Kriminal ›› Polisi dan Warga Latu Baku Tembak Satu Tewas, Dua Luka-luka, Aparat Dipertebal

Polisi dan Warga Latu Baku Tembak


Ambon - Pasca penangkapan salah satu pelaku pem-bunuhan Syamsul Lussy, situasi di Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat memanas. Polisi terlibat baku tembak dengan warga setempat.

Warga Latu tak menerima Zulkarnain Patty alias Kur­nain Patty, yang diduga salah satu pelaku pembu­nu­han Syamsul Lussy ditang­kap dan digiring ke Polda Maluku.

Tak hanya menyerang dan melempari Kantor Polsek Amalatu. Mereka juga melakukan blokade ja­lan, Rabu (16/5). Menyu­sul memanasnya situa­si, puluhan personil Brimob Polda Maluku Deta­semen B yang bermarkas di Amahai, Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah digeser ke Polsek Amalatu.

Informasi yang diperoleh dari kepolisian menyebutkan, sekitar pukul 22.30 WIT personil Brimob Detasemen B berjumlah 25 orang  dipimpin oleh AKP Agung Pranajaya yang menggunakan baracuda dan truk yang hendak ke Polsek Amalatu dihadang dengan blokade oleh warga Latu.

Puluhan anggota brimob bersen­jata lengkap tertahan. Mereka kemu­dian dihujani dengan batu. Anggota brimob langsung mengeluarkan tembakan peringatan. Namun diba­las dengan lemparan batu dan bom.

Warga Latu semakin beringas. Mereka melakukan perlawanan de­ngan bom maupun tembakan senjata api. Alhasil, baku tembak pun terjadi dengan anggota brimob.

Akibat kontak senjata itu, seorang warga Latu bernama Sulaiman Patty (39) tewas, dengan luka tembak di dada. Sedangkan dua lainnya, Mohtar Patty (38) mengalami luka pada lengan kiri dan Asnawir Patty, luka robek di kepala sebelah kiri. Keduanya kini dirawat di Puskesmas Kairatu.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Muhammad Roem Ohoirat kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (16/5), mengakui terjadi kontak senjata antara anggota Brimob Detasemen B.

Ohoirat kemudian menjelaskan kronologis hingga terjadinya baku tembak tersebut. Awalnya, aparat kepolisian melakukan razia senjata tajam. Sekitar pukul 16.55 WIT lewat mobil Xenia. Mobil itu ditahan dan dilakukan pemerik­saan.

Saat jok mobil diangkat, Zulkar­nain Patty terjatuh. Rupanya ia ketakutan sehingga bersembunyi di dalam jok mobil. Zulkarnain lang­sung diamankan.

“Jadi saat aparat yang tengah razia senjata tajam mengangkat jok mobil belakang ternyata KP ter­jatuh, dan setelah dilihat orang­nya, dia merupakan orang yang selama ini dicari Polres SBB karena terkait kasus penganiayaan Syam­sul,” kata Ohoirat.

Setelah itu, Zulkarnain Patty diba­wa ke Mapolres SBB di Kota Piru. Kabar penangkapannya memicu kemarahan warga Latu.

Mereka ramai-ramai mendatangi Polsek Amalatu. Permintaan mereka hanya satu, membebaskan Zulkar­nain Patty. Massa melempari Polsek Amalatu hingga kaca pecah dan me­rusak sejumlah fasilitas milik polisi.

“Anggota kami yang menjaga dan mengamankan mapolsek, juga dilempari, dicaci maki, tapi anggota tetap tenang tidak emosi. Bahkan baliho ucapan ramadhan panglima dan kapolda juga dirusak di ma­polsek. Polsek juga dirusaki,” beber Ohoirat.

Warga juga mengancam akan mem­bakar polsek bila tuntutan mereka melepaskan Zulkarnain Patty tidak dituruti polisi. Karena itu, untuk menjaga dan mem­pertahankan Mapolsek Amalatu sebagai simbol negara, pasukan Brimob Polda Maluku yang ada di Amahai dikirim untuk mengamakan Mapolsek Amalatu.

Sayangnya, dalam perjalanan dari Masohi ke Latu, mereka tertahan blokade, sehingga terjadi bentrok.

“Pasukan brimob diserang warga. Bahkan terjadi penembakan dan pelemparan bom kepada anggotabrimob. Akibatnya kaca mobil truk brimob bagian depan dan belakang yang ditumpangi anggota pecah. Belakang mobil yang kena tembak berarti ada penyerangan juga dari bagian belakang mobil, juga di depan mobil truk. Kita lihat sobekan dimungkinkan ini akibat lemparan bom. Anggota diserang dari muka maupun belakang, anggota cuma bertahan sambil mundur, dan sambil melepaskan tembakan,” ungkap Ohoirat.

Situasi saat itu, kata Ohoirat, tidak bisa lagi dikendalikan, sehingga personil brimob melepaskan tem­bakan

 “Saya tidak bisa mengelak bahwa ini adalah tembakan daripada ang­gota brimob. Saya tidak bilang bahwa itu tidak, tapi saya juga tidak bilang bahwa itu iya. Kenapa? Masyarakat juga melakukan penem­bakan terhadap kita dari depan dan belakang. Jadi tidak tahu yang bersangkutan ini, korban akibat dari pelurunya siapa,” tandasnya.

Menurut Ohoirat, bisa diketahui korban ditembak oleh aparat atau bukan, bila masyarakat atau ke­luar­ga korban menghendaki dilakukan otopsi terhadap korban. Karena dari hasil otopsi itu bisa diketahui jenis peluru yang bersarang di tubuh korban.

“Bisa diketahui peluru kira-kira kaliber berapa?, dan dari situlah bisa diketahui peluru berasal dari senjata api siapa?. Tapi situasi sekarang ini tidak memungkinkan untuk kita melakukan otopsi,” katanya.

Blokade Jalan

Seperti diberitakan, Syamsul Lussy dianiaya hingga tewas pada Sabtu (4/5) sore. Korban diparangi secara sadis oleh sekelompok warga Latu.

Buntut pembunuhan terhadap Syamsul Lussy, warga melakukan blokade jalan sejak Minggu (5/5) pagi.

Akibat penutupan jalan tersebut, akses jalan lintas seram lumpuh total. Arus lalu lintas kendaraan dari arah Bula, Kabupaten SBT, Kabu­paten Maluku Tengah dari dan ke dermaga Feri Waipirit-Hunimua, Pulau Ambon, terhenti.

Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, warga Hualoy, mem­buka blokade jalan, pada Jumat (10/5) malam sekitar pukul 20.00 WIT.

Warga Desa Latu dan Hualoy, sebelumnya terlibat bentrok pada Rabu, 20 Februari 2019 lalu. Bentrok yang terjadi sekitar pukul 09.00 WIT itu, mengakibatkan 4 gedung se­kolah dibakar, 1 orang tewas dan tiga orang mengalami luka-luka. Namun hingga kini tak ada pelaku yang ditangkap.

Aparat Dipertebal

Menyusul situasi makin memanas di Desa Latu, TNI dan Polri mempertebal pasukan di Polsek Amalatu.  

Saat ini sebanyak 191 personil Polres SBB, 23 personil  anggota TNI dan  68 personil brimob sudah ditempatkan.

“Situasi sudah kondusif, namun personil dipertebal untuk mengan­ti­sipasi hal-hal yang tidak diingin­kan,” ujar Ohoirat.

Ohoirat mengatakan, Polda Ma­luku mengucapkan turut berbela­sungkawa atas meninggalnya Su­laiman Patty.

Sementara pelaku pembunuhan Syamsul Lussy lainnya, masih dalam pengejaran.

“Mereka ini sudah dipanggil pang­gil tetapi tidak datang hingga dike­luarkan surat perintah penahanan,” jelasnya.

Informasi yang diperoleh, para pelaku lain yang masih dikejar adalah Usman Silehu, Sayuti  Patty dan  Zulham Wakanno dan Kamil Tupamahu.

Warga Latu Tuntut

Warga Latu menuntut komandan lapangan Brimob Detasemen B, AKP Agung Pranajaya untuk menyerah­kan anak buahnya yang menembak Sulaiman Patty hingga tewas.

“Komandan lapangan Brimob Detasemen B Pelopor harus secara satria menyerahkan anak buahnya yang melakukan penembakan untuk proses hukum. Pelaku penembakan harus dipecat,” tandas tokoh masya­rakat Desa Latu, Muhamad Patty dalam rilisnya yang diterima Siwa­lima, tadi malam.

Menurut Patty, penembakan ok­num anggota brimob kepada warga terjadi pada pukul 21.30 WIT di tengah-tengah kampung.

“Tepat pukul 21.30 WIT, Rabu 15 Mei  rombongan Detasemen B Pelopor Brimob Amahai melakukan penembakan terhadap aksi warga Negeri Latu. Tiga warga Latu tertem­bak, dan satu tewas di tempat. Warga yang korban, Sulaiman Patty tewas, Muhktar Patty dan Asnawi Patty keduanya mengalami luka tembak,” jelasnya.

Patty mengaku, aksi blokade jalan yang dilakukan warga Latu sebagai bentuk perlawanan terhadap pe­nangkapan Zulkarnain Patty. Warga hendak menghalau rombongan brimob. Ketika terjadi adu mulut bersama warga, tiba-tiba terjadi tembakan lima kali ke arah warga dalam jarak 15 meter oleh personil brimob.

“Seketika itu pula Sulaiman Patty tewas di tempat. Melihat tiga warga yang tersungkur jatuh, serentak warga melempar dengan kayu, batu dan tiga buah bom rakitan. Mereka membalas reaksi warga Latu dengan tembakan rentetan selama kurang lebih 10 menit ke arah warga, dan rumah warga lurus ke arah jalan raya trans Seram,” kata Patty. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon