Budaya ›› UKIM-IAIN Angkat Sumpah Pela

UKIM-IAIN Angkat Sumpah Pela


Ambon - Untuk pertama kalinya, dua per­gu­ruan tinggi di Ma­luku, UKIM dan IAIN sepakat angkat sumpah pela.

Dengan meng­ik­rarkan sumpah “Sapa Bale Batu, Batu Bale Tindis Dia” dihadapan Gu­bernur Maluku Said Assa­gaff, dan tokoh-tokoh agama di Maluku disela-sela kon­ferensi internasional yang dilaksanakan Konsorsium Belanda-Indonesia untuk Hubungan Islam-Kristen, di Islamic Center, Ambon Rabu (24/8), kedua perguruan ti­nggi di Ambon ini resmi memiliki hubungan saudara Pela.

Sumpah pela itu ditandai juga dengan penyematan kain oleh gubernur kepada Rektor UKIM C Alyona dan Wakil Rektor I IAIN, Ismail Rumadan.

Kesepakatan Sumpah Pela itu juga ditandai upa­cara adat makan sirih pi­nang simbol pela tampa sirih. Ma­kan sirih pinang ini dilaku­kan oleh kedua pimpinan per­guruan tinggi.

Kepada wartawan disela-sela konferensi internasio­nal bertajuk The 4th Interfaith Dialoque: Towards Inclusive Religious Education in The Netherlands and Indonesia tersebut, Kepala Lembaga Penelitian UKIM, Marthin J Maspaitella menjelaskan Sumpah Pela yang dilaku­kan oleh kedua perguruan tinggi ini merupakan ide spontannya bersama de­ngan salah satu Dosen IAIN M Syafrin Soulissa.

“Ide itu secara spontan datang dari saya bersama dengan Pak Soulisa. Mun­cul­nya secara spontan, kita pikirkan pucak pertemuan yang diadakan oleh Consortium Belanda-Indonesia ha­rus bermanfaat, bagaimana caranya sehingga persauda­raan dan persahabatan kita itu terus terjaga,” jelasnya.

Dikatakan, Sumpah Pela yang diucapkan oleh kedua perguruan tinggi ini, bertujuan untuk memupuk rasa persau­daraan dan persahabatan. Perbedaan keyakinan kata­nya, bukanlah penghalang untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya.

“Semoga dengan sumpah pela ini, dapat memupuk rasa persaudaraan dan persahabatan antara  kita. Ini adalah puncak dari kegiatan dialog antar agama ini,” katanya.

Menurutnya, ikatan Pela yang dibangun diatas dasar pendidikan tersebut untuk memperkokoh tali silahtu­rah­mi bagi peradaban pen­didikan di Maluku dan se­moga jadi model untuk negara-negara lain.

“Kita harapkan apa yang baru pertama kali dilakukan di Maluku ini dapat menjadi model bagi daerah lainnya juga,” ungkapnya.

Mneyangkut tindak lanjut dan implementasi dari sum­pah yang telah diikrarkan oleh kedua perguruan tinggi tersebut, adalah kewena­ngan dari masing-masing pimpinan perguruan tinggi.

Ia berharap momentum yang langka ini bisa diman­faatkan oleh kedua pimpinan perguruan tinggi.

“Soal bagaimana impele­men­tasi kami serahkan ke­pada seluruh pimpinan per­guruan tinggi, bahwa ini momentum yang langka yang tidak pernah ada sebelum­nya, maka seluruh civitas akade­mika IAIN dan UKIM harus merumuskan bagai­mana konstruksi pela yang diba­ngun atas dasar pendi­dikan itu dapat menjadi le­bih bermanfaat,” pungkasnya.

Sementara itu, Akademisi IAIN Ambon, Abidin Wakanno menjelaskan angka pela pendidikan adalah suatu kreatifitas baru.

“Penting angka pela ini dilakukan sesuatu yang baru. Kita pernah lakukan ang­ka pela lintas sekolah. Yang pernah kita lakukan yakni SMPN 9 Ambon dengan SMPN 3 Salahutu. Untuk itu kini giliran perguruan tinggi,” tambahnya.

Kerukunan

Disisi lain, salah satu pe­ng­gagas konferensi terse­but, Zainal Abidin Bagir kepada wartawan disela-sela Dialog Towards Inclusive Religious Education in The Netherlands and Indonesia di Islamic Center, Rabu (24/8) mengaku pen­didikan agama atau pendi­dikan religius sangat pen­ting untuk mewujudkan atau menjadikan Maluku sebagai laboratorium antar umat beragama.

“Hal ini juga penting untuk menjadikan Maluku sebagai laboratorium antar umat beragama. Konferensi ini juga merupakan dukungan kami karena saat ini peme­rintah daerah ingin menja­dikan Maluku sebagai labo­ra­torium kerukunan antar umat beragama,” katanya.

Di tempat yang sama, perwakilan Konsorsium Be­landa-Indonesia, Frans Wijssen menjelaskan saat ini adalah waktu untuk bergeraks bukan hanya berbicara, bagaimana bisa meningkatkan kerja sama antar Belanda-Indonesia tentang pemahaman Islam-Kristen dapat diperluas melalui suatu dialog.

“Bagaimana pemahaman Islam-Kristen itu dapat diper­luas, dan  oleh sebab itu, kita saat ini dialog kita bertemakan pendidikan agama, pendidi­kan religius,” jelasnya.

Kota Ambon, menurutnya, dipilih sebagai tempat kon­ferensi karena pernah me­miliki jejak masa lalu terkait konflik keagamaan.

Relevan

Sementara itu, Gubernur Ma­luku Said Assagaff meng­aku konferensi internasional ini sangat relevan, karena Maluku yang dulu dikenal sebagai daerah kerusuhan atau konflik antar umat Islam dan umat Kristen, khusus­nya sejak 1999 – 2003, kini telah berkembang menjadi salah satu daerah yang me­miliki indeks kerukunan an­tar umat beragama tertinggi atau terbaik di Indonesia, setelah Bali dan NTT.

“Ke depan kami akan te­rus berjuang untuk menja­dikan daerah ini sebagai daerah yang paling rukun dan damai di Indonesia, bahkan dunia.  Cita-cita kami ini, bukan se­kedar untuk mengejar pres­tise, tetapi   bagaimana mem­bangun kualitas keru­kunan dan kedamaian antar umat beragama yang sejati,” ung­kapnya.

Pengalaman pembangu­nan perdamaian di Maluku ka­tanya, dapat dikatakan se­bagai salah satu  contoh yang terbaik di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia.

“Apa yang kami kemukakan ini, agar  kami tidak hanya meratapi masa lalu yang kelam itu, tetapi juga belajar membangun kepercayaan diri dengan apa yang dicapai hari ini sebagai modal sosial dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik,” katanya. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon