Hukum ›› Selesaikan Kekeluargaan tak Hapus Tindak Pidana Anggota Ditreskrimsus Aniaya Warga

Selesaikan Kekeluargaan tak Hapus Tindak Pidana


Ambon - Kendati ada upaya penyelesaian secara kekeluargaan,  namun proses hukum kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anggota Ditres­krimsus Polda Maluku, Ipda Junus Sairlela terhadap Fernando Palim­bong, tetap jalan.

Penyelesaian damai, tidak akan menghapus tindak pidana yang dilakukan oleh Ipada Junus Sairlela.

“Itu tetap saya proses. Sudah periksa sejumlah saksi. Ini tinggal kita periksa pelaku saja. Kan pe­nyelesaian tetapi tidak menghapus tindak pidana. Tetap diproses dan bakal diberi sanksi tegas,” tandas Kabid Propam Polda Maluku, AKBP Agus Sutrisno kepada Siwalima, di Lapangan CHR Tahaparry, Sabtu (11/10).

Tak hanya menganiaya, namun Ipda Junus juga menodongkan pistol ke wajah korban.

Sutrisno menegaskan, sanksi te­gas akan diberikan. Ia menyebutkan bisa kurungan, penundaan kenaikan pangkat, hingga mutasi.

“Kan sudah saya arahkan ke­luarga korban untuk segera ke SPKT laporkan untuk pidananya. Karena itu pidana agar diproses juga. Tetapi informasi mau selesaikan. Kalau dikami tetap jalan proses itu dan sanksinya banyak bisa kurungan, bisa saja tunda kenaikan pangkat atau bisa saja dimutasikan. Kita tetap proses dan tetap diberi sanksi tegas,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, anggota Ditreskrimsus Polda Ma­luku, Ipda Junus Sairlela dilaporkan ke Propam, menyusul aksi preman­nya menodongkan pistol ke wajah Luis Fernando Palimbong dan menganiayanya hingga babak belur.

Akibat penganiayaan yang terjadi pada Senin (9/10) itu, korban mengalami luka robek pada lengan kanan, luka robek pada pergelangan tangan kiri, lebam pada rahang kiri serta bengkak pada bagian kepala dan luka robek pada bibir atas bagian kiri.

Kepada wartawan, Rabu (11/10) warga Passo Air Besar, Kecamatan Baguala Kota Ambon ini, mengung­kapkan, peristiwa penganiayaan tersebut berawal, pada Senin (9/10) sekitar pukul 17.00 WIT, dirinya ber­sama salah satu saudaranya menu­ju ke kawasan Air Besar bagian gu­nung dengan mengendarai sepeda motor. Saat melintasi Lorong Teratai, ke­duanya bertemu dengan beberapa teman mereka. “Saat itu kita ber­canda dengan teman-teman yang ada di situ. Setelah itu, kami pergi,” ujar korban.

Saat tiba di samping rumah ke­luarga Parera, tiba-tiba Ipda Junus Sairlela yang mengendarai mobil Avansa langsung menghadang se­peda motor yang ditumpangi korban dan saudaranya.

Ipda Junus turun dari mobil lang­sung mencabut pistol dari ping­gangnya, dan menodongkan ke wajah korban. Tanpa basa basi, dia langsung menganiaya korban dengan brutal.

“Saat saya dipukul, saya teriak pak saya salah, apa kalau salah saya minta maaf. Kata maaf ini berulang kali saya keluarkan, namun pelaku tak mau tahu terus menganiaya saya, sampai ibu-ibu di sekitar itu yang lihat berteriak minta pelaku hentikan penganiayaan itu,” bebernya.

Walaupun warga sekitar sudah teriak minta hentikan penganiayaan itu, Ipda Junus tak menggubrisnya. Kemudian salah satu anggota polisi yang tinggal di kawasan tersebut bernama Bripka Pardi yang kebe­tulan melintas, langsung melerai tindakan brutal Ipda Junus.

“Setelah dilerai kemudian saya dibawa ke rumah sakit untuk obati luka saya, dimana pergelangan ta­ngan kiri saya alami luka robek sehingga dapat lima jahitan dan lengan kanan saya tujuh jahitan,” ungkap korban.

Usai mendapat pengobatan, Ipda Junus mengajak korban ke Polsek Baguala untuk menyelesaikan ma­salah ini secara damai. Saat di Pol­sek,  Ipda Junus juga marah-marah. Mungkin karena anggota terlalu lama membuat surat pernyataan, memuat dia naik pitam.

Ipda Junus dengan arogannya langsung masuk ke ruangan peme­riksaan dan membentak anggota yang sementara membuat surat pernyataan itu.

“Pelaku ini tiba-tiba masuk ruangan langsung katakan, saya ini perwira Polda Maluku, masa bikin saya seperti ini. Setelah katakan demikian pelaku langsung rampas kertas dan pena dari anggota Polsek dan membuat surat pernyataan sen­diri dan suruh saya tanda tangani,” beber korban.

Namun korban tidak mau menan­datanganinya, sebab keluarganya minta untuk pulang dan melaporkan kasus ini ke Propam Polda Maluku.

“Kita laporkan kasus ini ke Pro­pam pada hari itu juga pada malam hari dan laporan kita itu diterima oleh dua anggota masing-masing pak Jefri Linanasera dan pak Albert Lewrissa,” ungkap lelaki 21 tahun ini.

Sebagai masyarakat kecil, korban berharap Propam memproses kasus ini hingga tuntas.  (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon