Daerah ›› Pemprov Diminta Buka Sekolah Seni Karnaval Budaya Multi Etnik

Pemprov Diminta Buka Sekolah Seni


Ambon - Melihat potensi dan talenta yang dimiliki oleh anak-anak Maluku, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Budaya Hilmar Farid meminta Pemprov membangun sekolah seni di Maluku agar talenta mereka dapat tersalurkan.

“Harusnya telenta ini mendapatkan saluran, jadi saya usulkan kepada peme­rintah provinsi dan pemerin­tah kota, sejak dini dapat memikirkan sekolah seni di Maluku ini khususnya di Kota Ambon, sehingga talenta tersebut dapat tersalur pada tempatnya,” kata Farid kepada wartawan usai membuka Karnaval Budaya Multietnik Nusantara dan Festival Musik Hawaian 2017, di Lapangan Merdeka, Ambon, Kamis (18/5).

Menurutnya, daerah lain di Indonesia, seharusnya dapat mencontohi masyarakat di Kota Ambon, Maluku. Karena  melalui karnval multi etnik yang dipertontonkan, menunjukan kebesaran hati dari masyarakat Maluku yang sudah memberikan ruang untuk berbagai daerah dapat hidup bersama.

“Saya kira Maluku khususnya Kota Ambon telah mengirimkan pesan yang sangat positif kepada masyarakat Indonesia tentang bagaimana hidup berdampingan,” ujarnya.

Baginya, budaya sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, juga bagi Maluku, karena budaya sudah termasuk bahasa yang melampaui ketegangan sosial dan politik selama ini. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan yang menampilkan budaya yang multietnik sangatlah penting.

“Dan saya kira karnaval seperti ini sangat bagus dan diperlukan. Dan Ambon sudah ambil langkah dan berharap hal yang sama juga dapat dilakukan ditempat yang lain,” tegasnya.

Sementara Gubernur Maluku Said Assagaff dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekda Maluku Hamin Bin Thahir mengatakan, refleksi dari Karnaval dan Festival yang dilaksanakan bertepatan dengan perayaan 200 Tahun Perjuangan Pattimura dimaknai sebagai konsep kebangsaan yang menyatukan.

“Budaya merupakan bagian dari musik dan oleh karena itu musik dan kebudayaan merupakan identitas yang melekat pada prinsip kebudayaan kita bersama,” ungkapnya.

Dikatakan, Provinsi Maluku bukan lagi ada hanya untuk etnis Maluku, namun telah memberikan ruang bagi muncul dan berkembangnya kebudayaan suku bangsa nusantara.

Hal tersebut menurutnya, dapat dilihat dari beragamnya marga di daerah ini. Bahkan dari hasil akulturasi muncul berbagai khazanah seni budaya di daerah ini. Namun, betapapun berbeda, tetap ada rasa saling memiliki.

Sejalan dengan tema kegiatan ini, Refleksi 200 Tahun Perjuangan Pattimura  Memaknai Keberagaman Untuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa, menunjukan nilai perjuangan Pattimura bukan hanya pada orang Maluku saja namun telah mengakar dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia.

“Saya berharap agar kegiatan Karnaval Budaya Multietnik Nusantara dan Festival Musik Hawaian hari ini akan memancarkan energi positif bagi pembangunan kebudayaan di daerah kita,” tandasnya.

Adapun kegiatan ini diikuti oleh 35 sanggar dan paguyuban di Maluku, yakni Sanggar Serafim, Sanggar Nunusaku, Sanggar Budaya Papala, Sanggar Uplinne Anline, Sanggar Hatukau, Sanggar Wairannang, Pemuda Banda, Sanggar Lelemuku, Sanggar Sular Mela, Sanggar Pakuala Passo, Sanggar Khayla, Sanggar Tahuri Kakoja, Sanggar Matawaru Tulehu, Mahasiswa Kisar, Paguyuban Kalimantan. 

Kemudian Komunitas Negeri Alang, Sanggar Iwyolaini. Paguyuban Buton, Payuban Trenggalek,  Paguyuban Makassar, Pguyuban Bugis, Paguyuuban Banten,, Paguyuban Ternate, Paguyuban Madura, Paguyuban Jawa Tengah, Paguyuban Minang, Paguyuban Bali, Suling Bambu Petra,  Paguyuban NTT, Paguyuban Jawa Barat, Sanggar Wangi Cengkeh, Sanggar Talabatai,  dan Paguyuban Papua.

Para peserta karnaval dilepas oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Budaya Hilmar Farid dari Lapangan Merdeka. Mereka kemudian berjalan menuju rute jalan Pattimura, Ahmad Yani, Diponegoro, Trikora, AY Patty dan finish di depan monumen gong perdamaian.

Sementara festival musik hawaian diikuti 18 grup, yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Ambon.   (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon