2.140 Kali Gempa Susulan Guncang Maluku

AMBON, Siwalimanews – Sejak terjadi gempa bumi dengan magnitudo 6,8 SR pada 26 September 2019 lalu sampai dengan 12 November 2019 pukul 19:59 WIT, tercatat aktivitas gempa bumi susulan yang terjadi sebanyak 2140 kali.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono menjelaskan, berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa bumi ini masih merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa bumi susulan yang terjadi di Ambon.

“Untuk gempa bumi tektonik yang terjadi pada Selasa (12/11) dengan magnitudo 5,1 SR, tidak berpotensi tsunami dan gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa susulan yang terjadi di daerah ini,” ujar Triyono dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalimanews, Rabu (13/11).

Dijelaskan, gempa yang melanda wilayah Ambon dan sekitarnya pada Selasa, (12/11), sesuai hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki  parameter update dengan magnitudo  M=5,1. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3.49 LS dan 128.35 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 29 km arah Timur Laut Kota Ambon, Maluku pada kedalaman 10 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike slip )

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Ambon dan Kairatu IV MMI, sedangkan di Desa Liang III MMI.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi 5,1 yang terjadi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini juga tidak berpotensi tsunami,” ungkapnya.

Untuk itu BMKG menghimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun ketika gempa terjadi masyarakat harus menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, kemudian periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali kedalam rumah.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi, masyarakat juga dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” himbau Triyono. (S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *