Visi ›› Kekerasan terhadap Wartawan

Kekerasan terhadap Wartawan


Kekerasaan terhadap jurnalis tampaknya masih saja terjadi di Maluku. Pihak-pihak yang merasa terganggu dengan tugas-tugas jurnalistik melakukan tindakan tidak terpuji dengan menerapkan kekerasaan cara-cara yang kasar. Padahal kerja jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Selain itu, didukung oleh Nomor 14 Tahun 2005 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).  Sayangnya pejabat publik di Maluku masih minim pemahamannya soal kerja jurnalis.

Tindakan kekerasaan dan intimidasi yang dilakukan pejabat publik kerap terjadi. Hal inilah yang dialami dua jurnalis Maluku, Sam Usman Hatuina  wartawan Rakyat Maluku, dan Abdul Karim Angkotasan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ambon.

Peristiwa penganiayaan dan intimidasi yang dilakukan Said Assagaff dan Husein Marasabessy terjadi di Rumah Kopi Lela, saat Assagaff yang adalah petahana bersama tim sukses beserta sejumlah pejabat di lingkup Pemprov Maluku tengah asyik ngopi sore

Sam kemudian mengabdikan gambar tersebut. Ternyata proses pengambilan gambar itu justru dilarang keras oleh Assagaff dan staf ahli Gubernur bidang Hukum dan Politik, Husein  Marasabessy. Marasabessy dengan sikap emosional menampar Ketua AJI Kota Ambon. Abdul Karim Angkotasan.

Pengambilan foto pejabat publik         di tempat umum, termasuk yang masih berstatus calon kepala daerah, adalah hak jurnalis yang dilindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Diancam dengan pasal 18, Tindakan menghambat atau menghalang-halangi tugas jurnalis diancam dengan pidana paling lama dua tahun penjara dan denda paling banyak 500 juta rupiah.

Publik tentu saja meyayangkan tindakan kekerasaan dan intimidasi yang dilakukan calon Petahana dan staf ahli Gubernur. Tindakan tersebut merupakan sebuah perbuatan tidak terpuji

Langkah jurnalis dengan melaporkan kasus tersebut ke Polda Maluku merupakan langkah yang tepat. Hal ini untuk memberikan efek jera agar tidak lagi terjadi tindakan-tindakan kekerasaan terhadap jurnalis.

Polda Maluku yang menanggani kasus ini diharapkan, bisa mengusut hingga tuntas  dan jangan terhenti ditengah jalan. Hukum tidak boleh tajam kebawah dan tumpul keatas. Siapapun orang baik pejabat ataukah tidak, itu sama didepan hukum. Karena itu harus juga diperlakukan sama.

Jurnalis tentu saja memberikan apresiasi bagi polisi yang sudah menindaklanjuti kasus ini dengan memeriksa sejumlah saksi, tapi jurnalis juga berharap, kasus ini bisa harus tuntas hingga ke pengadilan. Hukum harus ditegakan. Dan siapapun harus hormat dan tunduk pada hukum.

Intinya, stop kekerasaan terhadap jurnalis. intimidasi, tekanan, ancaman atau apapun bentuknya, sudah bukan zamannya lagi. Saat ini era keterbukaan informasi, sehingga tidak bisa lagi ditutupi. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon