalam konfrensi pers di ruang command center Polresta Ambon, yang dipimpin Kapolresta, Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang, didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol, Roem Ohoirat, Jumat (4/9).

Dalam konfrensi pers itu Syahrul yang diberikan kesempatan berbicara mengklarifikasi situasi yang berkembang, bahwa yang terjadi terhadap dirinya bukanlah sebuah penculikan.

“Peristiwa penculikan seperti yang beredar tidak benar alias hoax, saya tidak diculik saya dikeluarkan secara baik baik,” ungkap Syarul.

Syahrul juga menjelaskan kronologi sebenarnya yang menimpa dirinya, menurutnya saat kejadian itu dirinya hendak menuju ke Sekterariat HMI bersama dua rekanya yakni Fahmi dan Haikal. Dalam perjalanan tepat di depan sekretariat, Syarul melihat sebuah mobil mencurigakan yang mendekat, sehingga dirinya menyuruh kedua temanya itu untuk lebih dulu ke sekretariat.

Baca Juga: Polisi Telusuri Sejumlah Akun Provokasi Kasus Syahrul Wadjo

Selanjutnya mobil mencurigakan tersebut berhenti dan terlihat dua orang yang turun dan langsung mengangkut dirinya ke dalam mobil.

“Saat dimasukan ke dalam mobil, sudah ada dua orang di dalam mobil, salah satu diantaranya saya kenali karena pernah ke sekretariat sekitar 3 tahun lalu dan mereka mengakui sebagai kader HMI,” jelasnya.

Selama di mobil Syarul mengaku, ia dibawa ke Passo dan diinterogasi disana. Kedua orang ini mengungkapkan kekesalan mereka atas orasi Syahrul di Kantor Gubernur.

“Mereka menyampaikan kekecewaan terkait narasi saya saat demo, bahasa itu seakan-akan mereka marah, karena bertujuan ke Gubernur Maluku yang merupakan orang Jazirah dan saya diminta untuk minta maaf ke pak gubernur,” jelasnya.

Usai diinterogasi Syahrul mengaku, diperlakukan secara baik baik bahkan ia diajak makan sebelum akhirnya diturunkan di kawasan bundaran Patung Leimena sekitar pukul 00.00 WIT.

Disana Syahrul bertemu salah satu kenalan dan diminta untuk diantarkan ke sekretariat, namun saat tiba di depan gapura pemda 3,  ia bertemu dua rekannya yang menghadang perjalannya ke sekretariat dengan alasan ada polisi disana.

Mendengar penjelasan dua rekannya itu, ia kemudian pergi dan menginap di salah satu rumah seniornya.

“Saya niatnya mau ke Sekretarita HMI, namun saat dengar polisi saya lari, Saya kira akan ditangkap karna aksi saya di Kantor Gubernur,” ujarnya.

Keterangan yang disampaikan Syahrul ini bertolak belakang dengan keterangan awal saat ia diperiksa. Keterangan tersebut berubah setelah penyidik mengkonfrontir dengan sejumlah saksi. Saat itu lah Syahrul mengklarifikasi sejumlah keterangan awal.

“Setelah kejadian Polisi lakukan rekonstruksi, dan kita cek posisi HP korban, hasilnya di jam 12 itu korban berada di kawasan patung Leimena, sementara di keterangan awal, korban mengaku dipulangkan jam 06.00 pagi, nah ini membingungkan, ada beberapa keanehan dari keterangan Syahrul yang perlu kita telusuri,” ucap Kapolresta Simatupang kepada wartawan.

Menurutnya dari keterangan Syahrul, penyidik akan lebih mendalami dan melakukan pengembangan lebih lanjut

“Kita masih selidiki dua orang yang ada bersama dengan korban saat berada di dalam mobil, kesulitanya korban hanya mengetahui nama, sementara marga dan tempat tinggal korban tidak tahu. Prinsipnya kita dalami, masih banya fakta-fakta yang masuk materi penyelidikan, sehingga belum bisa kita sampaikan secara terperinci pada kesempatan ini,” jelasnya. (S-45)