Daerah ›› Pemkot Biarkan Pengembang Kerja tanpa Ijin Kali Batu Gajah Tercemar

Pemkot Biarkan Pengembang Kerja tanpa Ijin


Ambon - Pembangunan perumahan masyarakat berpeng-hasilan rendah (MBR) di kawasan Talaga Raja, Ne-geri Urimessing, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon tanpa memiliki IMB.

Sejumlah rumah sudah diba­ngun di kawasan resapan air itu, namun PT Matrix Cipta Anu­ge­rah selaku pengembang hingga saat ini belum mengantongi izin.

Sudah begitu, Pemkot Ambon menutup mata. Sikap pemkot dis­kriminasi. Jika masyarakat mem­bangun tanpa IMB, langsung ditindak.

Sesuai rencana, jumlah rumah yang akan dibangun oleh perusa­haan yang dipimpin Beatrix Kai­lola itu sebanyak 200 unit. 

Tak hanya belum mengantongi IMB, namun pembangunan pe­rumahan itu diduga dilakukan tan­pa izin pengelolaan lingkung­an hidup (UKL) dan upaya pe­man­­tauan lingkungan hidup (UPL).

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU­PR) Kota Ambon, Meli Latui­ha­mallo yang dikonfirmasi meng­akui, PT Matrix Cipta Anugerah belum mengantongi IMB untuk pembangunan MBR di Talaga Raja.

“Untuk pembangunan itu belum ada IMB, dan sementara diproses,” kata Latuihamallo saat dihubungi kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (10/7).

Ketika ditanya mengapa belum ada IMB, pembangunan rumah sudah dilakukan, Latuihamallo beralasan, rumah yang dibangun hanya untuk contoh, dan dibangun di lokasi yang rata.  Sedangkan untuk lokasi yang miring, tidak dilakukan pembangunan.

“Itu adalah rumah percontohan dan pembangunan berada di lokasi yang rata, karena yang lokasi yang lainnya tidak bisa lakukan pemba­ngunan,” ujarnya.

Sementara menyangkut UKL dan UPL, Kepala Dinas Lingkungan Hi­dup dan Persampahan, Lusia Izaac mengaku, PT Matrix Cipta Anugerah sudah mengantongi kedua izin tersebut.

Namun anehnya, ketika ditanya kapan UKL dan UPL diterbitkan, Izaac mengaku lupa.

“Sudah ada UKL dan UPL. Kalau kapan saya agak lupa, tapi yang jelas izinnya sudah keluar,” kata Izaac.

Sesuai UKL dan UPL, pihak pengembang harus membangun bronjong setinggi 30 meter untuk mencegah terjadinya longsor. Namun fakta di lapangan, yang dibangun hanya setinggi 15 meter. Akibatnya sedimen tanah mence­mari kali Batu Gajah.

Namun kata Izaac, pihak pengem­bang sudah memperbaiki bronjong.

“Jadi mereka sudah melakukan penambahan sekitar 15 meter untuk bronjongnya, dan saat ini ketika ada pekerjaan yang tidak sesuai mereka melakukan evaluasi,” ujarnya.

Sementara Direktur Utama PT Matrix Cipta Anugerah, Beatrix Kailola yang dihubungi, melalui telepon selulernya, mengatakan, IMB dalam proses pengurusan.

“Sudah  tidak ada masalah lagi soal IMB karena bukti proses peng­urusan sudah ada, kenapa kita yang ditekan soal pembangunan MBR,” tegas Beatrix dengan nada tinggi.

Ditanya soal bronjong yang diba­ngun sebagai penahan tanah akan mengancam warga, ia langsung mematikan telepon.

Warga Mengeluh

Warga sekitar lokasi pembangu­nan perumahan MBR di kawasan Talaga Raja mengeluhkan adanya pembangunan tersebut.

Keluhan disampaikan, Rissa Amrosila, saat didatangi Siwalima, di kediamannya yang berada tepat di depan proyek pembangunan.

Menurut Rissa, pengusuran yang dilakukan PT Matrix Cipta Anugerah membuat rumahnya terancam ambruk.

“Kita was was karena akibat pe­ngu­suran rumah saya berada di bibir ta­nah, yang sudah mulai retak dan se­waktu waktu bisa saja am­bruk,” ujarnya.

Untuk mencegah jangan sampai rumahnya longsor akibat hujan, ia menutupi pondasi rumahnya dengan terpal. Awal pembokaran, pihak pengembang berjanji akan membangun talud, namun hingga saat ini tak kunjung dibangun.

“Awalnya bilangnya mau bangun talud namun sampai sekarang tidak ada realisasi, ketika kita minta per­tang­gungjawaban ke penanggung jawab proyek, tidak ada kejelasan sama sekali,” tandasnya.

Keluhan juga disampaikan, Jopie Pattiruhu. Menurutnya, pembong­karan lahan pembangunan MBR menyebabkan bak penampungan air bersih hancur. Alhasil sebagian warga kesulitan memperoleh air bersih. Janji pengembang untuk membangun bak penampung baru, hanya isapan jempol belaka.

“Waktu pembokaran bak penam­pungan ikut hancur kita yang bergantung dari bak tersebut hingga kini kesulitan air bersih, janji mereka akan dibangun yang baru, tapi sampai sekarang belum juga,” ujar­nya.

Warga lainnya juga khawatir terja­dinya longsor akibat penggusuran besar-besaran.

 “Kita memang khawatir terjadi longsor, kenapa pemerintah meng­izin­kan pembangunan di lokasi itu,” kata salah seorang warga yang eng­gan menyebutkan namanya.

Ia meminta agar pihak pengem­bang segera membangun talud pengaman.

Astrit, warga Batu Gajah mengaku, setiap kali hujan, kali Batu Gajah penuh dengan material yang digu­sur dari proyek pembangunan MBR.

“Kita berharap pembangunan pro­yek ini dihentikan, takutnya terjadi long­sor, kita yang ada di bawahnya bisa terkena,” ujarnya.

(S-40/S-39-S-45)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon