AMBON, Siwalimanews – Sudah delapan bulan, dosen honorer di Fakultas Teknik Unpatti belum dibe­rikan upah.

Hal ini terungkap saat salah satu dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Kreison Pisty Larwuy membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Rektor Unpatti, MJ Saptenno, yang diposting pada akun facebook milik Donny Ambones, tertanggal 9 September 2019.

Berikut isi surat terbuka tersebut tertanggal 8 September yang ber­bunyi : Saya Kreisson Pisty Larwuy ,ST.,MT merupakan salah satu dosen yang mengajar di fakultas teknik khususnya yaitu Teknik Pe­rencanaan Wilayah dan Kota. Saya telah mengajar selama kurang lebih 2 Tahun dan selama 8 bln terakhir kewajiban kami blm dibayarkan oleh pihak kampus. Kami sebagai Dosen Honor hanya 500rb/bln dan diba­yarkan setiap 6bln sekali sebesar 3juta rupiah/semester.

Satu Hal yang menjadi pertanyaan saya Apakah Unpatti kampus terbesar di provinsi ini tidak memiliki dana ? sedangkan faktanya jumlah maha­siswa PWK kurang lebih 500 orang dengan SPP sebesar 3 sampai 3.5 juta per semester. apakah deng­an penda­patan sebesar itu masih belum cukup untuk membayarkan gaji kami ??

Kami tidak menuntut banyak ha­nya saja kami meminta kejelasan dan meminta agar hak kami diberikan, karena kami telah melaksanakan kewajiban kami. Terima kasih.

Baca Juga: Rayakan HUT, Ambon Penuh Cinta dan Kasih

Saat dikonfirmasi, Larwuy menga­takan, selama ini pihaknya telah melaksanakan tugasnya sebagai dosen yang sesuai kesepakatan awal itu akan dibayarkan honor sekitar Rp 500 ribu, yang dibayarkan setiap akhir semester. Dan selama ini berjalan dengan lancar namun se­karang ini entah kenapa hingga semester genap berakhir, honor terse­but belum dibayarkan.

“Kami juga tidak tahu, alasan apa sampai honor kami di semester ge­nap tahun ajaran 2918/2019 sampai hari ini belum dibayarkan sehingga saya mengambil keputusan untuk membuat surat terbuka itu karena selama ini kami telah berproses, me­lalui ketua program studi sampai ke tingkat  dekan bahkan sudah dipro­ses hingga ke tingkat rektorat tapi info yang kami dapatkan itu tidak bisa dijadikan sebagai pegangan justru, kami hanya disuruh menung­gu dan bahasanya satu dua hari lai, ada juga bahasa bahwa nanti dua minggu lagi sudah proses tapi sam­pai sekarang belum teralisasi dan hanya janji-janji manis yang kami dapatkan,” tandas Larwuy, kepada Siwalima, melalui telepon seluler­nya, Selasa (10/9).

Kata dia, lantaran janji-janji manis itulah maka dirinya memberanikan diri untuk membuat surat terbuka ini dengan segala resikonya yang mung­kin akan dihadapi tetapi lebih baik bersuara mewakili teman-teman lainnya yang nasibnya juga terka­tung-katung.

“Di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah Dan Kota (PWK), ada empat orang tenaga dosen honorer yang sudah mengabdi kurang lebih dua tahun dan nasibnya seperti yang saya tuliskan dalam surat terbuka itu. Kami harus bersuara karena sebenarnya nominalnya hanya seberapa padahal pemasukan dari mahasiswa satu angkatan saja bisa membayar kami yang hanya berempat sehingga tidak masuk logika saja kalau harus menunda-nunda dengan alasan yang tak jelas. Kami juga tidak menuntut kenaikan, kami juga tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan kampus, kami hanya meminta penjelasan dan mem­bayar hak kami saja sesuai dengan kesepakatan yang sudah terjadi dari awal,” ujarnya, dengan nada kesal.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unpatti, W.R Hetharia, yang dikonfirmasi Siwalima, di Kampus Fakultas Teknik Unpatti, tidak ber­hasil ditemui karena sementara ber­ada di luar daerah.

Saat dihubungi melalui telepon selulernya, tidak aktif. Rektor Un­patti, MJ Saptenno yang dikonfir­masi mengaku, belum tahu jika te­naga dosen honorer belum menda­pat­kan upah.

“Saya belum tahu karena belum dapat surat resmi, nanti saya cek dulu,” ujarnya, melalui telepon selu­ler­nya, Selasa (10/9).  (S-16)