Visi ›› Menunggu Pemimpin Baru

Menunggu Pemimpin Baru


Menunggu pemimpin baru memang menjadi kebutuhan masyarakat Maluku saat ini, bukan karena alergi terhadap kepemimpin sekarang, bukan pula karena tidak setuju dengan model kepemimpinan tersebut, tetapi karena kondisi Maluku yang belum mengalami pengembangan yang siginifikan.

Angka kemiskinan masih tetap berada pada urutan ke-4 di Indonesia, tingkat pengangguran yang masih terus meningkat, ekonomi masyarakat belum digerakan secara maksimal, termasuk kualitas pendidikan dan pelayanan masyarakat. Belum lagi masalah kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan. Hal inilah yang kemudian mendorong masyarakat membutuhkan pemimpin baru.

Berdasarkan hasil Jaringan Survei Nusantara (JSN) masyarakat Maluku sangat membutuhkan pemimpin baru yakni, untuk Kota Ambon 52 persen. Kabupaten Buru, 36 persen, Buru Selatan 31 persen, Kepulauan Aru 87 persen, Maluku Barat Daya 89 persen, Maluku Tengah 54,20 persen, Maluku Tenggara 46 persen, Maluku Tenggara Barat 57 persen, Seram Bagian Barat 60,30 persen, Seram Bagian Timur 59,30 persen dan Kota Tual 51 persen.

Hasil survei ini bisa menjadi salah satu ukuran keinginan masyarakat memiliki Gubernur Baru atau pemimpin baru, tujuannya bisa mengeluarkan masyarakat dari berbagai keterpurukan itu.

Hasil survei JSN ini tentu saja bisa mengalami perubahan, belum final karena keputusan untuk menentukan pimpinan atau pemimpin yang baru itu sangat tergantung rakyat sendiri.

Masyarakat Maluku mungkin saja tidak membutuhkan pemimpin baru atau gubernur baru yang hanya sekedar janji semata saat kampanye saja, lalu kemudian janji-janji kepada rakyat itu tidak dapat dibuktikan.

Kita membutuhkan Kepemimpinan baru yang mampu memberi teladan, yang mampu menggalang tekad rakyat, dan mampu memahami serta mengikuti aspirasi rakyat. Komtmen seperti itulah yang sangat diharapkan masyarakat, sehingga upaya untuk mengeluarkan masyarakat Maluku dari berbagai keterpurukan pada sejumlah sektor, menjadi perhatian serius dan prioritas utama untuk perjuangkan.

Pemimpin baru juga harus mampu berinovasi membangun daerah, tidak duduk dibelakang meja dan mendengar laporan anak buah semata, tetapi terjun langsung ke masyarakat dan mendengar suara-suara teriakan rakyat.

Pola-pola kepemimpinan seperti itulah yang mustinya ada dan menjadi bagian dari kehidupan pemimpin baru, agar dengan sendirinya masyarakat tidak takut berhadapan dengan pemimpin, karena berbagai sikap otoritas dan birokrasi yang menyulitkan.

Kita berharap, siapapun calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang terpilih pada 27 Juni mendatang, apakah Said Assagaff-Andreas Rentanubun, Murad Ismail-Baranabas Orno ataukah Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath adalah berada ditangan rakyat. Rakyat memiliki otoritas untuk menentukan. Dan hak pilihan rakyat tidak boleh dikebiri atau sebaliknya ditekan.

Siapapun pemimpin yang terpilih nantinya, dia adalah Gubernur Maluku, pemimpin baru bagi masyarakat Maluku yang sangat diharapkan bisa membawa perubahan kedepan, sehingga Maluku semakin baik, tingkat kesejahteraannya meningkat. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon