Kesra ›› Seminggu Pasca Bencana, 4 Desa Masih Terisolir

Seminggu Pasca Bencana, 4 Desa Masih Terisolir

Ambon - Hari ini, Rabu (8/8), tepat seminggu bencana banjir dan tanah longsor memporak-porandakan hampir semua wilayah di Kota Ambon. Namun pasca bencana tersebut, hingga kini empat desa di Kecamatan Leitimur Selatan masih terisolir.

Keempat desa tersebut, yaitu Naku, Kilang, Ema, Hukurila. Ruas jalan yang menghubungkan keempat desa tersebut dari arah Desa Hatalai maupun Desa Leahari tertutup longsoran tanah.

Sejak terjadi longsoran Rabu (1/8) hingga Selasa (7/8) ternyata Desa Naku, Kilang, Ema, Hukurila masih terisolasi karena ruas jalan menuju keempat desa tersebut tertutup longsoran tanah, batu-batuan dan pepohonan.

Jalur jalan menuju keempat desa tersebut dari arah Desa Hatalai tertutup longsoran sekitar 10 titik. Begitu juga dari arah Desa Leahari.

Camat Leitimur Selatan, Richard Luhukay kepada Siwalima di Ambon, Selasa (7/8), mengatakan, pihaknya sudah berulangkali berkoordinasi dengan dinas terkait untuk segera menormalisasi jalur jalan menuju keempat desa tersebut.

“Kita memang sudah melaporkan dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk segera menormalisasi jalur jalan menuju keempat desa tersebut namun hingga kini belum dapat terealisasi,” katanya.

Dijelaskan, pihaknya memang sudah pernah menggerakan masyarakat untuk membersihkan jalur jalan tersebut dari material longsoran berupa tanah, batu-batuan dan pepohonan namun hasilnya tidak optimal.

“Hasilnya memang tidak optimal karena peralatan yang kita gunakan hanya peralatan sederhana, sementara volume material tanah yang menutup ruas jalan tersebut sangat banyak. Begitu juga batu-batuan sangat besar serta pepohonan juga menutupi ruas jalan. Lokasi longsor juga sangat banyak. Olehnya itu kita butuh alat berat berupa traktor untuk membersihkan ruas jalan tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, pasca bencana, untuk menuju keempat desa tersebut tidak bisa lagi dijangkau dengan kendaraan bermotor. “Selama sepekan terakhir ini masyarakat keempat desa tersebut jika ingin ke pusat Kota Ambon terpaksa harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer ke Desa Hatalai atau ke Desa Leahari guna selanjutnya menggunakan kendaraan darat,” katanya.

Luhukay mengaku akibat terkepung longsoran tanah tersebut, maka masyarakat mulai kesulitan untuk memperoleh sejumlah bahan kebutuhan pokok seperti minyak tanah dan beras.

Bersihkan Pusat Kota

Sementara itu,Pemkot Ambon ternyata lebih fokus untuk membersihkan lokasi bencana di tempat lain dibandingkan di Kecamatan Leitimur Selatan.

Ketua Posko Penanganan Bencana Alam Kota Ambon Piet Saimima mengaku, pembersihan sisa-sisa material bencana banjir maupun longsor yang terjadi di beberapa titik ini telah dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Ambon bekerja sama dengan jajaran TNI, namun baru terfokus di pusat kota.

“Pembersihan sementara kita fokus di pusat Kota Ambon karena jumlah alat berat berupa traktor yang kita milik sangat sedikit,” jelas Saimima kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Selasa (6/8).

Dijelaskan lokasi-lokasi yang mulai dilakukan pembersihan tersebut, yakni kawasan Skip dalam, BTN Kanawa, Aster Tantui, Batu Merah Asrama, Batu Merah Kampung, Batu Merah Kepala Air, Gang Banjo, Tanah Tinggi, Kadewatan serta Passo.

“Setelah itu pembersihan akan dilakukan pada lokasi-lokasi lainya lagi yang terkena dampak bencana ini,” jelasnya.

Selain itu, katanya, pemkot juga telah membangun koordinasi dengan Balai Sungai Wilayah Maluku untuk melakukan normalisasi aliran sungai dan itu sudah mulai dikerjakan hari ini.

“Pembersihan material banjir ini kita utamakan pada pembersihan sampah-sampah yang berserakan akibat terbawa banjir dan untuk mengangkut sampah-sampah ini selain menggunakan armada sampah milik pemkot,” katanya.

Ia menambahkan, pembersihan material sisa-sisa banjir serta longsoran ini tetap akan dilakukan hingga seluruh daerah yang terkena dampak bencana ini bersih dari material longsoran maupun sampah-sampah yang berserakan akibat banjir. (S-12/S-21)



Berita Terkait