Kriminal ›› Petinggi Unpatti Lobi Jaksa, Minta 86 Kasus Korupsi Fekon Kemarin Jaksa Periksa 8 Pejabat Unpatti

Petinggi Unpatti Lobi Jaksa, Minta 86 Kasus Korupsi Fekon


Ambon - Petinggi Unpatti ketakutan setelah Kejari Ambon membongkar kasus dugaan korupsi dana rutin yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp 3 miliar di Fakultas Ekonomi (Fekon) Unpatti. Lobi pun mulai dilakukan untuk menghentikan penyelidikan kasus ini.   

Sumber Siwalima, di kejaksaan Selasa (12/11), mengaku, beberapa waktu lalu ada petinggi Unpatti yang mendatangi Kajari Ambon, R Zega untuk meminta agar penyelidikan kasus dugaan korupsi di Fekon dihentikan.  

“Ada dari Unpatti yang datang temui pa Kajari, ya seperti itu untuk meminta kami hentikan proses penyelidikan kasus ini,” ungkap sumber itu.

Namun sumber itu tak mau menye­butkan petinggi Unpatti yang menemui Kajari. “Tidak perlulah saya sebutkan, saya lupa kapan wakutnya, tapi ada yang datang menemui pa Kajari,” kata dia.

Namun Kajari Ambon, R Zega, yang dikonfirmasi di Kantor Kejari Ambon, membantahnya. “Ah,ngak ada itu. Nanti kamu ikuti  saja perkembangan kasus­nya,” ujarnya.

Kajari menegaskan, pihaknya akan menuntaskan kasus dugaan korupsi di Fekon Unpatti, karena sudah ada calon tersangkanya. “Saya yakin kasus ini akan kami tuntaskan karena dalam waktu dekat akan diekspos untuk ditingkatkan ke penyidikan, apalagi sudah ada calon tersangkanya,” tandasnya.

Sejumlah pekerjaan senilai Rp3 miliar yang bersumber dari dana PNBP tahun 2011 dan 2012 di Fekon Unpatti terindikasi fiktif. Selain itu, diduga terjadi mark up besar-besa­ran pada nilai pekerjaan tersebut.

Setelah menerima laporan dari salah satu LSM, Kajari Ambon, R Zega langsung mengelurkan surat perintah penyelidikan pada Bulan September 2013.  

Sumber Siwalima di kejaksaan menyebutkan, dugaan penyele­wengan anggaran negara itu terjadi dalam sejumlah pekerjaan diantara­nya, pengadaan barang dan kegia­tan praktikum mahasiswa tahun 2011 senilai Rp1,2 miliar dan tahun 2012 senilai Rp1,8 miliar. 

“Anggaran itu hanya bisa untuk belanja barang misalnya terdiri dari ATK, barang habis pakai, dan kegia­tan praktikum mahasiswa. Namun anggaran itu digunakan untuk kegiatan  lain,” kata sumber itu.

Sumber itu juga menjelaskan, total anggaran Rp 3 miliar tersebut  merupakan anggaran rutin yang dikucurkan rektorat setiap tahun atas permintaan Fekon.

“Satker Fakultas Ekonomi meng­ajukan permintaan ke rektorat, dan melalui permintaan tersebut angga­rannya dicairkan, dengan ketentuan dalam jangka waktu dua minggu sudah harus membuat laporan pertanggungjawaban,” ujarnya.

Setelah jaksa melakukan peng­usutan ditemukan laporan pertang­gungjawaban yang dibuat adalah fiktif alias palsu. Hal ini juga diper­kuat dengan pemeriksaan sejumlah saksi.

“Ada nota-nota belanja yang se­ngaja dipalsukan atas perintah petinggi Fekon Unpatti, termasuk didalamnya mengisi nota-nota ko­song. Jadi laporan pertanggung­jawaban yang dibuat terindikasi fiktif,” ungkap sumber itu.

Lagi Pejabat Unpatti Diperiksa

Penyidik Kejari Ambon kembali memeriksa delapan pejabat Un­patti, Selasa (12/11).

Mereka yang diperiksa diantara­nya, Karo Umum dan Keuangan Fer­dinand Waas selaku Pejabat Penan­datanganan Surat Perintah Mem­bayar (SPM); mantan Bendahara Penerimaan J Tehusilawany; mantan Bendahara Pengeluaran R Adam, dan Ketua Jurusan Akuntansi Fekon, FM Anakotta.

Kasi Intel Kejari Ambon Fauzan mengatakan, pemeriksaan mereka sebagai saksi untuk menelusuri aliran dana PNBP  tahun 2011 dan tahun 2012.

“Penyidik ingin mengetahui untuk apa dana tersebut digunakan dan bagaimana pertanggungjawaban­nya,” ujarnya, kepada Siwalima, di Kantor Kejari Ambon.

Menurut mantan Kasi Pidsus Kejari Jambi ini, para saksi diperiksa dari pukul 09.00 hingga 19.00 Wit dan dicercar dengan jumlah per­tanyaan yang bervariasi.

“Ada yang 15 pertanyaan tetapi ada juga 20 pertanyaan dan peme­riksaan saksi juga dikonfirmasi lang­sung dengan dokumen-dokumen pelaksanaan dana PNBP,” katanya.

Ditambahkan, penyidik masih intens melakukan pengumpulan data melalui pemeriksaan saksi-saksi untuk nantinya dinaikan ke tahap penyidikan.

Sebelumnya penyidik juga sudah memeriksa sejumlah pejabat Unpatti, yakni   Dekan Fekon Stella Maris Me­te­kohy, D Leatomu dan D Pattina­sarany yang adalah pegawai keua­ngan Fekon serta Bendahara J Hahury, Ketua Jurusan Akuntansi Fanny Anakotta, Ketua Jurusan Ekonomi

Pembangunan Eka Soselissa dan Ketua Jurusan Manajemen Yuliana Latuihamahallo. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon