Budaya ›› Ribuan Warga Padati Atraksi Pukul Sapu

Ribuan Warga Padati Atraksi Pukul Sapu


Ambon - Ribuan warga me­madati Negeri Morella maupun Mamala, Kecama­tan Leihitu, Kabu­paten Malteng, Ra­bu (13/7), menyak­sikan atraksi pukul sapu yang merupakan bagian dari perayaan 7 Syawal.

Sapu lidi dari pohon enau (are­nga pinnata), yang biasanya di­gunakan membersihkan halaman, walau bentuknya ramping dan kecil, batang sapu ini dapat menim­bulkan sakit jika dipukul ke tangan, kaki atau anggota badan lain.

Namun, tidak demikian bagi warga di Desa Mamala dan Morela. Kendati dipukul berkali-kali dengan batang lidi yang dalam bahasa Maluku disebut pohon mayang, hingga menimbulkan guratan merah di badan dan mengeluarkan darah, sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah.

Kebiasaan saling memukul dengan lidi merupakan salah satu tradisi unit masyarakat kedua desa bertetangga dan memiliki pertalian hubungan saudara yang dikenal dengan ritual adat “Pukul Sapu”.

Ritual adat tergolong ekstrim di desa yang terletak di bagian Timur Pu­lau Ambon tersebut biasanya digelar setiap tahun saat perayaan 7 Syawal setelah umat Muslim sele­sai merayakan Idul Fitri. Tradisi ini pun telah dilakukan dan terus diles­ta­rikan sejak abad 16 atau di masa penjajahan Portugis dan Belanda.

Pada Lebaran tujuh Syawal tahun ini, atau Rabu (13/7). tradisi yang melegenda itu kembali digelar dan menyedot perhatian ribuan pengunjung.

Dengan memegang dua ikat lidi mentah yang baru dipotong dari po­hon aren, dua regu pemuda me­masuki arena. Senyum tersung­ging di wajah mereka. Mereka memang patut bergembira, karena tidak semua pemuda di kedua desa itu diperkenankan mengikuti tradisi adat tersebut. Mereka adalah pemuda-pemuda pilihan dari desanya masing-masing.

Sama seperti halnya sepakbola atau permainan lainnya, dalam tradisi ini juga seorang tokoh adat di kedua desa itu bertindak sebagai wasit. Dengan peluitnya sang wasit memandu jalannya atraksi saling memukul antar kedua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Saat seruling berbunyi kelompok yang satu dipersilahkan lebih dahulu untuk memukul kelompok yang lain. Begitu pun sebaliknya saat seruling dibunyikan lagi, giliran kelompok yang dipukul, gentian memukul lawannya tadi.

Masing-masing pemuda dengan memegang dua hingga tiga batang lidi - ukurannya lebih besar de­ngan panjang antara 1,5 - 2 meter dengan diameter pangkal men­capai 1-3 sentimeter - terlihat me­mukul berkali-kali badan lawannya dengan sekuat tenaga. Area pukulan hanya dibatasi dari dada kebagian bawah.

Sabetan lidi yang mengenai badan lawan mengeluarkan bunyi cukup keras menyerupai lecutan cambuk. Terkadang tiga batang lidi yang digunakan sudah hancur hanya dalam hitungan dua atau tiga kali sabetan saja.

Pukulan lidi berkali-kali meng­akibatkan guratan merah meman­jang sekujur tubuh para pemain. Sebagian besar malah menge­luar­kan darah. Bahkan tidak jarang potongan batangan lidi pun turut tertancap pada kulit dan luka di tubuh para pemain.

Uniknya, tidak sedikit pun terlihat atau terdengar erangan dan jeritan kesakitan para pemain akibat dipukul dengan lidi. Mereka malah sebaliknya terlihat ketagihan untuk dipukul berulang kali. Atraksi ini tentunya membuat gemetar dan ngeri pengunjung yang baru pertama kali menyaksikannya.

Tidak jarang warga yang berada paling dekat dengan arena atraksi, harus meringis kesakitar akibat terkena sabetan batang lidi para pemain. Sebagian besar pemain mengaku tidak merasakan sakit di tubuh mereka yang memar dan luka serta mengeluarkan darah akibat sabetan lidi itu.

Resmikan Stadion

Sementara itu, sebelum aktrasi pukul sapu, Gubernur didampingi oleh Wakapolda Maluku Kombes Musa Ginting, Sekda Malteng me­nandatangani prasasti peresmian Stadion 7 Syawal Morella.

Setelah itu, Gubernur menerima penyulutan obor Tulukabessy yang telah dibakar sejak semalam di rumah tua atau rumah adat dari Kapitan Tulukabessy, yang juga apinya diambil langsung dari Benteng Kapahaha.

Usai itu, Gubernur bersama para tamu, ribuan penonton yang me­madati stadiun menyaksikan aktrasi bambu gila dan aktrasi pukul sapu lidi.

Saat meresmikan stadion terse­but, Gubernur mengharapkan agar stadion yang baru saja diresmikan olehnya dapat digunakan sebagai­mana mestinya dan seperlunya.

“Saat ini saya juga akan res­mikan stadiun pukul sapu kiranya dapat digunakan sebagaimana mestinya dan seperlunya,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur me­nga­takan atraksi budaya pukul sapu ini harus dipromosikan hing­ga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Dampaknya tidak hanya men­datangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejah­teraan masyarakat di dua Desa tersebut.

“Tentu kita semua berharap, tradisi pukul sapu saat ini dapat  berkem­bang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwi­sata Maluku dalam rangka mening­katkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Mamala

Berbeda dengan di Morela, di Negeri Mamala juga tak kalah ramainya dengan Morella, aktrasi yang sama bambu gila, suguhan tarian adat, dan pukul sapu benar-benar mendapat perhatian masya­rakat Maluku.

Ribuan penonton sejak Pukul 12.30 WIT telah memadati lapa­ngan tempat pelaksanaan aktrasi.

Acara sakral ini dibuka secara resmi oleh Sekertaris Daerah Ma­luku Hamin bin Thahir, yang didampingi Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal, Pangdam XVI Pattimura Mayjen Doni Monardo, dan Kapolda Maluku Brigjen Ilham Salahudin.

Tepat pukul 17.00 WIT, Gubernur bersama rombongan dari Morella berjalan menuju Mamala, demi­kian sebaliknya, Sekda bersama rombongan menuju Morella.

Sesampainya di Stadion Hatu­sela, Mamala, Gubernur langsung men­coba untuk melalukan aktrasi pu­kul sapu tersebut. Kehadiran Gu­ber­nur dan rombongan serta aktrasi pukul sapu pun mendapat respon positif dariribuan penonton yang ada.

Respon tersebut ditunjukan lewat kesempatan yang diberikan kepada gubernur untuk menjadi orang pertama yang mengoles minyak yang sakral tersebut pada tubuh mereka yang melakukan aktrasi pukul sapu. Minyak tersebut memiliki khasiat yang ampuh untuk menyembuhkan luka. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon