Daerah ›› Kongkalikong di Monumen Martha Christina Sudah Diresmikan Baru Ditender

Kongkalikong di Monumen Martha Christina


Ambon - Pembangunan monumen Martha Christina Tiahahu di Negeri Abubu, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Malteng meninggalkan aroma kolusi. Setelah diresmikan awal tahun ini, belakangan diketahui proyek tersebut sarat nuansa nepotisme dan kongkalikong.

Patung pahlawan nasio­nal asal Nusalaut mulai di­pasang di Pantai Abubu, pada 20 Desember 2017 dan diresmikan bersamaan dengan perayaan dua abad Martha Christina Tiahahu, 2 Januari 2018 lalu.

Setelah tujuh bulan ber­diri tegak di Abubu, baru diketahui kalau monumen yang dikerjakan di Bandung dan Cepu ini sama sekali belum ditenderkan. Dikutip dari laman layanan penga­daan secara elektonik (LP­SE) Provinsi Maluku, dike­tahui bahwa pembangunan monumen itu baru mau di­tenderkan. Bahkan tender­nya sendiri baru diumumkan 6 Agus­tus lalu.

Seperti dilansir www.lpse.maluku­prov.go.id, mereka yang beminat mengikuti tender dimaksud diha­ruskan untuk memasukan dokumen penawaran secara elektronik sejak tanggal 9 Agustus, diikuti oleh pembukaan dokumen penawaran empat hari sesudahnya, yaitu tanggal 14 Agustus 2018.

Selanjutnya item penetapan pe­menang dan pengumuman peme­nang akan dilakukan tanggal 16 Agustus. Sedangkan surat penunju­kan penyedia barang/jasa dan pe­nandatanganan kontrak baru akan dilakukan tanggal 23 dan 24 Agustus 2018.

Menyikapi kongkalikong di Dinas PU Maluku, Ketua Gabungan Peng­u­saha Konstruksi Air Indonesia (Gapkaindo) Maluku, Mochdar Latu­pono mengatakan, langkah kolusi antara Dinas PU Maluku dengan pengusaha tersebut, sangat berten­tangan dengan aturan.

Latupono juga heran atas sikap Dinas PU Maluku yang sengaja melakukan pembiaran terhadap proses tender dimaksud. Karenanya dia menduga ada keterlibatan orang dalam di proyek ini.

“Coba aja ditelusuri, pasti ada ke­terlibatan orang dalam. Tidak mung­kin tidak,” ujarnya kepada Siwa­lima, kemarin (9/8).

Ditanya siapa yang dimaksud dengan “orang dalam” itu, Latu­pono mempersilahkan Siwalima untuk ikut mencaritahu. “Koq nanya lagi? Orang dalam itu tentu mereka yang berkuasa. Masa mereka yang di luar bisa mengaturnya? Wartawan pasti lebih tahu lah,” tambah dia.

Mengingat kasus ini sudah dika­te­gorikan sebagai persekongkolan jahat, Latupono meminta aparat penegak hukum untuk segera serius menanganinya.

“Ini jelas-jelas per­sekongkolan. Jangan tunggu lama, aparat penegak hukum harus segera bertindak,” pinta Latupono.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Kons­truksi Indonesia (Aspekindo) Ma­luku, Jopi Waas. Ia mengatakan pro­yek pembangunan monumen pahla­wan Martha Christin Tiahahu sarat kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN).

“Jika proyek itu baru ditenderkan, ini kejahatan. Tidak bisa dibiarkan seperti ini. Ada unsur KKN di situ. Ini pelanggaran,” ujar Waas.

Dinas PU Berkilah

 PPTK Prasarana dan Prasarana Umum  Bidang Cipta Karya Dinas PU Maluku Mario Ch. Frans yang dikonfirmasi Siwalima di ruang kerjanya, Kamis (9/8) membenarkan ada lelang untuk pembangunan patung Christina Tiahahu senilai Rp.3.227.800.000. Tetapi ia berkilah, kalau dokumennya itu pekerjaan sarana dan prasarana pendukung.

“Jadi memang namanya lelang pembangunan patung Martha Christina Tiahahu namun dokumen le­langnya itu sarana dan prasarana pendukung seperti taman, pendis­tian untuk pejalan kaki dan pagar serta pot bunga di sekitar patung,” kata Frans.

Dirinya mengakui kalau proses pembangunan patung telah selesai dikerjakan pada tahun 2017 lalu dengan anggaran Rp 7,5 miliar dan sekarang melengkapi sarana dan prasarana.

“Ini kita melengkapi sarana pendukung di kawasan patung sehingga bisa menjadi tempat santai masyarakat atau spot wiasata,” kata Frans, berkilah.

Sementara, Kepala Dinas PU Ma­luku, Ismail Usemahu yang dihubu­ngi tak mengangkat teleponnya.

Resmikan

Monumen Martha Christina Tia­hahu diresmikan oleh Gubernur Said Assagaff, pada Selasa (21/1) sekali­gus merayakan dua abad perjuangan pahlawan nasional ini melawan penjajah.

Monumen setinggi 12 meter itu, ter­buat dari perunggu, dengan ti­nggi dudukan 4 meter, tinggi patung 6 meter, tinggi tombak 2 meter serta berat 2 ton.

Untuk pembuatan mo­numen  serta ruang terbuka hijau 800 meter persegi, pemprov melalui Dinas PU menghabiskan anggaran kurang sekitar Rp 7,5 milyar.  (S-39)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon