Hukum ›› La Masikamba Berbohong, KPK Geram

La Masikamba Berbohong, KPK Geram


Ambon - Kendati semua bukti kejahatan sudah dibeberkan, namun La Masikamba masih saja mengelak. Hal ini memantik amarah jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Takdir Suhan dan A. Haris.

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa (12/3), JPU KPK meminta mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Ambon ini, tidak berbelit-belit dan mempersulit proses persidangan kasus suap pajak dan gratifikasi.

“Kami minta saksi tidak usah ngeles, karena kami punya bukti-bukti terkait keterlibatan saksi dalam perkara ini. Jadi kami minta saksi berkata jujur dan terbuka saja, se­hingga membantu proses persi­dangan kasus ini,” tandas jaksa mengingatkan, La Masikamba.

La Masikamba yang juga terdakwa dalam kasus ini dihadirkan jaksa KPK sebagai saksi mahkota terha­dap terdakwa mantan supervisor KPP Pratama Ambon, Sulimin Ratmin.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim yang diketuai Pasti Tarigan, didampingi Jenny Tulak, Felix R. Wuisan, Bernad Panjaitan dan Jefri Sefta Sinaga sebagai hakim anggota, La Masikamba mengakui, menerima uang dari pemilik CV. Angin Timur Anthony Liando pada Juni-Agustus sebesar Rp 670 juta. Uang tersebut diberikan secara bertahap oleh Anthony Liando.

Dimana Rp 100 juta diserahkan tunai di ruang kerjanya, La Masi­kamba, Rp 20 juta diambil oleh supir La Masikamba di toko CV. Angin Timur dan Rp 550 juta ditransfer ke rekening BNI milik Muhammad Said.

La Masikamba membantah, uang yang diberikan itu adalah uang suap, namun pinjaman.

“Jadi uang yang diberikan pemilik CV. Angin Timur, Anthony Liando itu bukan uang suap, melainkan uang yang saya pinjam untuk keperluan pribadi saya, karena saat itu keluarga saya sedang operasi di Jakarta,” tutur La Masikamba.

La Masikamba juga mengaku, pernah diminta Anthony Liando untuk mengurus masalah pajak. Namun ia menolak membantu Anthony Liando, dengan alasan CV. Angin Timur termasuk salah satu dari 12 wajib pajak yang akan diperiksa Dirjen Pajak.

“Saya pernah diminta untuk mengurus masalah pajak milik CV. Angin Timur, tetapi saya menolak karena toko milik Anthony Liando masuk daftar pengusaha yang akan diperiksa Dirjen Pajak,” katanya.

Tampung

Pemilik rekening BNI Muhammad Said dalam kesakiannya mengakui, uang Rp 550 juta dan Rp 7 miliar lebih ditampung di rekening­nya. Namun buku rekening miliknya itu, dipinjam dan dikuasai oleh La Masi­kamba sejak 2016.

“Saya tidak tahu dari mana uang-uang tersebut, karena buku rekening milik saya sudah dipegang terdak­wa, La Masikamba,” kata Muham­mad Said saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa, La Masi­kamba.

Said mengatakan, sempat melihat fisik uang Rp 550 juta yang dikirim ke rekeningnya tersebut. Karena saat mencairkan uang itu di Jakarta, ia menyerahkannya kepada saudara terdakwa.

“Jadi saya sempat lihat fisik uangnya karena memang saya yang cairkan. Namun setelah dicairkan uang itu langsung saya serahkan ke saudara terdakwa,” ujarnya.

Mendengar kesaksian, Mu­hammad Said ketua majelis hakim langsung mengingatkan saksi bahwa tindakan yang dilakukan saksi, termasuk dalam pasal 55 dan 56 turut serta melakukan kejahatan.

“Saksi sebagai seorang pengacara tentu paham, apa itu makna pasal 55 dan 56,” jelas hakim mengingatkan saksi.

Sementara terdakwa Sulimin Ratmin mengungkapkan, selama proses pemeriksaan pajak milik CV. Angin Timur, terdakwa La Masi­kamba kerap mengintervensinya agar mengurangi nilai pajak yang harus dibayar Anthony Liando.

“Sempat saya sampaikan kepada terdakwa bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, total tunggakan pajak yang harus dibayar CV. Angin Timur adalah Rp 1,037 miliar. Namun terdakwa menyuruh saya untuk mengurangi nilai pajak tersebut, agar kami bisa mendapatkan bonus dari pemilik toko Angin Timur,” beber­nya.

Pantauan Siwalima, terdakwa La Masikamba dan Sulimin Ratmin tiba di Pengadilan Tipikor Ambon, sekitar pukul 09.00 WIT dikawal lima anggota brimob bersenjata lengkap dibantu pengawal tahanan Kejari Ambon dan KPK.

Setelah turun dari mobil tahanan Kejari Ambon DE 7060 AM, kedua terdakwa langsung dibawa ke ruang sidang utama dengan tangan masih terborgol. Namun karena lampu padam, sehingga mereka kembali dibawa ke sel tahanan pengadilan.

Kemudian sekitar pukul 14.00 WIT, sidang kasus suap pajak dan gratifikasi digelar majelis hakim Pengadilan Tipikor. Namun sidang sementara berjalan, tiba-tiba lampu kembali padam sehingga sidang kembali diskorsing hingga pukul 16.00 WIT.

Setelah itu, sidang kembali digelar dan selesai sekitar pukul 18.30 WIT dan kedua terdakwa langsung dibawa kembali ke Rutan.

Eksekusi

Jaksa KPK telah mengeksekusi pemilik CV. Angin Timur, Anthony Liando ke Lapas Klas II Ambon, pada Senin (11/3).

Liando dieksekusi berdasarkan putusan Pengadilan Tipikor Ambon yang sebelumnya menghukumnya dengan pidana penjara tiga tahun penjara.

KPK Ungkap

Sebelumnya La Masikamba dan Sulimin Ratmin menjalani sidang perdana sebagai terdakwa kasus suap pajak di Pengadilan Tipikor Ambon, Selasa (19/2).

Dalam sidang dengan pembacaan dakwaan itu, tim JPU KPK, meng­ungkap dua nomor rekening yang menampung uang suap dan grati­fikasi yang diterima oleh La Masi­kamba dari sejumlah wajib pajak.

Dua rekening Bank Mandiri itu, yaitu Nomor 15200 15265693 atas nama Muhammad Said dan Nomor 160000 2185698 atas nama Sujarno. Total uang suap yang diterima La Masikamba dari bos CV. Angin Timur, Anthony Liando sebesar Rp 670 juta. Sedangkan Sulimin Ratmin Rp 120 juta.

Uang yang diterima dari Januari 2016 hingga Oktober 2018 itu, sebagai kompensasi untuk menu­runkan nilai pajak Anthony.

Gratifikasi

Selain itu, JPU KPK, Febby Dwiyandospendy dalam dakwa­annya menyebutkan, La Masikamba juga menerima gratifikasi dari sejumlah pengusaha selama dua tahun, terhitung sejak 2016 hingga 2018 sebesar Rp 7.475.950.000.00.

Beberapa pengusaha atau wajib pajak itu diantaranya, Jhony de Quelju alias Siong, Bob Tanizaal, Oei Wanardy Jefry, dan Mece Tanihatu. Uang hasil gratfikasi itu ditampung di rekening bank Mandiri Nomor 1520015265693 atas nama Mu­hammad Said.

Jaksa KPK merincikan, pada tahun 2016 La Masikamba menerima uang Rp. 1.401,700,000,00, tahun 2017 Rp.4.479.250.000.00 dan tahun 2018 terdakwa menerima uang sebesar Rp.1.595.000. 000.00,

Selain menggunakan rekening milik Muhammad Said, sejak 22 Februari 2016 hingga 28 September 2018, La Masikamba juga menerima sejumlah uang secara bertahap dengan menggunakan rekening bank Mandiri nomor 1600002185598 atas nama Sujarno sebesar Rp 406 juta.  (S-49)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon