Visi ›› Waspadai Beras Plastik

Waspadai Beras Plastik


Beberapa hari ini, publik di Indonesia dibuat geger dengan beredarnya beras sintetis atau beras plastik. Beras ini diketahui terbuat dari limbah plastik lembut yang sering disebut resin, sesuatu yang bisa menyebabkan ganguan kesehatan bagi tubuh.

Pemkot Ambon melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bertindak cepat dan langsung melakukan sidak disejumlah pusat penjualan beras di Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah, Rabu (20/5). Saat sidak tersebut tidak ditemukan satu pun pedagang yang menjual beras sintetis atau beras plastik tersebut.

Nampaknya masyarakat Indonesia termasuk Provinsi Maluku harus berhati-hati dengan beredarnya beras palsu yang sangat meresahkan warga. Jika beras palsu dikonsumsi secara terus menerus, maka akan mengganggu kesehatan tubuh baik secara langsung atau jangka panjang.

Beras sintetis atau plastik dapat dibedakan secara fisik seperti beras pada umumnya. Tapi, beras plastik warnanya lebih bening bukan putih susu. Normalnya beras, bila dimasak menyerap air. Beras plastik malah mengeluarkan air. Saat dikonsumsi rasanya aneh, seperti makan plastic. Rasanya tawar dan terasa getir di mulut. Bila dibuat bubur bentuknya berubah menjadi buliran-buliran dan harga dipasaran terbilang murah.

Masyarakat tentu saja sangatlah awam dalam membedakan mana beras yang asli dan palsu, karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku maupun Pemkot/kabupaten se-Maluku sudah harus melakukan langkah antisipasi dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Langkah sidak yang dilakukan oleh Pemkot Ambon pada sejumlah pasar di kota ini, merupakan sebuah langkah kebijakan yang tepat, tetapi proses sidak tersebut harus dilakukan kontijuw disertai sosialisasi kepada masyarakat.

Pemerintah sudah harus cepat tanggap dengan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan aparat kepolisian dan instansi terkait melakukan investigasi, karena peredaran beras plastic ditakut juga beredar hingga pada pedesaan-pedesaan di Provinsi Maluku.

Pemerintah Provinsi Maluku harus melakukan koordinasi dengan 11 pemkab di Maluku sehingga ada informasi yang tepat yang disampaikan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kewaspadaan terhadap beras plastic yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia.

Masyarakat perlu diberi pencerahan untuk membedakan mana beras asli dan mana yang palsu. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena itu langkah antisipasi mesti secepatnya dilakukan bukan saja oleh Pemkot Ambon yang sudah melakukan sidak tetapi juga oleh seluruh pemkab/kota di Maluku.

Secara hukum, kalau benar beras itu hasil impor, importirnya harus dikenai sanksi berat. Kalau impor dilakukan secara ilegal, pelakunya jelas melanggar UU Nomor 10 Tahun 1999 tentang Kepabeanan. Selain itu, yang bersangkutan juga bisa dikenai pasal pelanggaran UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon