Hukum ›› Pembunuh Pacar Dihukum Penjara Seumur Hidup

Pembunuh Pacar Dihukum Penjara Seumur Hidup


Ambon - Majelis hakim Pe­nga­dilan Negeri Am­bon, Kamis (9/7), menghukum Buce Erasmus Batmo­­molin, pegawai honorer Rumah Sakit Khusus Daerah (RS­KD) Maluku penjara seumur hidup atas pembunuhan terha­dap pacarnya, Hilda Nathalia Leuwol.

Majelis hakim Lilik Nuraini selaku ketua, di­dampingi hakim anggota Didiek Ismiatum dan Alex Pasaribu menyatakan Buce Eras­mus Batmomo­lin terbukti melaku­kan pembunuhan ter­hadap Hilda sebagaimana diatur dan diancam  dalam 340 KUHP.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim tersebut sama dengan tuntutan JPU, Mien Saliama dan Berthy Tanate.

Pantauan Siwalima, usai men­dengar pembacaan putusan maje­lis hakim, terdakwa yang didam­pingi Penasehat Hukum (PH), Carolina Tahapary terlihat me­neteskan air mata.

Ruang sidang yang dipenuhi oleh keluarga Hilda maupun Buce tersebut terlihat tegang. Puluhan personil Polres Pulau Ambon dan Pp. Lease tampak siaga mengan­tisipasi terjadinya kericuhan.

Keluarga Buce kaget mende­ngar putusan majelis hakim. Me­reka tak menyangka Buce diberi­kan hukuman yang sangat berat. Ibu Buce pun meratapi nasib anaknya itu.

Ayah Buce, Gidion Batmamolin juga tak kuasa menahan emosi­nya. Ia langsung berlutut dan berdoa di Halaman Kantor PN Ambon. Dalam doanya ia mengutuk hakim maupun jaksa yang dinilai­nya tidak adil menjatuhkan huku­man terhadap anaknya. “Biarlah Tuhan Allah melihat kerja mereka dan mem­berikan kutukan 70 kali tujuh,” teriaknya dengan nada kesal.

Kata-kata kutukan dan cercaan pun terus dilontarkan oleh kelua­ga Buce kepada hakim maupun jaksa. Pemandangan mengharu­kan ini menjadi tontonan para pengunjung sidang maupun masyarakat yang melin­tasi depan Kantor PN Ambon. Sementara ibu Hilda, Yakoba Souhoka terlihat tenang dan merasa puas atas putusan majelis hakim itu.

Sebelumnya, JPU  Mien Saliama dan Berthi Tanate dalam sidang Kamis (18/6) lalu, menuntut Buce Erasmus Batmomolin dengan hukuman seumur hidup.

Buce dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah membunuh korban pada 8 Maret 2014. Perbuatannya dinyatakan terbukti melanggar pasal 340 KUHP. Jaksa beralasan, terdakwa tidak mau mengakui perbuatan­nya, padahal fakta persidangan membuktikan kalau yang bersang­kutan membunuh pacarnya, Hilda.

JPU dalam dakwaannya menje­laskan, pembunuhan yang dilaku­kan Buce terhadap Hilda pacarnya itu, terjadi pada  8 Maret 2014 sekitar pukul 14.00 WIT, bermula dari Buce bersama Hilda  pulang dari tempat kerja yakni Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Nania Ambon.

Sesampainya di rumah, Buce dan Hilda kemudian bertemu de­ngan Djidon C Batmomolin (ayah Buce) bersama ketiga adiknya yakni saksi Viona Paskah Irena Batmomolin, Alvino Kelvin Batmo­molin dan Alvido David Batmo­molin.

Selanjutnya Buce bersama Hilda berganti pakaian di dalam kamar mereka dan istirahat beberapa menit di dalam kamar. Setelah itu, Djidon Batmomolin menyuruh me­reka untuk makan. Setelah selesai makan, Buce bersama Hilda ber­istirahat di dalam kamar.

Sekitar pukul 16.00 WIT, Djidon Batmomolin bersama Viona Bat­momolin pergi menuju Desa Hattu. Beberapa saat kemudian, salah satu tetangga bernama Jil Meyer mendatangi rumah terdakwa Buce untuk meminta obat.

Sesampainya di depan rumah, Jil Meyer mendengar suara te­riakan Hilda sebanyak  dua kali dari arah ka­mar Buce yang mengatakan “tolong, tolong”. Karena merasa takut ia kemudian kembali pulang ke rumah. Kemudian sekitar pukul 16.30 WIT, ada tiga orang saksi yang  adalah penjual ikan yakni Meri Wasar, Welmince Parinussa dan Robeka Bakarbessy berjalan masuk ke kompleks BTN Waitatiri untuk berjualan ikan.

Saat berjalan di depan rumah terdakwa, para saksi ini mende­ngar teriakan suara perempuan dari dalam kamar bagian depan, dimana teriakan berulang-ulang yang mengatakan  ‘tolong tolong”.

Tidak sampai di situ, ketiga saksi ini duduk di bawah pohon nangka yang berdekatan dengan rumah terdakwa juga mendengar teriakan minta tolong.

JPU menguraikan, selang bebe­rapa menit kemudian,  Jil Meyer mendatangi  rumah terdakwa Buce untuk kedua kalinya meminta obat. Sesampainya di depan rumah, Meri Wasir, Welmince Parinussa dan Robeka Bakarbessy mena­nya­kan kepada Jil Meyer, “perem­puan siapa di dalam rumah itu, dari tadi berteriak minta tolong”. Lalu Jil Meyer mengatakan itu Nita, nama panggilan Hilda pacarnya Buce.

JPU juga menjelaskan, hasil  pe­nyelidikan pihak kepolisian terdapat bercak darah di rumah terdakwa yakni dalam kamar terdakwa, di tembok dan permu­kaan rak TV. Polisi juga mene­mukan satu buah gunting dengan pegangan warna hijau dan satu buah martil/ palu yang diduga ada bercak darah. Barang-barang bukti ini diamankan setelah penyidik  melakukan penyitaan terdakwa.

Selanjutnya barang-barang bukti itu, kemudian dianalisis di Pusat Laboratorium Forensik (Pus­labfor) Polri Cabang Surabaya.

Berdasarkan hasil analisis ter­ungkap bercak darah yang ditemu­kan di dalam kamar terdakwa ada­lah positif darah manusia dengan golongan darah A yang merupakan anak biologis dari Frans Benjamin Leuwol dan Jacoba Souhoka dengan probabilitas 99,99 persen.

JPU mengatakan, akibat per­buatan terdakwa tersebut, korban Hilda Nathalia Leuwol mengalami luka robek pada daerah bagian kepala dan lengan. Luka robek pada daerah bagian dada dan patah tulang tengkorak, tulang temporal, tulang mata bagian bawah, tulang hidung, tulang pipih dan tulang rahang tumpul.

Luka robek dan faktur tulang ter­sebut diatas adalah akibat kekera­san benda tumpul.  Dimana penye­bab kematian korban adalah ke­gagalan fungsi otak karena adanya keru­sakan yang luas pada jaringan otak, terdapat beberapa luka  se­bagaimana uji Laboratorium Foren­sik di Surabaya. Perkiraan waktu kematian korban berkisar antara 72-90 jam terhitung mundur dari saat dilakukan otopsi. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon