Hukum ›› Usai Diperiksa, PPTK Ngumpet di Kamar Mandi Korupsi di Dinas Pendidikan SBB

Usai Diperiksa, PPTK Ngumpet di Kamar Mandi


Ambon - Entah apa yang ditakuti Abraham Tuhenay. Usai di­cecar penyidik Ke­jati Maluku terkait korupsi dana ke­giatan di Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdik­pora) Kabupaten SBB tahun 2013, Rabu (27/7) PPTK itu, ngum­pet di ka­mar mandi menghindari warta­wan.

Tuhenay diperiksa sebagai saksi atas tersangka Bonjamina Dortje Puttileihalat alias Lou. Tuhenay juga masuk dalam daftar tersangka. Tetapi ia diloloskan oleh jaksa dengan alasan telah mengembalikan kerugian negara. Nilai uang yang disetor mencapai Rp 1 milyar lebih.

Tuhenay menjalani pemerik­saan dari pukul 16.00 hingga pukul 17.30 WIT di ruang peme­riksaan I Kejati Maluku. Selama 1,5 jam, Tuhenay dicecar 29 per­-tanyaan oleh jaksa Ekart Hayer.

Tuhenay yang mengenakan kemeja putih kotak abu-abu dengan celana panjang hitam itu, sebelumnya mendatangi Kantor Kejati Maluku pukul 11.00 WIT, namun kemudian meminta izin untuk menghadiri ibadah pemakaman keluarganya. Ia kembali ke Kejati Maluku pukul 15.30 WIT.

Usai pemeriksaan dan menandatangi Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Tuhenay buru-buru keluar dan langsung kabur ke bagian belakang, dan bersembunyi di kamar mandi.

Sekitar 30 menit Tuhenay ngumpet di kamar mandi. Sekitar pukul 18.00 WIT, barulah ia keluar setelah didatangi jaksa.  Ia kemudian buru-buru melewati bagian depan lobi sambil menunduk berusaha menghindari wartawan. Hujan yang deras pun ia nekat untuk menerobos.

Tak hanya Tuhenay, jaksa juga memeriksa bendahara Maria Manuputty. Ia juga diperiksa oleh jaksa Ekart Hayer dari pukul 11.00 hingga pukul 14.30 WIT. Selama kurang lebih 3,5 jam itu, Manuputty dicecar 27 pertanyaan.

“Jadi ada ada pemeriksaan dua saksi untuk tersangka Lou. Pemeriksaan ini untuk melengkapi berkas Lou sebagai tersangka. Dua saksi yang diperiksa yakni bendara serta PPTK,” jelas Kasi Penkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette.

Untuk diketahui, Lou ditetapkan menjadi tersangka saat penyidik Kejati Maluku menggelar ekspos, Rabu (22/6) lalu. Sebagai Kepala Disdikpora saat itu ia dinilai bertanggung jawab atas korupsi dana kegiatan sosialisasi kurikulum dan training of trainers guru dan pengawas kurikulum tahun 2013.

Dalam penyelidikan, tim penyidik juga telah mengantongi bukti kuat keterlibatan Fransyane Puttileihalat alias Nane. Bukti dugaan keterliba­tan Nane yang ditemukan adalah saat menjabat Kabid Dikdas, ia me­merin­tahkan bendahara Maria Manuputty dan PPTK  Abraham Tuhenay untuk membuat kwitansi fiktif.

Dua dari empat kegiatan di Disdikpora dikelola oleh Nane dengan nilai anggaran Rp 1.352. 070.000 dari total anggaran Rp 49. 026.487.040. Dua kegiatan tersebut yakni pembinaan kelompok kerja guru/musyawarah guru pelajaran senilai Rp 754.780.000 dan kegiatan mutu dan kualitas program pen­didikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Rp 597. 290.000.

Nane yang saat ini menjabat Plt Kadis Disdikpora Kabupaten SBB juga turut menikmati dana tersebut. Selain bukti kwitansi, hal ini juga dikuatkan dengan keterangan saksi-saksi. Tetapi anehnya,  ia juga diloloskan oleh penyidik. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon