Hukum ›› Pengusutan Proyek Kakao 2009 Distan Maluku Mandek Ada yang Dilindungi Kejati

Pengusutan Proyek Kakao 2009 Distan Maluku Mandek


Ambon - Diduga kuat ada oknum-oknum ter­tentu di Dinas Pertanian (Distan) Maluku yang dilindungi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku dalam proyek kakao tahun 2009.

Bagaimana tidak, proyek ini lebih dulu diusut oleh kejati atas Surat Pe­rintah Penyelidikan (Sprinlid) yang dikeluarkan oleh Kajati Maluku, Efendi Harahap. 

Dalam penyelidikan terungkap bahwa CV. Indotek Multi di Jember tak me­nyalurkan anakan kakao sesuai kontrak ke Kabupaten Buru dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Ironisnya, penanganan proyek kakao tahun 2009 ini justru tak berjalan. Pada­hal tim penyidik Kejati Maluku yang diketuai Abdul Azis dibantu penyidik Lucky Kubela telah memeriksa Kepala Pusat Penelitian Kakao dan Kopi (Pus­litkoka) Jember, Jawa Timur, Teguh Wahyudi dan kontraktor Indotek Multi, Mahmudi.

Selain itu, mantan Kepala Ins­pektorat Provinsi Maluku, M Siman­juntak juga sudah diperiksa. Sama halnya dengan mantan Kadis Perta­nian Maluku Rudolf Latuheru.

Selain Latuheru, penyidik juga memeriksa Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek kakao, Cristine Aipassa, serta bendahara pe­ngeluaran proyek Gernas pening­katan mutu dan produksi kakao tahun anggaran 2009, Adry Suripaty.

Kendati memiliki bukti-bukti korupsi dalam proyek kakao 2009, kejati memilih untuk mengusut proyek kakao 2010, dan menyeret pelaksana PT. Malra Bina Karya, Hok Angker dan PPK, Lamberth Hehuat ke Pengadilan Tipikor.

Informasi yang diterima, oknum-oknum di Distan Maluku telah berupaya mendekati para petani penerima bantuan anakan kakao tahun 2009 di Kabupaten SBB.

Sejumlah petani di Kecamatan Kairatu dan Kecamatan Amalatu Kairatu Timur kepada Siwalima, Sabtu (12/5), mengaku, oknum-ok­num di Distan Maluku sangat keta­kutan, sehingga mereka meminta ke­pada para petani untuk menjelaskan kepada jaksa bahwa mereka telah menerima seluruh anakan  sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Ada dari dinas yang datang me­minta jika jaksa tanya sampaikan kalau tidak ada masalah dan terima sesuai BAP,” kata salah satu petani yang meminta namanya tak dikorankan.

Petani tersebut mengakui, anakan yang mereka terima tak sesuai dengan BAP. Dari 1000 anakan per hektar yang harus diterima masing-masing petani, ternyata tidak diberikan. “Namun disuruh tanda­tangani BAP 1000 anakan per petani,” ujarnya.

Salah satu petani penerima anakan kakao di Desa Tihulale, Kecamatan Kairatu, mengaku hanya menerima 600 anakan. “Saya hanya dapat 600 anakan. Pupuk dua karung, obat dua botol tetapi tidak dapat biaya pemeliharaan, tetapi saya dikasih tanda tangan,” ujarnya.

Petani lainnya juga mengakui, telah menerima anakan kakao. Ha­nya saja anakan yang diterima tidak berkualitas. “Ada sebagian yang tum­buh dan sebagian sudah meng­hasilkan buah tetapi kecil. Padahal katanya dari Jember. Lebih baik kita bibit lokal saja,” katanya kesal.

Lain lagi dengan kelompok tani di Desa Latu, Kecamatan Alamatu, Kairatu Timur, yang menerima bantuan anakan kakao tahun 2011. Mereka mengaku, anakan yang diserahkan hanya ditaruh di belakang rumah penduduk tanpa diberikan sosialiasi atau penjelasan kepada para kelompok tani.

Raja Latu, Iwan Patty kepada Siwalima menyatakan kekesa­lannya kepada Distan Maluku selaku pemberi bantuan.

“Ada petani yang dapat anakan ada yang hanya dapat peralatan saja. Sebagian dapat dan sebagian juga tidak. Anakan baru datang tahun 2011 lalu. Dan mereka hanya taruh saja tanpa memberi penjelasan kepada petani. Akhirnya anakan hanya ting­gal begitu saja dan ada yang sudah mati,” ungkapnya. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon