AMBON, Siwalimanews – Warga Negeri Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah merayakan Hari Pattimura yang digelar 14-15 Mei.

Thomas Matulessy selaku generasi ke-6 dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalimanews, Selasa (18/6) mengungkapkan, perayaan momen bersejarah ini juga, menjadi spesial bagi Keluarga Matulessy di Negeri Hulaliu, karena bertepatan dengan 100 tahun marga Matulessy dipakai kembali, setelah sebelumnya menggunakan marga Lessiputty untuk menipu tentara Belanda yang datang membantai Keluarga Matulessy di Hulaliu.

“Hal ini dibuktikan dengan surat persetujuan ganti marga yang dibahas di Week Kamer Belanda dan disetujui, kemudian diteruskan ke Gubernur Jenderal di Batavia untuk disetujui dan diberlakukan tertanggal 27 Mei 1921, Nomor 47,” ujar Matulessy.

Surat ini diterbitkan atas balasan dari surat permohonan yang dituliskan oleh Benjamin Lessiputty dan ditandatangani oleh Matias Lessiputty  di Hulaliu tertanggal 12 Juli 1920.

Serangkaian acara perayaan Hari Pattimura di Hulaliu dimulai pada 14 Mei 2021 dengan berkumpulnya Keluarga Matulessy di rumah tua, dilanjutkan dengan palamana di Asari Lounusa atau baileo/rumah adat Hulaliu oleh Kepala Soa Siahaya, dilanjutkan dengan perjalanan ke tanah dati Thomas Matulessy yaitu di Benteng Hatu Marsala, tempat persembunyian Thomas Matulessy saat melakukan perang.

Baca Juga: Pasca Libur Lebaran, Kakanwil Kemenag Sidak ASN

“Keluarga Matulessy dan masyarakat yang berjumlah enam ratusan orang dari berbagai daerah melakukan kunjungan ke beberapa tempat di Marsala, salah satunya yaitu makam Van Den Berg, Residen Saparua yang di bunuh oleh Thomas Matulessy,” urainya.

Setelah itu, keluarga dan masyarkat naik ke Gunung di Benteng Hatu Marsala untuk melakukan ritual iris unar. Ritual ini adalah sebuah ritual tradisional membuat api dengan gesekan bulu atau bambu untuk menyalakan Kiming Mae atau obor induk dilanjutkan dengan ritual adat di Benteng Hatu Marsala, pada pukul 09.00, Sabtu (15/5).

Kemudian, Kiming Mae diarak dari Benteng Hatu Marsala menuju Negeri Hulaliu disambut dengan Hahi dari Soa Noya, Soa Siahaya, dan Soa Taihuttu, kemudian diserahkan kepada Pemerintah Negeri Hulaliu dan diilanjutkan dengan penyalaan obor di Asari Lonusa Negeri Hulaliu.

Hahi merupakan satu tarian dengan memotong atau menusuk badan dengan menggunakan benda tajam seperti pedang dan silet diikuti dengan bunyi tahuri, bunyi tifa dan gong serta iringan nyanyian dalam  bahasa daerah Negeri Hulaliu,” jelasnya.

Selaku generasi ke-6 Ia menegaskan, pahlawan Pattimura, berasal dari Negeri Hulaliu dan bagian dari Keluarga Amarima Hatuhaha.

“Keluarga Thomas Matulessy membuka ruang komunikasi bagi para pakar peneliti sejarah dan pakar arkeolog di Maluku, Indonesia bahkan internasional untuk dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam untuk meluruskan sejarah asal usul Pahlawan Pattimura, Thomas Matulessy dan dengan data yang lengkap, kami Keluarga Matulessy di Hulaliu dapat membuktikannya,” tegasnya.

Kemudian sekitar pukul 17.00 WIT dilanjutkan dengan ibadah syukur 100 tahun Marga Matulessy  dipakai kembali, setelah sebelumnya menggunakan Marga Lessiputty. (S-16)