Visi ›› Masa Depan Jurnalisme

Masa Depan Jurnalisme


Perubahan dahsyat dewasa ini sedang mengepung industri pers dan-seiring dengan itu juga- jurnalisme. Kini, komunitas pers sudah lebih beragam.

Lebih beragam bukan saja karena medium berbeda, tetapi juga karena genre dan orientasi yang dipilih juga beragam. Dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi menjadi penggerak utamanya.

Dari sisi masyarakat, dinamisme pers memberi pilihan menyenangkan. Ibaratnya, mau mendapat berita jenis apa, dan akan diperoleh dengan medium apa, termasuk di mana dan kapannya, semua demikian fleksibel.

Tantangan lebih berat justru ada dalam industri media dan praksis jurnalismenya. Dari sisi industri, analis industri media mencatat adanya sejumlah perkembangan baru. Misalnya saja terkait dengan makin nyatanya grup industri pers yang lebih bersosok multimedia, yang didukung oleh penerbitan cetak, radio, televisi, dan online (dalam jaringan atau daring).

Perkembangan ini tentu saja memunculkan pertanyaan, yang sebenarnya sudah cukup lama kita dengar, misalnya bagaimana dengan kelanjutan bisnis media cetak. Kita yakin, isu ini pula yang akan menjadi salah satu tema utama perayaan Hari Pers Nasional di Palembang 9 Februari.

Dari sejumlah konferensi internasional tentang media muncul pandangan, meski ada gelombang besar perubahan, media konvensional khususnya koran masih tetap memiliki harapan untuk tetap eksis. Hanya saja, media cetak harus pintar-pintar merespons dinamika perubahan yang ada.

Sebagaimana disinggung dalam tulisan pakar teknologi informasi Onno Purbo tentang dunia internet, dewasa ini yang sedang menjadi tren adalah berita atau konten yang dibangkitkan oleh konsumen (atau pengguna media daring dalam jagat internet). Fakta itu kiranya juga disadari oleh pengelola media cetak sehingga pandangan editors know best tidak tepat lagi, demikian pula kebijakan redaksional berciri top-down, satu arah.

Berikutnya, dari sisi jurnalisme sendiri juga sudah muncul tren baru. Jurnalisme warga, yang mencerminkan jurnalisme partisipatif, semakin kuat sosoknya. Dan Gillmor dalam bukunya, We, the Media, menyebut istilah grassroot journalism, by the people, for the people.

Merangkul media baru juga satu keniscayaan karena daya dan pengaruhnya semakin besar. Pembelaan terhadap Prita, Bibit-Chandra, juga dorongan bagi pengungkapan tuntas kasus Bank Century, adalah beberapa contohnya.

Pengguna media baru juga terus bertambah, terutama didorong oleh makin dewasanya generasi digital, yang cara mendapatkan beritanya lebih bertumpu pada gadget daripada media konvensional. Sebagai generasi yang diistilahkan grown-up digital, mereka juga menulis blog, melahirkan apa yang disebut peer-to-peer journalism. Ini memberi tantangan serius terhadap media arus utama, juga terhadap redaktur dan reporternya.

Komunitas pers sungguh mendapat banyak menu refleksi ketika merayakan Hari Pers Nasional kali ini.



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon