Daerah ›› Peserta Rakernas SIWO PWI Kagumi Kampung Sepakbola

Peserta Rakernas SIWO PWI Kagumi Kampung Sepakbola


Ambon - Selain menghadiri Rapat Kerja Nasional  Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) Persatuan Wartawan Indonesia, para peserta juga berkesempatan mengunjungi Negeri Tulehu, Kabupaten Malteng yang dikenal dengan julukan kampung sepakbola.

Para peserta yang berasal dari seluruh Indonesia saat mengunjungi Lapangan Matawaru, Mingu (13/12) terkesan dengan warga Tulehu yang gila bola, sehingga negeri tersebut dinobatkan sebagai kampung sepakbola.

Sejumlah peserta kaget melihat betapa sepakbola begitu mewarnai kehidupan orang-orang di Tulehu. Peralatan bermain sepak­bola seolah menjadi kebu­tuhan wajib yang harus ada di rumah. Sebab, hampir semua orang tua di sana berharap anak-anak laki-laki mereka kelak tumbuh men­jadi pemain sepak bola hebat.

Mereka pun mengamati proses latihan yang dijalani para pemain dari berbagai tingkatan usia.

Kecintaan orang Tulehu terhadap sepak bola memang bukan hal baru. Namun, olahraga paling populer sejagat itu semakin dalam menjadi bagian dari kehidupan warga desa tersebut setelah Tulehu dinobatkan sebagai kampung sepak bola Februari lalu. Karena itu, semakin banyak orang tua yang memutuskan jalur sepak bola sebagai jalan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.

Alhasil, lapangan bola yang biasanya hanya ramai bila ada turnamen antarkampung kini setiap hari selalu ramai. Anak-anak berebut dengan orang dewasa untuk bermain di satu-satunya lapangan sepak bola standar di sana, Lapangan Matawaru.

Kampung Tulehu sebenarnya memiliki tiga lapangan sepak bola. Dua lainnya adalah Lapangan Hurnala dan Darusalam. Namun, dua lapangan itu tidak standar. Kondisinya apa adanya.

Di sisi lain, Tulehu punya sejumlah sekolah sepak bola (SSB) diantaranya  SSB Tulehu Putra, Maehanu FC, dan Hurnala FC. Setiap SSB memiliki seratus siswa dari kelompok umur yang berbeda.

Memang, sudah banyak pemain nasional yang lahir dari Tulehu. Muhtadi Lestaluhu adalah generasi pertama yang lolos timnas pada era 1980-an. Lalu, ada Khairil Anwar Ohorela, Imran Nahumaruri, dan Rachel Tuasalamony yang top pada 1990-an sampai awal 2000-an.Saat ini, masih ada 17 pemain asal Tulehu yang memperkuat semua level timnas. Sebut saja Yusnan Ramadau di timnas U-14. Kemudian, Alwi Slamat, Latif Tuharea, Rizal Lestaluhu, dan Rifad Marasabesy yang membela timnas U-16. Di timnas U-19 juga tidak kalah banyak. Ada Ricky Ohorela, Raan Lestaluhu, Irfandi Alzubeid, dan Al Qomar Tehupelusury. Mereka melengkapi nama-nama pemain asal Tulehu di skuad timnas U-23 yang dihuni Hendra Adi Bayauw dan Abduh Lestaluhu. Di timnas senior, ada Alfin Tuasalamony, Hasyim Kipuw, dan Ramdani Lestaluhu.  Ada juga Manahati Lestusen.

Bantuan Lapangan

Sementara itu,Untuk memajukan dunia olahraga, Menpora Imam Nahrawi diawal jabatannya, telah membuat program 1 desa 1 lapangan untuk seluruh desa di Indonesia. Provinsi Maluku juga ikut mendapat bantuan tersebut yaitu pada salah satu desa yang berada di Pulau Seram.

“Maluku dapat juga bantuan tersebut. Nama desanya saya tidak ingat, yang pasti desa tersebut ada di Pulau Seram. Hanya satu desa di Maluku yang memperolehnya,” kata Deputi V Kemenpora Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Gatot S Dewa Broto kepada wartawan usai menjadi pembicara pada Rakernas SIWO-PWI Tahun 2015 di Baileo Siwalima, Karang Panjang, Sabtu (12/12).

Walaupun lupa akan nama desa yang dimaksud, namun menurut Gatot, realisasi untuk program 1 desa 1 lapangan untuk Maluku ini sama dengan untuk daerah lainnya, yakni di bulan Desember 2015.

Program yang menjadi prioritas pada Kemenpora ini, pada tahun 2015 ini masih menjadi program uji coba, sehingga jika sukses realisasi pada bulan ini, maka di tahun 2016 akan berlanjut bahkan diberikan kesempatan bagi setiap daerah untuk mengusulkan lebih dari satu desa.

“Ini kan programnya masih baru. Realisasi untuk seluruh Indonesia secara serempak pada bulan desember ini. Ini adalah program atas gagasannya Pak Menpora sehingga jika berhasil, kita pada tahun depan akan melipat gandakan, bisa diusulkan lebih dari satu desa,” jelasnya.

Program 1 desa 1 lapangan ini katanya, bertujuan untuk memajukan olahraga hingga tingkat desa. Bahkan Menpora Imam Nahrawi telah menunjukan komitmennya untuk memajukan dunia olahraga yang dimulai dari desa, bukan hanya dari kota saja.

Oleh karena program ini adalah program prioritas, maka dana yang didapat dari APBN untuk dapat membangun lapangan olahraga di desa seluruh Indonesia sebesar Rp 190 milyar.

“Kita tidak mungkin mampu untuk lapangan di semua desa di Indonesia secara serentak, yang pastinya bertahap. Di Indonesia ini ada kurang lebih 75.000 desa dan di tahun ini baru kita realisasikan untuk 470 desa berdasarkan pada proposal yang ada di meja kami. Dana Rp 190 milyar bukan untuk satu desa namun untuk 470 desa,” jelasnya.

Lapangan yang akan dibangun pada desa-desa yang ada menurut Gatot, tidak hanya untuk satu cabang olahraga saja, akan tetapi lapangan tersebut dapat difungsikan untuk semua kegiatan olahraga, entah itu untuk menjadi lapangan olaharaga cabang sepakbola, bola volly ataupun bola basket dan lainnya, yang pasti lapangan ini dapat befungsi untuk memajukan dunia olahraga, baik untuk daerahnya, maupun untuk Indonesia.

“Daerah hanya terima bersih, kita dari kementerian yang siapkan. Dapat digu­nakan untuk semua cabang olahraga, sehingga bukan hanya terfokus untuk Bola Kaki saja,” tandasnya.

Dikatakan, yang paling penting untuk dapat peroleh bantuan ini, desa tersebut haruslah menyediakan lahan yang tak bermasalah untuk membangun lapangan.

“Desa-desa yang peroleh bantuan ini lahan-lahannya tak bermasalah. Yang terpenting itulah syaratnya, desa dapat menyediakan lahan menjaminkan lahan, yang tak bermasalah,” katanya.

Di tahun berikut akan dilipatgandakan bantuan dari program ini. Apabila hanya satu desa, ditahun berikutnya akan dilipatgandakan menjadi dua kali lipat. Hal ini berlangsung setiap tahunnya, kelipatannya akan bertambah setiap tahun.

Olehnya itu, Gatot mengharapkan agar Pemprov Maluku dapat membantu mendorong dengan infrastruktur sarana dan prasarana pendukung lainnya. Bukan hanya itu, ia bahkan menyarankan agar pemerintah provinsi harus mengirimkan proposal atau pengusulan desa untuk program terkait sebanyak-banyaknya.

“Setiap tahun akan dilipatgandakan. Jadi dari pemprov sendiri, harus dapat mendorongnya. Bila perlu, kirim sebanyak-banyaknya proposal pengusulan desa untuk ikut programnya. Di meja saya saja proposalnya banyak. Pemerintah disini juga harus demikian,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan adanya program dimaksud, maka Menpora berencana untuk meng­unjungi langsung desa-desa atau titik yang layak mendapat program 1 desa 1  lapangan, termasuk di Maluku. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon