Hukum ›› Nane Puttileihalat dan PPTK Tersangka Tergantung Jaksa Korupsi di Disdikpora SBB

Nane Puttileihalat dan PPTK Tersangka Tergantung Jaksa


Ambon - Mantan Kepala Disdik­pora Kabupaten SBB, Bon­jamina Dortje Puttilei­halat alias Lou memberi­kan sinyal adanya dugaan keterlibatan PPTK  Abra­ham Tuhenay dan Frans­yane Puttileihalat alias Nane dalam kasus korupsi dua kegiatan tahun 2013.

Dua kegiatan itu adalah pembinaan kelompok kerja guru/musyawarah guru pelajaran senilai Rp 754.780.000 dan kegiatan mutu dan kualitas program pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan senilai Rp 597.290.000. Namun Lou dan Tuhenay diloloskan. 

Kasi Penkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapu­lette mengatakan, peneta­pan seseorang menjadi ter­sa­ng­ka merupakan kewe­nangan penyidik. 

“Terhadap pernyataan yang ber­sangkutan saya kira itu ekspektasi atau harapan dari  yang bersang­kutan, namun demikian yang mem­punyai wewenang untuk menetap­kan seseorang sebagai tersangka adalah penyidik yang tentunya didasarkan pada alat bukti yang cukup,” tandas Sapulette, kepada Siwalima, Minggu (31/7).

Sebelumnya, Lou menjalani peme­riksaan perdana sebagai tersangka korupsi kegiatan sosialisasi kuriku­lum dan training of trainers guru dan pengawas kurikulum tahun 2013, Jumat (29/7). Kakak kandung Bupati SBB, Jacobus F. Puttileihalat itu dicecar 57 pertanyaan oleh  tim Kejati Maluku.

Kepada wartawan Lou mengaku bertanggung jawab atas pelaksa­naan kegiatan sosialisasi kurikulum dan training of trainers guru dan pengawas kurikulum tahun 2013 dan kegiatan lainnya. Namun ia memberi­kan sinyal kalau ada dugaan keter­libatamn Nane dan PPTK.

“Saya kan kerja profesional selaku pimpinan dan bertanggung jawab dengan pekerjaan ini. Ini kan biasa, saya pimpinan jadi saya ber­tanggung jawab. Kalau status tersangka ya nanti kita buktikan di pengadilan, yang jelas saya ber­tanggung jawab semua kegiatan yang ada,” tandasnya.

Soal dugaan keterlibatan Fran­syane Puttileihalat alias Nane yang saat itu menjabat Kabid Dikdas, dan PPTK Abraham Tuhenay, Lou me­ngatakan, PPTK juga harus bertang­gung jawab, tetapi itu tergantung penyidik.

“Soal keterlibatan Abraham se­bagai PPTK maupun Nane itu tergantung penyidik, bukan saya yang menentukan. Tetapi yang pastinya sebagai PPTK harus pula bertanggung jawab,” tegas Lou

Lou menerima penetapan dirinya sebagai tersangka, namun akan dibuktikan lagi di pengadilan. “Saya biasa saja. Tersangka nanti kita buktikan di pengadilan,” ujarnya.

PPTK Abraham Tuhenay sebe­lum­nya diperiksa Rabu, (27/7) sebagai saksi bagi Lou. Tuhenay juga masuk dalam daftar tersangka. Tetapi ia diloloskan oleh jaksa de­ngan alasan telah mengembalikan kerugian negara. Nilai uang yang disetor mencapai Rp 1 milyar lebih.

Dalam penyelidikan, tim penyidik juga telah mengantongi bukti kuat keterlibatan Fransyane Puttileihalat alias Nane. Bukti dugaan keterli­batan Nane yang ditemukan adalah saat menjabat Kabid Dikdas, ia meme­rintahkan bendahara Maria Manu­putty dan PPTK  Abraham Tuhenay untuk membuat kwitansi fiktif.

Dua dari empat kegiatan di Dis­dikpora dikelola oleh Nane dengan nilai anggaran Rp 1.352. 070.000 dari total anggaran Rp 49. 026. 487.040. Dua kegiatan tersebut yakni pem­binaan kelompok kerja guru/musya­warah guru pelajaran senilai Rp 754.780.000 dan kegiatan mutu dan kualitas program pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Rp 597. 290.000.

Nane yang saat ini menjabat Plt Kadis Disdikpora Kabupaten SBB juga turut menikmati dana tersebut. Selain bukti kwitansi, hal ini juga dikuatkan dengan keterangan saksi-saksi. Tetapi anehnya,  adik Bupati SBB itu juga diloloskan oleh penyidik. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon