Budaya ›› Menduniakan Tradisi "Pukul Sapu"

Menduniakan Tradisi "Pukul Sapu"


Atraksi budaya “pu­kul sapu” (saling memukul dengan menggunakan lidi/batang enau) di Negeri Ma­mala Kabupaten Malteng, yang berlangsung, Minggu (2/7). Ribuan warga mem­banjiri desa tersebut untuk menyaksikan ritual yang digelar setiap 7 Syawal  atau tujuh hari setelah umat Mus­lim merayakan Idul Fitri.

Atraksi budaya “pukul sapu” tersebut diperaga­kan oleh 40 - 60 orang pemuda berbadan tanggung dan bertelanjang dada. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok hanya dibeda­kan warna celana dan ikat kepa­lanya. Kelompok pertama berce­lana dan berikat kepala merah, sedangkan lawannya bercelana dan ikat kepala putih.

Sehari sebelum ritual adat dilang­sungkan para pemuda yang akan mengikutinya telah dikum­pulkan di rumah adat masing-ma­sing untuk mengikuti upacara adat, serta berdoa meminta pertolongan serta restu Sang Pencipta dan pa­ra leluhur agar memberkati mereka.

Dengan memegang dua ikat batangan lidi mentah, kedua regu memasuki arena dan saling berha­dapan. Mereka menunggu bunyi peluit yang ditiup pimpinan adat untuk memulai pertarungan. Saat peluit berbunyi kelompok bercelana merah lebih dulu memukul lawan­nya yang bercelana putih.

Begitu pun sebaliknya saat se­ruling dibunyikan, giliran kelompok bercelana putih menyerang dan memukul kelompok bercelana merah. Masing-masing pemuda dengan menggunakan dua hingga tiga batang lidi (ukuran lebih besar dua kali lipat dari sapu lidi biasa) memukul berkali-kali dengan sekuat tenaga ke arah badan lawannya. Area pukulan dibatasi dari dada hingga perut.

Sabetan lidi yang mengenai badan lawan mengeluarkan bunyi cukup keras menyerupai lecutan cambuk. Dalam hitungan dua atau tiga sabetan batang lidi yang digunakan sudah hancur.

Pukulan lidi berkali-kali menyebabkan guratan merah memanjang sekujur tubuh para pemain. Kebanyakan mengeluarkan darah segar, terkadang potongan batangan lidi turut tertancap pada kulit dan luka di tubuh mereka. Namun, tidak sedikit pun terlihat atau terdengar erangan dan jeritan kesakitan para pemain akibat sabetan lidi. Sebaliknya mereka ketagihan untuk dipukul berulang kali.

Tidak jarang warga yang berada terlalu dekat di arena juga terkena cambukan batang lidi para pemain sehingga ha­-rus meringis kesakitan. Warga yang menyaksikan atraksi tersebut dari pinggir lapangan dibuat ngeri. Banyak yang berteriak histeris menyaksikan aksi “baku pukul” itu.

Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa setempat membangun Masjid. Ihwal cerita, usai perang Kapahaha (1637-1646), rakyat Mamala diperintahkan oleh Belanda untuk turun dari Gunung (Negeri Mamala Lama) dan mendirikan kampung di pesisir bersama masjid agar mudah diawasi.

Saat membangun mesjid warga kesulitan menyambung kayu-kayunya menyebabkan pekerjaannya terbengkalai. Imam Tuni (seorang tokoh agama saat itu) kemudian melakukan puasa selama beberapa hari untuk memperoleh petunjuk yang diberikan dalam mimpinya saat tidur.Dalam mimpinya, Imam Tuni disuruh menyambung kayu-kayu tersebut dengan menggunakan minyak “Nyualaing Matetu” atau yang lebih dikenal dengan minyak “Tasala” (keseleo-red). Minyak ini kemudian digunakan untuk membasahi potongan kain putih yang digunakan menyambung kayu yang digunakan untuk membangun masjid.

Hal ini dapat dibuktikan saat pembongkaran mesjid tua di Desa itu, di mana ditemukan potongan kain putih pada setiap sambungan kayu dan tiang dan tidak menggunakan “Ping” atau paku. Satu-satunya kayu yang menggunakan paku adalah Tiang Alif pada mesjid tua itu.

Minyak tersebut oleh kalangan masyarakat di Ambon atau Maluku pada umumnya lebih dikenal dengan sebutan “minyak Mamala”. Khasiat minyak ini memang terbukti ampuh untuk mengobati penyakit patah tulang dan keseleo.

Untuk membuktikan keampuhannya ini, maka dilakukan ujicoba pemukulan dengan menggunakan batang lidi mentah pohon aren. Hasilnya ternyata luka akibat tersabet lidi tersebut menjadi sembuh setelah dioles minyak “Nyualaing Matetu”.

Minyak inilah yang akhirnya digunakan untuk mengobati luka para peserta yang mengikuti tradisi pukul sapu. Hanya dalam tempo dua atau tiga hari luka tersebut akan mengering dan tidak meninggalkan bekas.

Keberhasilan ini kemudian dirayakan dengan memilih waktu tepat berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW untuk dilaksanakan yakni hari raya ketujuh atau 7 Syawal setelah Idul Fitri dengan tradisi Pukul Sapu.

Acara tradisi Pukul Sapu di Mamala Minggu (2/7) dihadiri oleh Gubernur Maluku Said Assagaff dan Kapolda Maluku Irjen Deden Djuhara bersama sejumlah pejabat.

Sementara di waktu yang bersamaan, acara Pukul Sapu juga dilakukan di Negeri Morela, yang bertetangga dengan Mamala.

Pukul Sapu di Morela dihadiri oleh Wagub Zeth Sahuburua, Komandan Korps Brimob Irjen Murad Ismail, Pangdam XVI Pattimura Mayjen Doni Monardo, Wakapolda Brigjen Daniel Pasaribu dan sejumlah pejabat TNI dan Polri.

“Saya di undang oleh panitia Mamala Morela untuk hadiri acara pukul sapu dan setelah dari Morela mampir ke Rumah Raja Mamala  dan sekaligus makan malam bersama di sana,” ujar Murad kepada Siwalima.

Tradisi pukul sapu kedua negeri ini menurut mantan Kapolda Maluku ini, agar tetap di jaga dan dilestarikan sebgaai warisan budaya leluhur.

“Ini sebagai warisan budaya leluhur harus dilestarikan oleh generasi muda mempererat persatuan. Terlebih lagi keamanan dan ketertiban masyarakat harus tetap di jaga. Atraksi budaya ini kedepan harus tetap dipertahankan dan dijadikan sebagai objek wisata sehingga orang-orang bukan saja di daerah tetapi luar Maluku bisa datang menyaksikan dan sekaligus menjadi kalender wisata,” ungkapnya. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon