Rabu, 08 September 2010

Kamis, 15 Juli 2010
KRI Soeharso, Kapal Operasi Kemanusiaan TNI AL

Kapal rumah sakit TNI Angkatan Laut KRI Soeharso-990 saat ini telah berada di Ambon dalam rangka mengemban misi kemanusiaan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Bhakti TNI AL Surya Bhaskara Jaya (SBJ) Sail Banda 2010 yang digelar oleh TNI AL di Provinsi Maluku. Selama sebulan kedepan kapal dengan sejumlah fasilitas kesehatan ini akan melaksanakan operasi kemanusiaan.

KRI Soeharso-990 memiliki panjang keseluruhan 122 meter, daya angkut sebesar 11.300 ton, berbobot mati 2480 ton dan kecepatan maksimum 15 knot. Selain itu juga memiliki ciri khas lain yaitu berupa Dockwell yang dapat dijadikan sebagaimana layaknya dock terapung untuk dua buah LCU-23M.

Mobilitas kapal ini cukup tinggi karena dilengkapi dengan stern ramp dan side ramp. Kapal ini juga dilengkapi sebuah hanggar untuk menampung helikopter dan juga melakukan perawatan terhadap helikopter. Sebagai kapal rumah sakit, telah disediakan satu ruang UGD, tiga ruang bedah, enam ruang poliklinik, 14 ruang penunjang klinik dan dua ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Kapal ini memiliki 75 anak buah kapal (ABK), 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI DR Soeharso juga dapat menampung 400 pasukan dan 3000 penumpang.

Dalam fungsinya sebagai kapal angkut, kapal ini mampu mengangkut 14 truk/tank dengan bobot per truk/tank 8 ton, tiga helikopter tipe Super Puma, duaLanding Craft Unit (LCU) tipe 23 M dan satu hovercraft.

Persenjataan, kapal yang kini dikomandani Letkol laut (P) Heribertus Yudho Warsono ini dilengkapi senjata Meriam Bofors SAK 40 mm L/70 1 pucuk, 2 pucuk Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20mm, dan 2 buah senapan Mesin 12,7 mm. Tenaga penggeraknya adalah mesin diesel.

Sebagai rumah sakit terapung KRI Soeharso-990, sebelumnyamemiliki nama KRI- Tanjung Dalpele 972 yang tergabung sebagai unsur Satuan Kapal Amphibi (Satfib) Komando Armada RI Kawasan Timur, kapal ini diproduksi Daesun Korea Selatan, dan tiba di Indonesia (Surabaya) tanggal 21 September 2003.

Nama KRI Soeharso-990 adalah merupakan nama yang diambil dari nama salah satu dokter yang banyak berjasa perjuangan Ia dokter pejuang dan dokternya para pejuang. Sebagai dokter Palang Merah , ia terjun ke medan juang merawat penderita yang cedera dalam pertempuran. Para penderita itu banyak yang sudah kehilangan tangan atau kaki, menjadi orang cacat untuk selama-lamanya. Untuk meringankan penderitaan mereka, dokter Soeharso berupaya membuat tangan dan kaki tiruan.

Dokter kelahiran desa Kembang, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 13 Mei 1912, ini sungguh merasa kasihan melihat keadaan para pejuang yang cedera dalam pertempuran itu. Dalam benaknya timbul tekad untuk menolong mereka. Jangan sampai orang-orang yang cacat itu merasa tidak berguna dan menjadi sampah masyarakat. Mereka tidak boleh kehilangan harga diri.

Atas pengabdiannya, ia pun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No.088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 . Ia memang seorang pejuang. Semenjak menyelesaikan studi di AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) Bagian B di Yogyakarta, lalu melanjut ke Nederlandsch Indische Artsen School di Surabaya dan lulus sebagai Indisch Arts tahun 1939, ia bekerja sebagai asisten di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Surabaya. Karena bertengkar dengan seorang suster Belanda, ia dipindahkan ke Sambas (Kalimantan Barat). Di sana ia bertugas sampai saat Jepang mendarat di Indonesia .

Ada yang unik terhadap tampilan luar KRI Soeharso-990, karena lambang palang merah terpampang besar dilambung kiri dan kanan kapal rumah sakit ini sebagai ciri khas rumah sakit terapung TNI AL.

Di lantai satu kapal tersebut, kita akan disuguhi fasilitas yang cukup istimewa karena kapal tersebut memiliki ciri khas berupa dockwell alias dok terapung. Dua kapal kecil jenis LCU-23M diparkir dalam lambung seluas kurang dari 500 meter persegi. 'Dok terapung ini memudahkan pasien ke dalam kapal dengan kapal kecil. Biasanya ruangan ini diisi penuh air untuk keperluan itu. Namun, dalam keadaan normal ini dikeringkan,.

Dari lambung kapal di lantai satu, kita bisa saja langsung menuju tangga ke lantai atas, namun ada juga lift yang bisa memudahkan untuk naik turun di kapal dengan lima lantai itu.
Lantai dua kapal itu terdiri atas ruang-ruang yang merupakan bangsal dan kamar isolasi serta ruang untuk rapat kru dan kamar-kamar kru.

Lantai tiga terdiri atas fasilitas perawatan rumah sakit. Lantai empat dan lima merupakan kamar-kamar kru, ruang pertemuan, dan fasilitas operasional kapal. Di atasnya lagi adalah ruang kemudi dan nakhoda.

Lorong-lorong dan koridor dalam kapal tersebut terlihat sangat rapi dan bersih. Lantai serta tembok kapal terlihat mengkilat layaknya sepatu yang baru disemir. Dalam kamar dan kabin-kabin utama, kasur serta meja terlihat ditata rapi.

Kondisi itu membuat kapal terasa sangat nyaman, walaupun lorong dan kamar terasa lebih sempit jika dibandingkan bangunan biasa. Seluruh kegiatan medis dipusatkan di lantai tiga. Lorong-lorong dalam lantai tiga terdiri atas sekitar 40 ruangan kecil yang dilengkapi fasilitas kesehatan lengkap dan memiliki berbagai fungsi.

Ruang operasional dan sarana penunjang kesehatan dibuat sangat lengkap dengan fasilitas medis standar RS pada umumnya. Tiap ruang didesain layaknya ruang praktik dokter-dokter spesialis.

Dalam ruang poli gigi, terdapat sebuah kursi untuk perawatan dilengkapi rak yang berisi alat-alat operasi gigi dan lampu operasi. Di ruang poli mata juga ada fasilitas untuk operasi kecil serta pengobatan. Sejumlah alat kelengkapan penunjang medis seperti rontgen dan alat ultrasonografi juga ada di ruangan lain guna keperluan kebidanan dan penanganan patah tulang.

Saat ini KRI Soeharso-990 telah berada di Ambon membawa personil Satgas Operasi Bhakti SBJ. Satgas ini dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Eddy Sugiatmo. yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IX Ambon.

Satgas ini akan melaksanakan beberapa kegiatan sosial yang bebasis pada pelayanan kesehatan gratis, seperti pengobatan umum, pengobatan gigi, operasi dan penanganan medis lainya bagi masyarakat pesisir dan terpencil, sebagai wujud perhatian TNI AL dan negara terhadap kondisi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang sulit untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

KRI Soeharso-990 memang identik dengan kapal operasi kemanusian TNI AL karena telah beberapa kali menjalankan misi kemanusiaan, termasuk pada saat bencana tsunami terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004 dan bencana gempa bumi Padang-Sumatra Barat pada 2009. (izaac tulalessy)


Berita Lainnya :