Hukum ›› Lokasi PT BPS Dipolice Line

Lokasi PT BPS Dipolice Line


Ambon - Tim Tipidter Bareskrim Ma­bes Polri memasang police line di lokasi peng­olahan emas milik PT Buana Pratama Sejahtera (BPS) di Wasboli, Keca­matan Teluk Kayeli, dan juga lokasi pasir emas di Sungai Anahoni, Kabu­paten Buru. 

Langkah ini dilakukan berkaitan dengan penyidi­kan dugaan tindak pidana pertambangan dan pen­cucian uang, yang meli­bat­kan perusahaan tersebut.

Wakapolres Pulau Buru, Kompol Bachri Hehanussa yang dikonfir­masi Siwalima, Selasa (4/12) mem­benarkan hal itu.

Namun ia belum dapat mem­berikan informasi lebih lanjut karena tidak ikut menyertai rom­bongan dari Mabes Polri. “Pak Kapolres yang tadi ikut dampingi tim Dari Mabes Polri ke PT BPS,” jelasnya.

Pantauan Siwalima, tim Tipiter Bareskrim Mabes Polri tiba di Wasboli pada Selasa (4/12) pukul 09.30 WIT, dan meninggalkan lokasi tersebut pada 11.47 WIT. Tim itu dipimpin seorang perwira tiga melati, Muhammad Agus Budiono.

Ia membawa anak buahnya se­banyak lima personil dan juga turut serta ASN dari Kantor Kementerian ESDM dan Kementrian LH dan Kehutanan berjumlah lima orang.

Sebelum menuju Wasboli dan Anahoni, Kombes Muhammad Agus Budiono berkoordinasi de­ngan Kapolres Pulau Buru, AKBP Ricky Permana Kertapati. Kemu­dian rombongan bertolak ke TKP menggunakan speedboat lewat Teluk Kayeli.

Sementara dari Polres Pulau Buru, selain kapolres, turut ber­sama tim Kasat Reskrim AKP Senja dan sejumlah personil poli­si, termasuk satu peleton brimob.

Saat rombongan Kombes Mu­ham­mad Agus Budiono tiba di kamp PT BPS di Wasboli, mereka hanya diterima salah satu penge­lola teknik bernama Risno Djajaa Tmadja dan beberapa karyawan perusahaan itu.

Sementara Direktur PT BPS, Fakrie tidak terlihat berada di sana. Fakrie sendiri sejak muncul kasus bahan kimia merek Jhin Chan yang dipakai BPS untuk mengolah emas, tidak pernah lagi nongol di sana.

Setelah tiba di TKP Kombes Mu­hammad langsung memimpin per­sonil kepolisian untuk memasang police line. Salah satu anak buah­nya, Kompol Eka Sunanda sempat memberitahu kepada pihak PT BPS kalau akan dipasang police line di beberapa lokasi.

Ia mengingatkan pihak PT BPS agar tidak lagi beraktivitas, setelah police line dipasang.

 ”Ada beberapa tempat yang akan kami police line dan kami harapkan dengan apa yang sudah kami police line, jangan ada yang beraktifitas di areal tersebut,” tandas Eka Sunanda.

“Apabila tetap melaksanakan aktivitas, maka itu sudah menyalahi aturan hukum. Biar yang kami pasang hanya pita kuning, itu semua ada hukumnya,” tandasnya lagi.

Tim lalu memasang police line di beberapa aset milik PT BPS, antara lain gudang pembakaran karbon hasil pengolahan emas atau pemurnian emas, stok file, bak air dan bak pengolahan metode rendamam, alat berat exsavator, doser dan tempat galian pertama PT BPS di  Sungai Anahoni.

Selama berada di Wasboli dan Sungai Anahoni, tim juga mela­kukan pemotretan lewat udara dengan menggunakan drone.

Sebelum kembali, tim membuat surat tanda terima barang bukti antara PT BPS dan Tipiter Bareskrim Mabes Polri.

Dari surat itu mulai terungkap, kalau tim Tipiter Bareskrim Mabes Polri ini hadir di sana terkait de­ngan dugaan tindak pidana per­tambangan dan dugaan tindak pidana pencucian uang yang di­lakukan pihak PT BPS di tambang emas Gunung Botak.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat yang dikonfirmasi juga mengakui, Kantor PT BPS dan beberapa aset peru­sahaan sudah dipasang police line oleh tim Tipidter Mabes Polri.

“Sudah dipolice line. Orang-orang di BPS juuga sudah diperiksa,” kata Ohoirat.

Ohoirat mengatakan, dengan pemasangan police line itu, maka PT BPS tidak boleh lagi ber­aktivitas.  “Jadi tidak boleh berakti­vitas.  Personil tetap pantau,” tan­dasnya. (S-31/S-32)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon