Daerah ›› Tunggu KPKNL, Gedung IAIN Dibongkar

Tunggu KPKNL, Gedung IAIN Dibongkar


Ambon - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Has­bollah Toisuta mengatakan, pembongkaran gedung per­pustakaan yang retak akibat pergeseran tanah menunggu persetujuan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

Pihak rektorat tidak bisa me­ngambil langkah sepihak merobohkan atau membongkar tiga gedung yakni perpustakaan, labo­ratorium dan auditorium itu, lantaran gedung-gedung ini masuk dalam daftar aset negara.

Kondisi tiga gedung yang retak itu kini semakin memprihatinkan bahkan mulai runtuh. Di lokasi juga sudah dipasang  police line dan tanggap darurat sambil memasang larangan untuk mendekat areal gedung.

“Ini masih sementara dilakukan kajian, karena berkaitan dengan aset negara maka perlu kami surati dulu pihak KPKNL meminta pendapat mereka. Dari rekomendasi mereka jikasetuju, ya kita robohkan kalau me­mang harus begitu,” jelas Toi­suta, kepada Siwalima, Senin (10/6).

Bongkar

Keretakan gedung perpustakaan, ruangan laboratorium dan auditorium pada kampus IAIN Ambon akibat tanah bergeser, harus segera dibongkar guna meminimalisir resiko yang lebih besar.

Ketua Pusat Studi Bencana Unpatti dan Ketua Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Resiko Ben­cana Maluku, Ferad Puturuhu kepada Siwalima Minggu (9/6) mengatakan,  pihak kampus IAIN harus segera membongkar bangu­nan perpusta­kaan dan dua gedung lainnya itu guna meminimalisir resiko yang lebih besar karena bangunan sudah tidak layak lagi dipakai.

Posisi perpustakaan menurutnya berada di tengah-tengah, sehingga jika terjadi longsor yang lebih besar, bukan saja gedung auditorium yang menjadi sasaran tetapi gedung rektorat yang berada di bagian paling atas lokasi kampus juga ikut terkena imbas.

“Solusi dilakukan oleh pihak rektorat itu gedung pespustakaan harus dibongkar. Hal ini untuk untuk menyelamatkan gedung yang lain dari longsor yang lebih parah lagi.

Olehnya itu kedepan sebelum dilakukan pembangunan pihak kampus harus menganalisis kemi­ringan lahan dengan cara mengebor untuk menganalisas stabilitas lahan. Jadi harus dilakukan pengeboran untuk menganalisa stabilitas lahan sebelum dilakukan pembangunan oleh pihak rektorat, sehingga ke­jadian ini tidak terulang lagi,” tandasnya.

Ia menjelaskan, pembangunan gedung laboratorium IAIN kurang perhitungan. Amblasnya tanah menyebabkan bangunan tersebut yang berada di samping gedung rektorat IAIN Ambon mengalami kerusakan parah dan hampir rubuh.

“Fenomena ini diakibatkan ketika pembangunan gedung perpusta­kaan tanpa perhitungan kondisi tanah, karena wilayah itu merupakan wilayah alian air, sehingga ketika hujan dengan intensitas tinggi ter­jadi pergeseran tanah dan longsor,” kata Puturuhu.

Diakuinya, tanah yang dipakai untuk membangun perpustakaan itu sendiri memiliki struktur tidak padat atau mudah lepas atau kembang kerut, sehingga muda longsor ka­rena ketika dibangun tidak diper­hatikan kondisi tanah,” jelas Puturuhu.

Jnis tanah di kampus IAIN ketika terjadi panas, tanah akan mengerut dan ketika hujan tanah akan mengembang sehingga air dengan mudah masuk ke pori-pori tanah. Dan ketika tanah jenuh atau tidak bisa lagi menampung air, maka terjadi longsor atau pergeseran tanah seperti yang terjadi di IAIN.

“Kalau tidak cepat bangunan per­pustakaan dibongkar maka berdam­pak pada bangunan auditorium. Dan tinggal menunggu waktu saja terjadi longsor yang lebih besar karena posisi perpustakaan berada diatas gedung auditorium kampus,” ujarnya.

Kerugian 100 M

Akibat retaknya tiga gedung tersebut, kerugian yang ditaksir mencapai Rp 100 milyar. Rektor IAIN Ambon, Hasbolah Toisuta kepada wartawan di kediaman Gubernur Maluku di kawasan Mangga Dua Rabu (5/6) mengatakan, peristiwa keretakan tiga gedung milik kampus IAIN itu murni musibah. Toisuta klaim keretakan bukan karena kondisi bangunan yang tidak sesuai dengan konstruksi dan sebagainya.

“Ini murni musibah. Terhadap musibah ini pula, telah dilaporkan ke pusat, kepada pemda untuk mendapatkan tanggap darurat. Seluruh isi gedung terutama buku-buku sudah diungsikan ke gedung lain yang lebih aman. Sudah kami  laporkan ke menteri, koordinasi dengan instansi terkait di sini  untuk menangani tanggap darurat dulu kemudian saya menyampaikan kronologis kejadian secara lengkap. Untuk kemudian dijadikan jalan keluar seperti apa. Sudah saya lapor kepada pak gubernur dari BPBD juga sudah menyampaikan  ke stakeholder termasuk Dinas PU, Dinas ESDM,” jelasnya.

Ia mengaku aktivitas di tiga gedung tersebut kini dialihkan ke gedung lain yang masih kokoh.

“Kalau aktivitas perpustakaan sudah kami ungsikan, aset-aset yang ada di situ sudah di evakuasi dan ada tempat yang layak untuk praktek laboratorium maupun perpustakaan. Jadi sementara gunakan gedung- gedung yang masih ada. Kami juga sudah menghimbau seluruh mahasiswa jangan mendekat di lokasi, dan lokasi juga sudah dikasih police line,” pungkasnya. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon