Daerah ›› Kecam Pemkab SBB, Korban Banjir Bandang Ngamuk Simulasi Kontijensi di Desa Ety

Kecam Pemkab SBB, Korban Banjir Bandang Ngamuk


Piru - Korban banjir badang Desa Ety, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mengecam  pemkab setempat, karena dinilai lamban menangani masalah ratusan pengungsi yang terus mengalami penderitaan dan belum mendapatkan bantuan apapun.

Tindakan pengecaman tersebut dilakukan dengan cara melempari sekretaris daerah (Sekda) SBB, Mansur Tuharea dan sejumlah pimpinan Satuan Perangkat Daerah (SKPD) dilempari dengan air mineral, saat mengunjungi korban pengungsi di Desa Ety.

Melihat kondisi tak terkendali tersebut, Wakapolres SBB, Kompol Rivay Baharudin langsung melaku­kan aksi menenangkan para peng­ungsi yang lagi naik pitam akibat ketidakbejusnya Pemkab SBB dalam menangani masalah logistik bagi para pengungsi.

Tindakan pengecaman yang dilakukan oleh ratusan warga di Desa Ety terhadap Sekda SBB dan sejumlah pimpinan SKPD, hanyalah merupakan bagian dari skenario simulasi rencana kontijensi bencana banjir bandang yang terjadi di Desa tersebut.

Sebelum simulasi tersebut dilakukan, diawali dengan upacara yang melibatkan 200 peserta dari warga Desa Ety dengan beberapa sektor pembantu yang terdiri dari, sektor manajemen dan koordinasi, sektor kesehatan, SAR,  logistik, pemulihan sarana dan prasarana.

Pantauan Siwalima, masing masing peserta dan para pembantu melakonkan peran dengan serius hingga dramatisasi simulasi ben­cana berlangsung tegang.

Bunyi sirine pertanda datangnya bencana banjir bandang dan mobil evakuasi pengungsi, serta mobil ambulance yang mengantar korban banjir bandang melaju dengan cepatnya dipinggiran sungai Ety, membuat mata para penonton tak jua berkedip.

Kepanikan para pengungsi,  juga korban  luka ringan dan berat serta korban meninggal yang dirawat di  tenda sektor kesehatan, ada juga yang dirujuk langsung ke Rumah Sakit Umum Daerah Piru mengantar para penonton seakan-akan meng­alami sendiri  banjir bandang yang disimulasikan tersebut.

Ratusan orang  peserta antusias mengikuti kegiatan yang dise­leng­garakan oleh Badan Nasional Penang­gulangan Bencana (BNPB), bekerja­sama dengan Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) SBB.

Tampak  hadir Sekda SBB, Mansur Tuharea, Wakapolres, Kompol Rifai Baharuddin, pelaksana BPBD Arc­hiles Siahaya, Plt. Kesbang po­linmas,Saban Patty, Kadis Sosial Nakertrans Hanifa Hehanussa, Devisi Logistik BPBD Provinsi S. Gultom, BMKG Kairatu, J Haurissa serta sejumlah SKPD lainnya dan masyarakat Desa Ety, Morekau, Mata Empat Translok, Lumoly, Piru, Morekau, TNI/Polri, Satpol PP, Tagana dan Pers.

Sekda SBB, Mansur Tuharea mewakili Bupati SBB mengatakan, letak geografis dan kondisi geologis Kabupaten SBB menjadi salah satu daerah yang dianggap rawan ter­hadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan angin puting beliung.

Menurutnya, kompleksitas de­mografi  dan sosial ekonomi juga berpotensi terhadap bencana sosial, yang disebabkan oleh ulah manusia seperti konflik sosial. Minimnya sumber daya yang dapat menjadi ancaman terhadap bencana.

Kata dia, Pemkab SBB tidak akan mampu melakukan upaya pengu­rangan resiko bencana, atau penanggulangan bencana tanpa didukung oleh berbagai pihak.

UU No 24/2007 tentang penang­gulangan bencana, Pasal 5, 6 dan 8 menyebutkan, pemkab menjadi penanggungjawab dalam penye­lenggaraan penanggulangan ben­cana meliputi, pengurangan ben­cana, perlindungan masyarakat dan pengungsi, pemulihan kondisi dari dampak bencana, peng­alokasian anggaran dalam APBN dan APBD, pengalokasian dana siap pakai dan pemeliharaan arsip/dokumen oten­tik, serta kredibel dari ancaman dan dampak bencana serta pengurangan resiko bencana dalam program pembangunan daerah.

Paradigma penyelenggaraan kebencanaan khususnya, lanjutnya, lebih menitik beratkan pada pencegahan dan kesiap-siagaan yang merupakan upaya kesiapan semua unsur baik pemerintah, pemerintah daerah, instansi vertikal, swasta dan organisasi masyarakat secara terpadu, terkoordinasi dan sistematis secara menyeluruh agar efektif dan efisien.

Salah satu tanggungjawab yang harus dilakukan, kata dia, dalam kesiap-siagaan penanggulangan bencana adalah penyelenggaraan geladi lapangan. Ini penting guna menguji kemampuan instansi yang dilaksanakan di daerah bencana, yang mendekati situasi dan kondisi sebenarnya. (S-38)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon