Hukum ›› Pegawai Pemprov dan Istri Diminta Kooperatif Diduga Samarkan Aset Heintje

Pegawai Pemprov dan Istri Diminta Kooperatif


Ambon - Staf Lembaga Pelelangan Secara Elektronik (LPSE) Biro Administrasi dan Pem­bangunan Setda Provinsi Maluku, Roland Matruty dan istrinya Mita diminta kooperatif.

Penggilan kedua segera dilayangkan penyidik Ke­jati Maluku kepada Roland dan Mita, setelah kedua­nya mangkir Selasa (13/9).

Pasangan suami istri ini diduga terlibat menyamar­kan aset Direktur Utama CV Harves, Heintje Abraham Toi­suta, tersangka dugaan ko­rup­si dan Tindak Pidana Pen­cucian Uang (TPPU) pembe­lian lahan dan gedung bagi pem­bukaan kantor Cabang Bank Maluku Malut di Sura­baya.

Aset berupa rumah yang diperkirakan senilai Rp 1 miliar itu, berada di RT 001/RW 001 Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

“Pemanggilan ini menu­nggu kasi penyidikan datang dan pasti segera dipanggil untuk diperiksa. Dipastikan dalam waktu dekat ini akan diperiksa,” tandas Kasi Pen­kum dan Humas Kejati Malu­ku, Samy Sapulette  kepada wartawan, Rabu (14/9).

Jika Roland dan istrinya tak kooperatif, kata Sapulette, akan menjadi pertimbangan bagi penyidik untuk meng­ambil langkah hukum.

“Itu menjadi pertimbangan penyidik dan tetap akan di­panggil lagi secara patut,” ujarnya.

Dugaan Heintje Toisuta me­nyamarkan asetnya sema­kin kuat.  Rumah yang diba­ngun di RT 001/RW 001 Desa Amahusu, diakui oleh warga setempat adalah miliknya. Hal ini diperkuat dengan pernya­taan Kepala Distakot Ambon, Denny Lilipory yang memas­tikan IMB rumah berlantai dua itu, diterbitkan atas nama Heintje Toisuta.

Rumah tersebut dibangun awal tahun 2015. Sejumlah warga Amahusu kepada war­ta­wan, Sabtu (11/9) mengata­kan,  Heintje membeli tanah dari Buce Matitaputty,  man­tan pimpinan Bank Maluku Cabang Utama.  Awal pemba­ngunan rumah, Hentje sering datang melihat proses peker­jaan. Tetapi, beberapa bulan belakangan tak lagi muncul.

“Rumah ini milik bapak Toi­suta, beberapa waktu lalu be­liau sering datang ke sini. Beliau beli tanah itu dari Pak Buce Matitaputty lalu mem­ba­ngun rumah ini. Dulunya ada IMB, tetapi sudah dica­but entah kenapa,” ujar salah se­orang warga Amahusu yang meminta namanya tak dikorankan.

Warga lainnya juga meng­aku, rumah itu adalah milik Heinjte Toisuta. Pembangu­nan­nya hampir rampung. Se­mentara proses finishing. Namun para tukang tak lagi datang siang hari. Mereka baru muncul saat malam.

Ia juga mengaku heran, mengapa Heintje Toisuta tak lagi datang untuk melihat rumahnya. Sekarang yang sering muncul adalah Roland Matruty, dan istrinya. Mereka datang disaat malam hari. 

“Belakangan ini yang da­tang itu namanya Oland, te­tapi hanya di malam hari. Tidak pernah siang. Kalau datang kadang mereka tidur semalam atau dua malam lalu balik lagi. Kita juga heran kenapa bukan pak Toisuta lagi yang datang. Orang kerja rumah juga me­reka datangnya malam juga untuk kerja,” katanya seraya menunjuk ke arah rumah tersebut.

Sebelumnya tim penyidik kejati Maluku telah memeriksa Roland Matruty dan istrinya Mita, Kamis (8/9).

Tim penyidik mencium aro­ma kongkalikong antara Hein­tje dan Roland untuk menya­markan asetnya agar luput dari penyitaan. Roland memi­liki hubungan cukup dekat de­ngan Heintje, karena istrinya bekerja di PT Cahaya Fajar Tour and Travel milik Dorlina Supriyati Iyon Toisuta, istri Heintje.

Tetapi saat  diperiksa, Ro­land dan Mita mengaku, kalau rumah dan tanah itu milik mereka. Mereka beli dari Hein­tje dengan cara mencicil. Da­lam setahun mereka sudah membayar mencapai Rp 200 juta lebih. Mereka juga mem­bawa foto copy kuitansi yang menurut mereka merupakan bukti pembayaran.

Terancam Dijerat

Roland Matruty dan istri­nya Mita, terancam dijerat jika terbukti terlibat dalam upaya menyamarkan aset Heintje Toisuta.

Ada banyak kejanggalan yang ditemukan tim penyidik, diantaranya, Roland adalah PNS Golongan IIIB. Ia baru berstatus PNS kurang lebih lima tahun. Tetapi bisa me­ngeluarkan uang Rp 200 juta lebih dalam setahun untuk membayar cicilan. 

Menurut Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setda Maluku, Donny Saimi­ma, Roland Matrutty diang­kat menjadi PNS  tahun 2011, dan ditempatkan di LPSE Biro Administrasi dan Pembangu­nan Setda Provinsi Maluku dengan pangkat/golongan IIIB.

“Dia baru saja diangkat pa­da tanggal 4 Februari 2011 la­ng­sung ditempatkan di LPSE Biro Administrasi dan Pem­bangunan,” jelasnya, kepada Siwalima, Rabu (14/9).

Sesuai Peraturan Peme­rintah  (PP) Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketu­juh Belas atas PP Nomor 1977 tentang Peraturan gaji PNS disebutkan, besaran gaji PNS Golongan IIIB terendah Rp 2.560.000, dan tertinggi Rp 4.205.400 (sesuai masa kerja golongan). Sikap tidak koope­ratif Roland dan istrinya juga menambah kecurigaan tim penyidik.

“Roland itu pegawai golo­ngan IIIB, dan istrinya pega­wai travel, kalau punya aset miliaran rupiah, ini jadi tanya tanya bagi jaksa,” ujar sumber di Kejati Maluku.

Sumber itu mengungkap­kan, tim penyidik sudah me­ngantongi bukti, kalau rumah dan tanah di Amahusu itu atas nama Heintje Toisuta. Na­mun sebelum ditahan Ka­mis, 2 Juni 2016 lalu di Rutan Polda Maluku, Tantui, seba­gai tersangka dugaan korupsi dan TPPU pembelian lahan dan gedung di Surabaya, ser­ti­fikat sudah berubah atas nama Roland Matruty.

Tim penyidik akan meme­riksa pihak BPN dan Notaris. Siapapun yang terlibat me­nya­markan harta Heintje tak akan lolos dari jeratan hukum. 

“Siapapun berusaha mem­bantu untuk mengalihkan, menyembunyikan harta atau yang sesuatu yang diduga ber­kaitan dengan pidana se­seorang tentunya intrumen sudah ada. Kita lihat nanti dan akan dalami terus. Baik itu notaris, pihak BPN. Kalau su­dah tahu ada TPPU lalu mem­proses, instrumen hukumnya jelas,” tandas sumber itu.

Kasi Penkum dan Humas Kejati Maluku Samy Sapule­tte yang dikonfirmasi menga­takan, penyidik masih bekerja, dan saksi masih dipanggil lagi untuk dilakukan pemeriksaan.

“Kewenangan ada pada penyidik dan dalam kasus ini penyidik masih melakukan pengembangan. Saksi masih akan dipanggil dan diperiksa lagi,” ujar Sapulette singkat.

Sebelumnya, tim penyidik Kejati Maluku menggeledah dan menyita tanah dan rumah milik Heintje Toisuta di Jalan Dokter Kayadoe Kudamati, RT 002/RW 05, Kecamatan Nu­saniwe, Kota Ambon, Selasa (30/8).

Penyitaan aset yang diper­kirakan bernilai Rp 2,5 miliar itu, didasarkan surat pada pene­ta­pan Pengadilan Negeri Ambon Nomor: 83/Pen. Pid.Sus-TPK/2016/PN.AB tanggal 18 Agus­tus 2016 dan surat perintah Kajati Maluku Nomor: PRINT-230/S.1/Fd.1/08/2016 tanggal 30 Agustus 2016.

Penggeledahan dan penyi­taan bagian dari rangkaian penyidikan untuk mengung­kap aliran dana Rp 7,6 miliar, hasil dugaan korupsi dan TPPU pembelian gedung dan lahan di Surabaya. (S-27/S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon