Politik ›› Pengamat: SA Gagal di PDIP Sahureka: Dia Terlalu Tinggi Diri

Pengamat: SA Gagal di PDIP


Ambon - Pernyataan bernada merendahkan dari Said Assagaff yang akan mengalahkan PDIP di pilkada, menunjukan indikasi kuat sang petahana bakal gagal merebut rekomendasi partai tersebut.

Apa yang disampaikan SA, sa­paan akrab Assagaff dinilai sebagai bentuk kekecewaannya, lantaran pe­luangnya memperoleh rekomendasi dari partai berlambang banteng itu makin tipis.

Padahal, dengan modal sebagai petahana, SA yang memiliki elek­tabilitas tinggi, sebagaimana dirilis ber­bagai lem­baga sur­vei, tentu ti­daklah sulit untuk menda­pat­kan dukungan parpol. Namun faktanya, hingga hari ini SA belum memenuhi syarat untuk mencalonkan diri, akibat mi­nimnya dukungan.

Akademisi Universitas Patti­mura, Paulus Koritelu menilai langkah balik menantang PDIP oleh SA menun­jukan sebuah kekecewaan, karena pe­luang SA untuk memper­oleh rekomendasi dari partai peme­nang pemilu itu makin tertutup.

“Pernyataan petahana itu me­nun­jukan ia kemungkinan besar kecewa, karena sepertinya gagal untuk men­dapatkan rekomendasi dari PDIP,” kata Koritelu kepada Siwalima, Senin (9/10) melalui telepon seluler.

Ada beberapa indikator yang mu­ngkin mengakibatkan sehingga peta­hana kini balik menantang PDIP. Indikator pertama, lobi-lobi politik yang dilakukan oleh SA dengan PDIP untuk mendapatkan rekomen­dasi, menemui jalan buntu.

“Bisa jadi lobi politik yang dila­kukan oleh SA untuk mendapatkan rekomendasi PDIP, menemui jalan buntu. Sehingga akhirnya dia balik menyatakan siap melawan PDIP, jika mereka mengusung kandidat lain,” jelasnya.

Indikator yang kedua, kata Kori­telu, SA kemungkinan sudah menge­tahui PDIP akan mengusung kader maupun figur lain selain dirinya dalam Pilkada Maluku. Dengan de­mikian, maka ia menyatakan tanta­ngan, meskipun awalnya ia sangat optimis dan berharap akan menda­patkan rekomendasi PDIP.

Koritelu menilai reaksi tersebut bukan menunjukkan SA menggertak PDIP, karena masih ada sejumlah sahabatnya yang menempati struk­tur fungsionaris DPD Maluku, sehi­ngga reaksi itu menampakan sebuah kekecewaan. “Dalam posisi ini dapat dipastikan petahana tidak akan menggertak, karena ada beberapa fungsionaris PDIP yang menjadi sahabatnya,” ungkapnya.

Secara psikologis, Koritelu meni­lai pernyataan tersebut merupakan sebuah reaksi kepanikan seorang SA. Karena tadinya, ia sangat per­caya diri dan berharap akan men­dapat reko­mendasi PDIP, tetapi faktanya dalam perkembangan ter­akhir sepertinya PDIP tidak berpihak sama dia.

“Awalnya kan kejar-kejar PDIP, tetapi kini balik menantang. Inikan sebuah kontradiktif tetapi merupa­kan hal yang wajar dalam dunia politik. Tetapi pasti akan berdampak negatif bagi sang petahana karena dinilai tidak konsisten,” tandasnya.

Tinggi Diri

Sementara itu, Ketua Bapilu DPD PDIP Maluku Thobyhend Sahureka menegaskan, pernyataan SA menun­jukan ia terlalu tinggi diri, padahal sebagai seorang petahana, secara tidak sadar SA mendaftar di PDIP untuk mendapatkan rekomendasi.

“Pernyataan ini menunjukan SA terlalu tinggi diri, padahal ia tidak sadar sedang daftar di PDIP dan berharap dapat rekomendasi partai kami,” tandasnya.

Sahureka mengatakan, seorang petahana jika mengganggap dirinya hebat, maka tentunya menjadi rebu­tan dari partai-partai politik, namun kenyataanya, sikap tinggi diri itulah mengakibatkan maka sampai saat ini SA belum memperoleh rekomendasi dari partai politik.

“Seorang petahana yang kuat, harusnya jadi rebutan parpol. Tetapi SA kan sampai sekarang belum dapat rekomendasi dari partai politik selain partainya. Itu karena terlalu tinggi diri,” katanya.

Bahkan seorang petahana yang dikatakan hebat, tandas Sahureka, mestinya harus memiliki tingkat popularitas diatas 60 persen. Tetapi faktanya, SA hanya memiliki tingkat popularitas berkisar 50 persen ber­dasarkan hasil survei.

“Petahana yang kuat itu hasil surveinya harus diatas 60 persen. Tetapi faktanya SA hanya punya hasil survei diatas 54 persen, se­dangkan kandidat lain, memiliki tingkat popularitas 30 persen, itu kan belum apa-apa,” tandasnya.

Ia menegaskan, dalam Pilkada Maluku tahun 2013 lalu, PDIP dicurangi. Untuk itulah, SA mampu menang dan hal ini dibongkar sendiri oleh tim sukses SA ketika itu.

“Semua orang juga tahu kok kalau tahun 2013 itu kita dicurangi. Kalau secara rill, semestinya PDIP lolos putaran kedua,” ungkapnya.

Menurutnya, jika SA tetap bersi­keras pada sikapnya yang terlalu ti­nggi diri maka dipastikan dalam Pil­kada tahun 2018 mendatang akan ka­lah. “Saya mau katakan, kalau peta­hana tetap tinggi diri, maka ia akan ka­lah dalam Pilkada 2018,” tandasnya.

SA sebelumnya dikabarkan be­rang­kat ke Jakarta untuk melobi pe­tinggi PDIP guna memuluskan lang­kahnya menggenggam rekomendasi parpol pemenang pemilu di Maluku itu.

Namun sekembalinya ke Ambon, Minggu (8/10), SA enggan mengo­men­tari terkait peluang menggondol rekomendasi PDIP. Ia justru tidak akan gentar dan yakin mengalahkan PDIP, jika partai itu mengusung calon lain.

“Yang pasti saya sudah siap. Lawan mereka pun (PDIP-red) siap. Dulu lawan mereka saya menang, apalagi sekarang petahana. Iya toh. Dulu saya wakil gubernur, jadi silah­kan nanti kita lihat di lapangan,” kata SA kepada wartawan usai meng­hadiri deklarasi DPD Pengajian Alhi­dayah se-Maluku untuk mendukung SA di Pilkada, yang berlangsung Islamic Centre Ambon, Minggu (8/10).

Semakin banyak lawan yang maju dalam Pilkada Maluku, menurut SA semakin baik untuk demokrasi Maluku kedepan. “Banyak lawan juga bagus. Siapa saja yang mau maju silahkan, mau siapa atau siapa, kita tetap menang,” tandasnya.

Namun bagi Ketua DPD Golkar Maluku ini, jika terjadi pertarungan satu lawan satu atau head to head, dia justru sangat diuntungkan. Itu karena kinerjanya selama menjabat, oleh masyarakat direspons positif.

Ditanya soal rekomendasi dan dukungan partai, SA me­ngaku sudah memiliki dukungan yang cukup, sebagaimana disyaratkan undang-undang. Kendati begitu, dia enggan merinci partai apa saja yang sudah memberikan rekomendasi ter­tulis padanya. “Pokoknya rekomen­dasi saya sudah siap. Tidak usah kita tonjolkan,” ungkapnya.

SA sebelumnya mengaku telah menggengam rekomendasi Golkar, setelah partai tersebut hanya mem­prosesnya sebagai balon tunggal.

Namun dengan hanya bermo­dalkan enam kursi Golkar di DPRD Maluku, belum cukup bagi SA untuk melaju sebagai peserta karena harus mengantongi minimal sembilan kursi gabungan parpol. Itu artinya, ia masih butuh tiga kursi lagi. (S-46)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon