Visi ›› Mengawal Jaksa di Terminal Transit

Mengawal Jaksa di Terminal Transit


Proses penyelidikan proyek mangkrak terminal transit Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon terus

bergulir. Selain saksi-saksi, tim penyelidik Kejati Maluku juga mengagendakan pemeriksaan fisik proyek.

Sejumlah pihak telah dipanggil untuk diperiksa minggu ini. Berapa jumlah dan identitas mereka dirahasiakan Kejati Maluku dengan alasan kepentingan penyelidikan. Begitupun dengan agenda pemeriksaan fisik proyek yang telah menguras anggaran Rp 55 miliar itu, jadwalnya juga masih dirahasiakan.

Dari rangkaian pemeriksaan, indikasi ketidakberesan dalam proyek yang dibangun sejak tahun 2007 itu mulai terungkap. Salah satunya, perencanaan yang amburadul. 

Proyek terminal transit Passo dibangun dengan tujuan antara lain, untuk mengalihkan semua angkutan kendaraan dalam provinsi guna mengu­ra­ngi tingkat kemacetan di pusat Kota Ambon, dan membuka sentra ekonomi baru. Tetapi faktanya, pembangunan tidak difokuskan pada fasilitas utama dan pendukung terminal, namun justru pekerjaan ruko yang dikebut. 

Dalam Peraturan Menteri No­mor 132 tahun 2015 tentang penyelenggaraan terminal pe­numpang angkutan jalan su­dah dijelaskan soal fasilitas utama dan penunjang. Pada  pa­sal 21 ayat 1 disebutkan, fasi­litas utama diantaranya fa­silitas keberangkatan, kedata­ngan, ruang tunggu, parkir ken­daraan, pengelolaan lingku­ngan hidup, fasilitas penggu­naan teknologi, pengawasan keselamatan, dan media infor­masi.

Sementara fasilitas umum, sesuai pasal 21 ayat 3 diantaranya toilet, fasilitas park and ride, dan fasilitas kebersihan. Coba lihat fakta di lapangan, apakah fasilitas utama dan pendukung menjadi prioritas?. Karena itu, wajar kalau muncul dugaan publik kalau mega proyek terminal transit  Passo dirancang lebih berorientasi proyek, sehingga tujuan uta­ma dari pembangunan terminal itu tidak tercapai. Sebab yang dikejar adalah provit.

Ketidakberesan dalam pe­rencanaan proyek terminal transit Passo juga telah diung­kap oleh Yan Hurse­puny, staf Inspektorat Kota Ambon saat diperiksa tim penyelidik Kejati Maluku.  Hursepuny cukup paham soal proyek itu, karena saat itu ia menjabat ketua tim pe­ngecekan tahun 2012.

Publik berharap langkah hukum Kejati Maluku tetap profesional. Tidak melindungi siapapun. Janji untuk memeriksa bos PT Reminal Utama Sakti, Amir Gaos Latuconsina harus segera dilakukan agar tidak muncul prasangka publik bahwa ada yang dilindungi. Amir tak bisa lolos dari pemeriksaan karena dari awal hingga mangkraknya proyek yang dibangun di atas lahan 5 hektar itu, dikuasai oleh dia. 

Tak jelas, mengapa pekerjaan proyek dengan anggaran jumbo itu hanya diberikan kepada satu orang. Apa memang PT Reminal Utama Sakti lebih memenuhi persyaratan, ataukah memang sudah di-setting?, publik menunggu gebrakan Kejati Maluku untuk membongkarnya.

Kasus terminal transit Passo sejak tahun 2016 sudah diusut oleh Kejari Ambon. Bukti-bukti du­gaan ketidakberesan sudah dikantongi anak buah Robert Ilat, tetapi tiba-tiba diambil alih oleh Kejati Maluku de­ngan alasan mandek. 

Publik tetap mengawal dan berharap, penanganan kasus ini di tangan Kejati Maluku berjalan lancar, transparan dan tidak tebang pilih. Penyelidikan awal oleh Kejari Ambon setidaknya telah membuka jalan untuk mempermudah tim Kejati Maluku masuk lebih dalam untuk membongkar borok yang tersembunyi. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon