Politik ›› Tarik Bantuan Kursi ke Gereja, Caleg Demokrat Dikecam

Tarik Bantuan Kursi ke Gereja, Caleg Demokrat Dikecam


Ambon - Caleg DPRD Maluku dari Partai Demokrat, Li­liane Aitonam dikecam kalangan akademisi. Pena­rikan kem­bali bantuan kursi yang di­berikan kepada Gereja Da­mai, di Negeri Waai, Keca­matan Salahutu, Kabupaten Maluku Te­ngah dinilai tak beretika. 

Aitonam menarik ban­tuan kursi, lantaran tidak mendapat suara se­suai yang diharapkan saat pemilu pada 17 April. Sikapnya, tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.

“Sebagai politisi itu tidak elok dan tak beretika karena tidak mem­berikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat,” kata Akademisi Fisip Unpatti, Said Lestaluhu,  kepada Siwalima, melalui telepon selu­lernya, Kamis (30/5).

Lestaluhu mengatakan, semua agama apapun meyakini bahwa setiap perbuatan baik ada amalnya dan jika diberikan secara ikhlas maka pasti ada balasan. Tetapi kalau di­sertai iming-iming, pasti ada konsekuensinya.

“Kalau sudah memberikan ban­tuan tetapi tidak dipilih oleh mas­yarakat maka harus dipertanyakan dan mengintrospeksi diri, kenapa sampai masyarakat tidak memilih, itu berarti masyarakat tahu track record­nya seperti apa,” ujarnya.

Ia menghimbau masyarakat agar kedepan tidak memilih caleg seperti Aitonam, yang memberikan bantuan dengan iming-iming memperoleh suara, apalagi bantuan bagi tempat-tempat ibadah.

Hal senada diungkapkan Akade­misi Fisip UKIM, Max Maswekan. Ia menyayangkan sikap Aitonam.

“Itu sangat disayangkan, ada caleg seperti itu, jika ditarik kembali bantuan yang telah diberikan maka itu tentunya kurang beretika dan tidak bermoral,” tandasnya.

Kata dia, bagaimana mau jadi wakil rakyat dengan sikap seperti itu. Aitonam tidak pantas menjadi seorang wakil rakyat.

“Dari sisi etika, itu sangat tidak pantas, jika sudah dikasih dan tidak memperoleh suara maka itu resiko politik. Kalah menang, itu sudah menjadi resiko politik,” ujarnya.

Maswekan menambahkan, ban­tuan itu harus dijadikan sebagai pemberian cuma-cuma apalagi itu untuk rumah ibadah.

“Dari segi agama itu urusan de­ngan Tuhan, tetapi sesungguhnya itu sikap yang tak bermoral dan beretika sebagai calon wakil rakyat,” tandasnya.

Tarik Kembali

Seperti diberitakan, kecewa hanya memperoleh 21 suara di Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah saat pemilu 17 April, caleg Partai Demokrat, Liliane Aitonam menarik kembali bantuan kursi yang diberikan untuk Gereja Damai.

Caleg DPRD Maluku dapil Maluku III (Kabupaten Maluku Tengah) ini, menyumbangkan 100 buah kursi merk fortune berwarna biru khusus untuk perjamuan.

Bantuan tersebut diberikan saat peresmian Gedung Gereja Damai Waai beberapa waktu lalu. Tetapi bantuannya bukan gratis. Caleg nomor urut 3 ini, meminta kom­pensasi suara signifikan dari Negeri Waai. Namun saat pemilu, Aitonam hanya meraih 21 suara. Ia berang, dan mengambil kembali kursi yang sudah diberikan bagi gereja terse­but.

Sikap Aitonam langsung dipos­ting di facebook oleh warga Negeri Waai, melalui akun bernama M Pattykayhatu pada group informasi Maluku. Statusnya berbunyi, ‘Drg Liliane Aitonam sangat sadis buat jemaat waai. Caleggagal’.

Status tersebut diposting pada Minggu (26/5), pukul 22.01 WIT, dengan menampilkan sejumlah foto kursi yang sementara disiapkan untuk diambil kembali oleh Aitonam.

Status facebook tersebut menda­patkan tanggapan ramai oleh neti­zen. Sekitar 113 netizen memberikan komentar. Sebagian besar menge­cam, dan mengkritik tajam kelakuan Aitonam.

Ngaku Lobi

Tokoh masyarakat Negeri Waai, Semmy Risambessy yang dikonfir­masi, mengakui dirinya yang melobi Liliane Aitonam untuk memberikan sumbangan kursi perjamuan seba­nyak 100 buah bagi Gedung Gereja Damai.

“Iya betul, saya yang meminta sum­bangan kursi waktu itu, berte­patan saat peresmian Gedung Gereja Damai, tetapi beliau sendiri yang meminta supaya bantuan tersebut harus dibarengi dengan kompensasi suara,” kata Risambessy, melalui telepon selulernya, kepada Siwalima, Selasa (28/5).

Mantan Inspektur Provinsi Ma­luku ini mengatakan, ia berani me­nghubungi Aitonam karena ibunya berasal dari Negeri Waai.

“Ibunya Aitonam itu orang Waai, sehingga tidak salah jika saya meminta bantuan, kebetulan saya waktu itu panitia seksi dana, tetapi karena ada permintaan dari ibu dokter seperti itu maka saya sa­rankan untuk ibu dokter harus turun langsung ke Waai sosialisasi karena itu juga kampungnya ibu dokter,” jelas Risambessy.

Risambessy menegaskan, tidak pernah menjanjikan suara signifikan kepada Aitonam sebagai kompen­sasi pemberian bantuan kursi tersebut.

“Saya tidak pernah menjanjikan akan memperoleh suara, karena saya tahu beliau juga tidak asing bagi masyarakat di Waai,” katanya.

Sudah Ambil Kursi

Sementara Liliane Aitonam yang dihubungi, mengaku kecewa dengan sikap jemaat di Waai yang tidak memberikan dukungan suara bagi dirinya saat pemilu. Padahal, ia telah menyumbangkan 100 buah kursi untuk Gedung Gereja Damai.

“Saya dihubungi langsung oleh pa Semmy Risambessy, ia meminta saya untuk menyumbangkan kursi sebanyak 100 buah bagi gereja, awalnya saya keberatan karena masyarakat di Negeri Waai itu tidak bisa dipercaya, tetapi karena tinggal dihubungi terus menerus makanya saya berikan saja,” tandas Aitonam, kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Selasa (28/5).

Ia merincikan, harga satu buah kursi Rp 400 ribu. Jika dikalikan dengan 100 buah kursi maka sumbangan yang diberikan sebesar Rp 40 juta.

“Uang sebanyak 40 juta itu bukan uang yang sedikit, tapi tidak apa-apa. Asalkan dapat suara, ini hanya 21 suara. Itupun bukan dari yang di­janjikan pa Semmy Risambessy, tetapi 21 suara itu dari anak-anak pangkalan ojek yang sebelumnya juga sudah saya berikan bantuan bagi mereka,” ungkap Aitonam.

Aitonam mengaku, dirinya sudah mengambil kembali 100 buah kursi itu dari Gedung Gereja Damai.

“Saya sudah mengambil kembali tadi siang dan akan berikan bagi masyarakat di Seram Utara,” tan­dasnya. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon