Ambon - Surat Keputusan (SK) Walikota Ambon M J Papilaja nomor lima tahun 2010 tentang standar kelulusan bagi peserta Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2009-2010 yang menetapkan nilai standar kelulusan yang sebelumnya telah ditetapkan 5.25 kembali dinaikan menjadi 6,00, perlu ditinjau kembali.
Pasalnya kendatipun surat tersebut telah ditetapkan pada tujuh Januari lalu, namun hingga kini SMA Xavirus Ambon baru mendapatkan surat edaran SK Walikota tersebut. Demikian dikemukakan Wakil Kepala Sekolah SMA Xaverius Ambon Wahyu kepada wartawan diruang kerjanya, Selasa (9/3) "SK dari Walikota tentang standar kelulusan untuk tahun ajaran 2009-2010 yang ditetapkan pada tanggal tujuh Januari , tetapi kami baru menerima tanggal delapan Maret terus terang kami sangat kaget karena disitu disebutkan nilai kelulusan 6,00 yang selama ini kami sudah tahu kalau Kota itu menetapkan 5,75," ungkapnya
Menurutnya, keputusan tersebut sangat menyurutkan mental siswa SMA Xaverius Ambon karena secara phisikologi dapat menggangu mental, namun pihaknya tidak mempersoalkan standar kelulusan tersebut, asalkan jauh-jauh hari ketika SK tersebut dikeluarkan sudah harus disampaikan secepatnya, kepada setiap sekolah bukanya menjelang UN seperti saat ini
"Kami baru peroleh SK Walikota ini setelah, salah satu Guru SMA Xaverius Ambon pergi mengambil gaji pada Dinas Pendidikan Kota Ambon, dimana pada saat itu dari pihak Dinas menitipkan surat tersebut pada guru yang bersangkutan," cetusnya
Ia menambahkan, apa yang dilakukan oleh Walikota, merupakan suatu hal yang baik dalam rangka meningkatkan kwalitas pendidikan di Kota Ambon, hanya saja pelaksanaannya yang berjalan kurang maksimal
"Yang rugi anak-anak kita bukan siapa-siapa, mungkin tujuannya baik tetapi karena pelaksananya yang kurang baik sehingga akhirnya berdampak negatif bagi siswa," tandasnya. Pembinaan Rohani
Sementara itu menjelang dilaksanakannnya Ujian Nasional (UN) pada tanggal 22 Maret mendatang, SMA Xaverius Ambon melakukan pembinaan rohani guna menyiapkan siswa secara phsikologi sehingga siswa benar-benar siap secara phsikologi.
"Hal ini dilakukan untuk menyiapkan mental secara rohani karena memang selama ini dalam proses belajar mengajar proses penyiapan dari segi kemampuan itu sudah baik, namun juga perlu menyiapkan siswa secara phsikolgi melalui pembinann rohani," terangnya.
Menurutnya hal tersebut dilakukan karena berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama melaksanakan UN, kelihatan sangat menankutkan bagi para siswa, sehingga hal tersebut juga dilakukan untuk memberikan motivasi kepada siswa dalam mengikuti UN.(S-30)
|