Visi ›› Ulangi Kejayaan Rempah-rempah

Ulangi Kejayaan Rempah-rempah


komoditas rempah-rempah pernah menjadi andalan dan kebanggaan bidang perdagangan di Provinsi Maluku. Saat ini, ‘kejayaan’ itu ingin dikembalikan lagi, yang diyakini bakal mampu menopang perekonomian warga setempat.

Pemerintahan di era Presiden Joko Widodo ingin mengulangi kembali kejayaan rempah-rempah Indonesia yang dulu banyak diminati negara Eropa.  Pemerintah mulai mencanangkan hal tersebut pada tahun 2017 ini karena khususnya rempah-rempah, di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Sejatinya, komoditas herbal ini memang memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Sejarah mencatat, sejak tahun 1500-an memang warga negara Eropa datang ke Indonesia lantaran kaya dengan rempah-rempah terkhususnya di Maluku.

Pada abad pertengahan rempah-rempah merupakan komoditas yang berharga. Pala dan cengkeh di Maluku merupakan komoditi yang paling bernilai tinggi. Kondisi pada saat itu pala merupakan bahan untuk pengawet karena belum ditemukannya mesin pendingin. Pala begitu sangat dibutuhkan di eropa yang harganya melebihi emas. Para pemasok dikuasai oleh pedagang Arab dengan bumbu pala didapatkan dari suatu daerah yang penduduknya kanibal, dan pedagang Cina yang menyembunyikan pala dibalik sutera.

Bangsa eropa pun penasaran ingin langsung mendapatkan dari sumber aslinya. Akhirnya dilakukan ekspedisi mengarungi dunia yang dimulai bangsa Spanyol dan Portugis yang ingin juga mematahkan monopoli pedagang Arab dan Cina. Dari ekspedisi ini yang kemudian terkenal menjadi jalur rempah. Tujuannya adalah mencari pala yang berada di kepulauan Banda yang pada saat itu satu-satunya yang menghasilkan buah emas ini.

Kejayaan masa lalu itu yang hendak dikembalikan lagi oleh pemerintah saat ini. Pemerintah akan menambah anggaran untuk penyedian bibit unggul rempah-rempah untuk Maluku dengan nilai yang mencapai ratusan milyar rupiah.

Fakta menunjukkan sesuai data Kementerian Pertanian, saat ini produksi rempah-rempah Maluku terdapat di Pulu Buru dengan perkebunan cengkeh seluas 1.109 hektar yang menghasilkan 448 ton per tahun. Kemudian, Pulau Buru Selatan dengan lahan perkebunan cengkeh seluas 5.483 hektar dengan hasil 2.096 ton per tahun.

Selanjutnya, Maluku Tengah seluas 18.609 hektar yang menghasilkan 9.758 ton, sedangkan lahan perkebunan pala seluas 11.148 hektare dengan hasil pertanianya mencapai 1.996 ton per tahun.

Sementara itu di Kabupaten Seram Bagian Barat lahan perkebunan cengkeh seluas 6.986 hektar dengan hasilnya 3.298 ton per tahun. Terakhir di Seram Bagian Timur seluas 8.354 hektar kebun pala dengan hasil produksi 737 ton per tahun.

Dengan berbagai kondisi lahan dan program yang sudah disiapkan, pemerintah semakin optimis 10 tahun ke depan Maluku bisa jadi lumbung rempah-rempah di Indonesia dan pada 2045 Indonesia menjadi lumbung rempah-rempah dunia.

Apalagi bukan hanya Kementerian Pertanian, namun Kemendikbud juga mendukung upaya ini dengan menggelar Ekspedisi Jalur Rempah yang akan berlangsung 9-22 Oktober 2017.

Ingatlah “melupakan masa lalu sama dengan membunuh masa depan bangsa ini”, maka jangan pernah kita melupakan sejarah betapa pahitnya itu. Negara kita dikaruniai kekayaan yang berlimpah dan beraneka ragam. Segala potensi dan kekayaan yang ada diharapkan bisa memberi kemakmuran bagi warga setempat, syukur-syukur bisa berbagi bagi warga lainnya. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon