Hukum ›› Kejari tak Lagi Usut Korupsi Baileo Siri Sori Amalatu

Kejari tak Lagi Usut Korupsi Baileo Siri Sori Amalatu


Ambon - Kejari Ambon tak akan lagi mengusut kasus dugaan korupsi pembangunan baileo Desa Siri Sori Amalatu, Keca­ma­tan Sapa­rua Timur, Kabupaten Maluku Tengah tahun 2016.

Tak lagi diusut proyek senilai Rp 350 juta itu, lantaran proses pembangunan sudah dilakukan dengan anggaran yang sempat diblokir oleh Balai Pelestarian dan Nilai Budaya Provinsi Maluku.

“Kita tak lagi mengusutnya, ka­rena setelah tim jaksa melakukan on the spot ternyata, ditemukan baileo tersebut sudah dibangun, dan setelah dikonfir­masi pemba­ngunan baileo itu masih meng­gu­nakan anggaran yang diblokir oleh pihak balai,” ungkap Kajari Ambon, Robert Ilat, kepada Siwalima, di ruang kerjanya, Kamis (12/4).

Ilat mengakui, proses pemba­ngunan baileo itu sempat tertunda karena, terjadi pro dan kontra dalam negeri, terkait dengan jenis kayu yang harus digunakan namun semuanya sudah selesai dan baileo sudah dibangun.

“Karena baileo sudah kembali dibangun dan menggunakan dana yang diblokir sehingga kita tidak lagi mengusutnya,” katanya.

Sebelumnya Kejari Ambon telah menyiapkan surat perintah penye­li­dikan. Pembangunan  Baileo Desa Siri Sori Amalatu diduga berma­salah. Anggaran Rp 320 juta telah dicairkan sejak tahun 2016, namun hingga kini baileo tidak dibangun.

“Sprinlik sementara kita siap­kan, jika sudah ditandatangani oleh Kajari maka akan dilanjutkan de­ngan peng­um­pulan data (pul­data) dan pengum­pulan bahan keterangan (pulbaket),” jelas Kasi Pidsus Kejari Ambon, Irwan Somba, kepada Siwalima, di ruang kerjanya, Selasa (16/1).

Tim Pidsus Kejari Ambon yang di­pimpin Irwan Somba sebelumnya sudah melakukan on the spot, pada Sabtu (21/10) tahun lalu, dan me­nemukan tidak ada pemba­ngunan  Baileo Desa Siri Sori Amalatu. “Kita sudah melaku­kan on the spot di Siri Sori Ama­latu, dan ada indikasi berma­salah dalam proyek pemba­ngunan baileo tersebut,” kata, Irwan Somba, kepada Siwal­i­ma, Sabtu (28/10).

Namun Somba enggan membe­berkan hasil on the spot tersebut dengan alasan kepentingan penye­lidikan. “Kita masih rampungkan hasil on the spotnya, tetapi kasus ini pasti akan ditindaklanjuti ke penyelidikan,” ujarnya.

Dugaan korupsi pembangunan Baileo Desa Siri Sori Amalatu masuk ke Kejari Ambon, Jumat (22/9) tahun lalu. Proyek yang diduga fiktif ini dilaporkan oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Siri Sori Ama­latu, Yapi Sahupala sekitar pukul 10.35 WIT.

Anggaran sebesar Rp 320 juta dicairkan tahun 2016 oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Budaya  Provinsi Maluku, namun hingga kini baileo tak dibangun.

“Kita sudah menyampaikan laporan ke Kejari Ambon, tadi  untuk meminta Kejari Ambon mengusut dugaan korupsi pemba­ngunan Baileo Siri Sori Amalatu dan laporan tersebut diterima langsung oleh Kepala Tata Usaha, Evi Leinussa,” kata Sahupala, ke­pada Siwalima, melalui telepon selulernya.

Sahupala berharap, Kejari Ambon sece­patnya mengambil langkah hukum berda­sarkan laporan yang telah disampaikan.

“Kami berharap Kejari bisa segera mengusutnya sehingga pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam proyek ini juga bisa mempertanggungjawabkanya se­cara hukum,” tandasnya.

Belum Dibangun

Mantan Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Budaya  Provinsi Maluku, Stevanus Tiwery, yang dikonfirmasi Siwalima, membe­narkan pembangunan baileo di Desa Siri Sori Amalatu belum dilakukan, padahal angga­ran Rp 320 juta dari total anggaran Rp 350 juta telah dicairkan.

“Kami sudah mentransfer anggaran sebesar Rp 320 juta ke rekening komu­nitas adat Desa Siri Sori Amalatu untuk pemba­ngunan baileo di sana dan sisanya Rp 30 juta masih ditahan sebagai biaya peresmian baileo tersebut,” ujarnya, me­lalui telepon selulernya, Minggu (17/9).

Tiwery menjelaskan, di tahun 2016 ada sebanyak 13 desa yang menerima bantuan pembangunan rumah adat atau baileo dan salah satunya adalah Desa Siri Sori Amalatu. Pembangunan di semua desa berjalan, hanya di Desa Siri Sori Amalatu yang belum dilakukan.

“Pembangunan baileo di 12 desa telah selesai hanya tersisa Desa Siri Sori yang belum sama sekali melakukan proses pembangunan, sehingga kita sudah mintakan kepada komunitas adat maupun raja setempat sudah segera merea­lisasikannya karena dari Rp 320 juta yang diberikan itu, Rp 120 juta diberikan kepada ketua komunitas dan Rp 200 juta diberikan kepada raja, dengan alasan ada surat pernyataan untuk segera mem­ba­ngun baileo tersebut, namun anggarannya masuk ke rekening pihak komunitas adat,” ujarnya.

Tiwery mengaku, pada bulan Agustus lalu pihak Direktorat Kebudayaan telah melakukan monitoring dan evaluasi ke Desa Siri Sori dan kedapatan jika pem­bangunan baileo belum dilakukan. “Sudah ada tim dari Direktorat Kebu­dayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mela­kukan monev di Desa Siri Sori dan mereka melihat secara langsung  di lapangan, namun hasilnya seperti apa, saya tidak mengetahuinya karena saya sudah pensiun sejak April lalu,” ujarnya.  (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon