Hukum ›› Sampel Limbah KM Barokah akan Diuji di Laboratorium

Sampel Limbah KM Barokah akan Diuji di Laboratorium


Ambon - Sampel limbah KM Barokah akan diuji di laboratorium untuk memas­tikan penyebab keracunan Anak Buah Kapal (ABK) KM Barokah milik PT. Samudera Sat Sepakat (SSS) yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Suharwiyono mengaku, penyidik  telah mengambil sampel limbah kapal tersebut untuk diuji di laboratorium.

“Sampel limbah sudah kita ambil guna seterusnya diuji di labora­torium guna memastikan penyebab keracunan yang dialami para ABK,” ungkap Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Suhar­wiyono kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (12/12).

Ia menjelaskan, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan belum bisa diungkap secara jelas penyebabnya.

Sebelumnya diberitakan, Satu ABK KM Baroka milik PT. Samudera Sat Sepakat (SSS) tewas sedangkan tiga lainnya dirawat di Rumah Sakit (RS) Memorial Otto Kuyk-Passo akibat keracunan limbah kapal.

ABK yang tewas, yaitu Ato yang merupakan juru masak pada kapal penampung ikan Tuna dan Cakalang tersebut sementara tiga ABK lainnya yang masih dirawat di RS Memorial Otto Kuyk-Passo, yaitu Rommy, Rido dan Jimmy Lekiqhopy. Rommy merupakan warga negara Filipina.

Salah satu ABK KM Baroka, Edy Lewansora kepada Siwalima di RS Memorial Otto Kuyk-Passo, Selasa (6/12), menjelaskan, keempat korban tersebut keracunan akibat meng­hirup udara dari limbah yang berada di dek kapal bagian bawah.

“Seperti biasanya pasca pem­bongkaran ikan, kapal berlabuh di Dermaga Air Manis, Desa Laha, Keca­matan Teluk Ambon, untuk selanjutnya para ABK mencuci kapal,” jelasnya.

Namun katanya, nasib sial dialami para ABK tersebut karena limbah kapal yang terdiri dari sisa oli, air laut serta sisa ikan telah berubah menjadi racun sehingga sangat membahayakan saat dihirup.

“Ketika itu Ato turun ke dek yang paling bawah bersama dengan Rommy untuk memasukan selang guna menarik air limbah tersebut dengan alcon, namun ketika turun tak lama kemudian keduanya pusing dan jatuh pingsan,” katanya.

Melihat kejadian itu, ungkap Edy, dua ABK lainnya, yaitu Rido dan Jimmy kemudian turun untuk mem­bantu namun ternyata keduanya ikut keracunan ketika menghirup aroma limbah dalam dek bagian bawah tersebut.

“Rido dan Jimmy kemudian jatuh pingsan. Akhirnya kami terpaksa menarik air limbahnya ke atas terle­bih dahulu sehingga dapat meng­evakuasi keempat rekan kami yang sudah pingsan tersebut,” ungkap­nya.

ABK lainnya, Edo Masea menga­takan, para ABK maupun masya­rakat sekitar telah berupaya untuk mengevakuasi keempat korban saat mengalami keracunan sekitar pada pukul 18.00 WIT.

“Kita memang berupaya meng­evakuasi mereka ke RS terdekat namun upaya tersebut ternyata tidak membuahkan hasil yang maksimal, karena dalam perjalanan Ato akhirnya meninggal dunia,” katanya. (S-35)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon