Hukum ›› Polisi Koordinasi BPK Percepat Tuntaskan Audit TPPU Vanath

Polisi Koordinasi BPK Percepat Tuntaskan Audit TPPU Vanath


Ambon - Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku terus melakukan koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk sece­patnya menuntaskan audit kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) Bupati SBT, Abdullah Vanath.

Semua data dan bukti yang dibutuhkan untuk audit keru­gian negara sudah diserahkan kepada penyidik Ditreskrim­sus.

“Koordinasi terus dilaku­kan dan sudah banyak. Se­mua data sudah diserahkan,” jelas Kabid Humas Polda Ma­luku, AKBP Hasan Mukaddar kepada Siwalima, Senin (5/1).

Mukaddar tak mau banyak ber­komentar karena audit ke­rugian negara sementara dila­kukan. “Intinya kami terus koor­dinasi agar kasus ini bisa sece­patnya dituntaskan,” ujarnya.

Bukti-bukti dugaan korupsi dan TPPU Vanath diserahkan saat ekspos penyidik Ditres­krimsus pada Selasa (23/12) lalu di Kantor BPK Perwakilan Maluku.

Dari hasil pemeriksaan saksi dan bukti lainnya yang dikan­tongi penyidik, Vanath dike­tahui menikmati bunga “depo­sito haram” mencapai Rp 500 juta. 

Deposito haram yang di­nikmati penguasa kabupaten berjuluk Ita Wotu Nusa itu  selama kurun waktu tahun 2006-2008. Modus yang ia la­kukan yaitu dengan memin­dah­kan deposito milik Pem­kab SBT senilai Rp 2,5 milyar ke rekening pribadinya.

Selain itu, ia juga menarik bu­nga 1 persen dari setiap uang milik Pemkab SBT yang di­simpan di Bank Mandiri Ca­bang Pantai Mardika Ambon.

“Bunga-bunga yang masuk ke rekening Vanath tahun 2006-2008 dihitung hampir mencapai 500 juta rupiah,” ungkap Direktur Reskrimsus, Kombes Pol. Sulistyono di­dampingi Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Hasan Mu­kad­dar kepada wartawan di Polda Maluku, Senin (22/12)

Sulistyono menjelaskan, Vanath juga membuka Giro Non Customer  (GNC) di Bank Mandiri Cabang Pantai Mardika. Melalui kebijakan pihak bank ini Vanath bisa menarik tunai bunga hasil kejahatannya.

“Kami sudah mendapatkan satu surat dari bunga-bunga deposito masing-masing 1 persen ditransfer ke rekening Vanath,” ujarnya. 

Sulistyono mengakui, ada hal-hal yang tak diakui oleh Vanath, namun bukti-bukti sudah di tangan penyidik. Ia juga sudah mengembalikan Rp 140 juta ke kas daerah.

“Saya kaget ternyata Va­nath kembalikan dan setelah ditanya katanya tahu setelah ramai di koran akhir Oktober. Saya sudah kaya dengan alat bukti, tidak akan lari ke mana-mana. Setiap bunga yang masuk reke­ning pribadinya itu, dia yang ambil di GNC, dia tidak ngaku, berdalih kalau kabag keuangan dan sekda yang sudah me­ninggal ngam­bil. Tidak ada itu, tidak ngaku, tapi saya punya alat bukti,” tandasnya.

Sulistyono mengatakan, pengembalian uang Rp 140 juta ke kas daerah menun­jukkan bahwa Vanath meng­akui perbuatannya.

“Secara tidak langsung me­ngakui, jadi pidana yang dila­kukan oleh tersangka Vanath sudah sempurna,” ujarnya.

Sulistyono memberi sinyal kalau akan ada tersangka baru. Proses pengembangan penyi­di­kan masih terus dilakukan. “Pemeriksaan belum selesai dan masih terus saya kem­bang­kan. Kemudian saksi-saksi lain juga akan dikem­bangkan karena seseorang dalam melakukan korupsi tidak sendiri, pasti ada yang mem­bantu,” beber Sulistyono.

Menurut Sulistyono, sela­ma dua hari Vanath diperiksa yaitu Rabu, (17/12) dan dilan­jutkan Kamis (18/12) ia mengakui perbuatannya.

Vanath memindahkan uang milik Pemkab SBT Rp 2,5 milyar ke rekening pribadinya, dan menjadikannya sebagai tanggunan untuk mengambil kredit di Bank Mandiri Ca­bang Pantai Mardika.

“Rabu dan Kamis pekan ke­marin kita periksa sebagai ter­sangka dan pa Vanath meng­akui dana Pemkab SBT 2,5 mil­yar awalnya giro kemudian dipindahkan menjadi deposito Pemkab SBT dan kemudian dipin­dahkan lagi oleh Pa Va­nath ke rekening pribadinya. Kemudian dijadikan anggunan mengambil kredit 2 milyar di Bank Mandiri,” jelas Sulisty­ono.

Awalnya Vanath mengurusi pemindahan deposito terse­but di Bank Maluku Cabang SBT, namun ditolak sehingga dilakukan di Bank Mandiri Pantai Mardika.

Modus kejahatan yang dija­lankan  Vanath ternyata berja­lan mulus. Sebagai eks pega­wai Bank Modern Expres ia diberi keistimewaan oleh pihak Bank Mandiri Cabang Pantai Mardika.

“Awalnya mau urus di Bank Maluku Cabang SBT, tetapi tidak diterima. Kemudian ke Bank Mandiri Cabang Pantai Mardika. Ia menyuruh kabag keuangannya yang sudah me­ninggal untuk mengurus kredit 2 milyar sekaligus memindah­kan deposito ke rekening pri­badi.  Vanath itu mantan pega­wai Bank Modern Expres, sekitar empat tahun ia bekerja sehingga tahu tahapannya,” ungkap Sulistyono.

Sulistyono juga meng­ungkapkan, saat pemeriksaan ada pula yang tidak diakui oleh Vanath, namun semua bukti sudah dikantongi.

“Kami punya alat bukti yang lengkap dari hasil peme­riksaan staf-staf pemda SBT, DPRD SBT, staf Bank Mandiri Pantai Mardika. Kemudian kita gabungkan lagi hasil pe­riksa ahli perbankan, keua­ngan negara, TPPU dan admi­nistrasi hukum tata negara menyampaikan bahwa pidana sudah terjadi, walaupun ada yang Vanath tidak akui. Ini menunjukan Vanath belum gentle. Gentlenya nanggung-nanggung,” ujarnya. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon