Kriminal ›› Latu-Hualoy Tegang, Pemkab SBB Jangan Diam

Latu-Hualoy Tegang, Pemkab SBB Jangan Diam


Ambon - Ketua Faksi Demokrat DPRD Maluku Marcus Pentury meminta Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat jangan hanya diam. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menyelesaikan ketegangan antara warga Latu dan Hualoy.

Perselisian dua kampung berte­tangga ini bukan baru pertama, namun sudah sering terjadi.

“Menyelesaikan masalah di dua negeri ini butuh penanganan yang komperhensif oleh Pemkab SBB,” kata Pentury kepada Siwalima, Selasa (7/5).

Menurutnya, ada beberapa opsi yang bisa ditawarkan oleh pemerintah guna menyelesaikan konflik antar kedua desa.

“Bisa dilakukan pendekatan secara kultur budaya apalagi kedua negeri merupakan negeri adat,” ujar Pentury.

Jika akar masalah tidak diselesaikan secepatnya, kata Pentury, masalah akan terus berlarut-larut.

“Jadi tidak selain masalah ini harus diproses secara hukum, pemkab juga bisa melakukan pendekatan secara adat supaya masalah tidak diper­panjang,” tandasnya.

Sebagai anak adat, ia menilai, Pemkab SBB lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan konflik Latu-Hualoy.

“Pemkab SBB harusnya bisa menyelesaikan masalah ini secara persuasif,” ujarnya.

Memanas

Seperti diberitakan, situasi di Desa Hualoy dan Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat memanas, pasca penganiayaan terhadap Syamsul Lussy, warga Hualoy hingga  tewas Sabtu (4/5) sore.

Korban diparangi oleh sejumlah orang yang diduga warga Desa Latu. Ia dibantai di depan istri dan anaknya.

Aparat TNI dan Polri bergerak cepat untuk mengantisipasi bentrok antar kedua warga desa bertetangga itu. Perbatasan kedua desa dijaga ketat.

Lalu Lintas Lumpuh

Arus lintas jalan trans lintas Seram yang menghubungkan transportasi dari arah Bula, Kabupaten SBT, Kabupaten Maluku Tengah dari dan ke dermaga Feri Waipirit-Hunimua, Pulau Ambon lumpuh.

Warga Hualoy, Minggu, (5/5) pagi menutup jalan tersebut dengan melakukan pengecoran.

Pengecoran jalan raya lintas Seram ini dilakukan warga Hualoy, buntut dari penganiayaan secara sadis oleh puluhan warga Latu terhadap warga Hualoy Syamsul Lussy hingga tewas bersimbah darah di atas aspal jalan lintas Seram.

“Ini dilakukan warga untuk meminta kepada aparat kepolisian dan TNI, agar segera menangkap para pelaku dalam waktu 1 x 24 jam,” tandas Wahab Lussy, warga setempat.

Selain itu, warga juga memampang satu buah tripleks berukuran besar di atas beton dan bertuliskan hadirkan, Gubernur, Kapolda, Pangdam, Bupati dan Dandim Masohi.

“Warga menuntut demikian. Karena kondisi ini harus diredam, karena sudah terlalu emosional dengan tindakan biadab yang dilakukan oleh pelaku pembantaian adik saya. Dalam 1 kali 24 jam, mereka harus hadir. Pelaku segera ditangkap, dan diproses hukum dengan tegas,” tandas Lussy.

Warga Desa Latu dan Hualoy, sebelumnya terlibat bentrok pada Rabu, 20 Februari 2019. Bentrok yang terjadi sekitar pukul 09.00 WIT itu, mengakibatkan 4 ge­dung sekolah dibakar, 1 orang tewas dan tiga orang mengalami luka-luka.

Belum Ditangkap

Para pelaku penganiayaan Syamsul Lussy, warga Hualoy hingga tewas belum juga ditangkap. Warga Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat hingga kini masih memblokade jalan.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Muhammad Roem Ohoirat mengaku, polisi sudah mengantongi identitas para pelau. Namun masih menunggu waktu yang tepat untuk diciduk.

“Pelaku sudah terdeteksi, untuk jumlah kita belum bisa publikasikan, tinggal menunggu waktu saja untuk diamankan karena situasi belum memungkinkan,” kata Ohoirat, kepada wartawan di Polda Maluku, Senin (7/5).

Menurutnya, situasi di Desa Latu dan Hualoy kondusif. Sebanyak 180 personil gabungan TNI dan Polri disiagakan di dua desa tersebut.

“Situasi saat ini sudah kondusif, dan untuk antisipasi saat ini 180 personil gabungan yakni BKO Brimob, BKO TNI 711, dan personil Polres Malteng disiagakan di ke dua desa,” jelas Ohoirat.

Untuk membuka blokade jalan, lanjut Ohoirat, pihak TNI telah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten SBB untuk mengadakan pertemuan dengan kedua desa.

Ohoirat mengakui, penganiayaan terhadap korban Syamsul Lussy merupakan akumulasi dari bentrok sebelumnya yang terjadi antara kedua desa. Namun proses hukum ter­kendala, karena warga tidak kooperatif untuk memberikan keterangan se­bagai saksi.

“Kita komitmen untuk selesaikan kasus lama terkait kedua desa, namun permasalahannya kita kesulitan mendapat keterangan saksi, karena dua desa tidak mau menjadi saksi terkait kejadian kejadian yang terjadi,” ujarnya. (S-39)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon